- Brigadir Jenderal Majid Khademi, kepala intelijen Garda Revolusi Iran, dilaporkan tewas dalam serangan AS dan Israel, Senin (6/4).
- Kematian Khademi terjadi menyusul tewasnya komandan Alireza Tangsiri dan Mohammad Kazemi akibat serangkaian serangan militer di wilayah Iran.
- Peristiwa ini menunjukkan tekanan besar terhadap struktur kepemimpinan militer IRGC di tengah eskalasi konflik dengan AS dan Israel.
Suara.com - Kepala Organisasi Intelijen Garda Revolusi Iran (IRGC), Majid Khademi dilaporkan tewas dalam serangan yang dikaitkan dengan operasi militer Amerika Serikat dan Israel.
Kabar tersebut diumumkan oleh media pemerintah Iran di tengah meningkatnya eskalasi perang AS-Israel vs Iran.
“Brigadir Jenderal Seyyed Majid Khademi telah gugur sebagai martir,” demikian pernyataan resmi Islamic Republic News Agency seperti dikutip dari BBC, Senin (6/4).
Namun, pihak militer Iran tidak merinci lokasi pasti tewasnya pejabat tinggi tersebut.
![Ilustrasi serangan Amerika Serikat dan Israel di wilayah pemukiman penduduk Iran. [Dok. Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/14/92016-serangan-as-israel.jpg)
Kematian Khademi terjadi hanya beberapa hari setelah Garda Revolusi Iran mengonfirmasi kematian komandan lainnya, Alireza Tangsiri.
Alireza disebut meninggal akibat luka parah setelah serangan di wilayah Bandar Abbas.
Media Iran menyebut Tangsiri tewas dalam serangan Israel yang menargetkan sebuah bangunan strategis.
Khademi sendiri diketahui menggantikan Mohammad Kazemi, yang juga dilaporkan tewas dalam serangan Israel pada 15 Juni 2025. Perubahan berulang di pucuk pimpinan intelijen IRGC menunjukkan tekanan besar yang dihadapi struktur militer tersebut.
Dalam struktur organisasinya, IRGC memiliki berbagai cabang, termasuk angkatan darat, laut, dan udara.
Garda Revolusi Iran juga mengawasi persenjataan strategis Iran yang menjadi pusat kekuatan militer negara itu.
Selain itu, IRGC mengoperasikan unit luar negeri bernama Quds Force yang bertugas mendukung kelompok sekutu di Timur Tengah. Unit ini diketahui memberikan bantuan berupa dana, senjata, dan pelatihan militer.
Sementara itu, Basij Resistance Force berada di bawah kendali IRGC sebagai kekuatan paramiliter domestik.