Suara.com - Kekhawatiran mendalam kini menyelimuti wilayah Teluk Persia setelah munculnya peringatan keras dari otoritas diplomatik tertinggi Iran.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan pesan krusial mengenai risiko fatal yang mengintai akibat serangan terhadap fasilitas nuklir.
Ia menegaskan bahwa tindakan agresif yang terus berlangsung dapat memicu tragedi kemanusiaan melalui penyebaran zat radioaktif berbahaya.
Fasilitas nuklir Bushehr yang berada di pesisir barat daya Iran kini menjadi titik sentral kekhawatiran keamanan internasional
Serangan tersebut dinilai bukan sekadar aksi militer biasa, melainkan ancaman eksistensial bagi lingkungan hidup di kawasan.
Araghchi menyoroti bahwa dampak dari kebocoran radiasi tidak akan mengenal batas negara maupun kedaulatan wilayah.
Melalui pernyataan resminya, ia menekankan bahwa risiko paling besar justru berada di luar pusat ledakan tersebut.
“Ingat kemarahan Barat tentang permusuhan di dekat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia di Ukraina? … Israel-AS telah membom pembangkit Bushehr kami empat kali. Dampak radioaktif akan mengakhiri kehidupan di ibu kota negara-negara GCC, bukan Teheran,” katanya dikutip dari Al Jazeera.
Pernyataan ini merujuk pada potensi kehancuran yang bisa menimpa negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk.
Ia membandingkan reaksi dunia internasional yang cenderung pasif dibandingkan saat krisis nuklir terjadi di Eropa Timur.
Diplomat senior Iran tersebut mengecam keras sikap bungkam yang ditunjukkan oleh negara-negara Barat saat ini.
Ketidakaktifan pemerintah Barat dalam merespons agresi terhadap situs nuklir Iran dinilai sebagai bentuk ketidakadilan politik.
Padahal, perlindungan terhadap fasilitas energi atom merupakan prinsip yang seharusnya dijunjung tinggi secara global tanpa terkecuali.
Araghchi merasa ada ketimpangan narasi internasional dalam menyikapi ancaman keamanan energi nuklir yang dihadapi oleh negaranya.
Menurutnya, pembiaran terhadap aksi militer ini hanya akan memperparah situasi keamanan di Timur Tengah.