-
Pemuda Palestina bernama Ali Majed Hamadneh tewas ditembak pemukim Israel di Deir Jarir.
-
Serangan terjadi pasca persetujuan pembangunan 34 permukiman ilegal baru oleh pemerintah Israel.
-
Militer Israel dituding melindungi aksi kekerasan pemukim yang semakin meningkat di Tepi Barat.
Suara.com - Aksi penyerangan oleh kelompok pemukim Israel di Tepi Barat kembali memakan korban jiwa seorang pemuda Palestina.
Ali Majed Hamadneh yang baru berusia 23 tahun tewas akibat luka tembak dalam serbuan di Desa Deir Jarir.
Dikutip dari Al Jazeera, insiden berdarah ini terjadi tepat saat ketegangan di wilayah pendudukan mencapai titik didih akibat kebijakan ekspansi lahan.

Kekerasan sistematis ini bukan lagi sekadar gesekan warga, melainkan dampak langsung dari lampu hijau pemerintah sayap kanan.
Dunia internasional kini menyoroti bagaimana perlindungan militer memicu keberanian pemukim untuk menyerang warga sipil secara langsung.
Kementerian Kesehatan Palestina mengonfirmasi bahwa Ali tidak tertolong meski sempat dilarikan ke rumah sakit di Ramallah.
Berdasarkan keterangan medis, korban tiba di Kompleks Medis Palestina dalam kondisi yang sudah sangat kritis.
“Dia dibawa ke Kompleks Medis Palestina dalam kondisi kritis,” dan kemudian meninggal dunia akibat luka tembaknya, ungkap kementerian melalui Telegram.
Kematian pemuda ini menambah daftar panjang warga sipil yang gugur di tangan kelompok sipil bersenjata Israel.
Laporan resmi menunjukkan bahwa serangan dilakukan secara terorganisir dari akses masuk bagian barat desa tersebut.
Perlindungan Militer dalam Aksi Kekerasan
Kantor berita Wafa melaporkan bahwa para penyerang tidak bergerak sendirian melainkan didampingi oleh tentara resmi.
“Kolonis bersenjata, di bawah perlindungan pasukan Israel, menyerang Deir Jarir dari pintu masuk baratnya dan melepaskan tembakan ke arah penduduk di daerah tersebut,” lapor Wafa.
Hingga saat ini, pihak militer Israel masih memilih untuk bungkam dan tidak memberikan komentar atas insiden tersebut.
Kehadiran tentara di lokasi penyerangan memperkuat tuduhan adanya kolaborasi dalam menindas warga asli Palestina di sana.
Keadaan ini menciptakan pola impunitas di mana pelaku kekerasan jarang sekali mendapatkan konsekuensi hukum yang setimpal.
Tragedi ini meletus hanya berselang dua hari setelah Israel meresmikan pembangunan 34 titik permukiman baru.
Langkah provokatif tersebut langsung menuai kecaman keras dari Uni Eropa serta Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Otoritas Palestina menegaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan pelanggaran fatal terhadap hukum internasional yang berlaku secara global.
Di bawah kepemimpinan Benjamin Netanyahu, pembangunan permukiman ilegal tercatat mengalami lonjakan yang sangat drastis sejak 2022.
Setidaknya 102 permukiman baru telah disetujui, jumlah yang jauh melampaui rekor pemerintahan-pemerintahan Israel sebelumnya.
Kritik Internal dan Tekanan Internasional
Meskipun semua permukiman tersebut dianggap ilegal oleh dunia, pembangunan terus berjalan tanpa memedulikan protes diplomatik global.
Kekerasan di Tepi Barat semakin tidak terkendali sejak pecahnya konflik besar di Gaza pada akhir tahun lalu.
Bahkan tokoh-tokoh internal Israel mulai menyuarakan kegelisahan mereka terhadap perilaku brutal para pemukim di wilayah pendudukan.
Panglima militer Israel, Eyal Zamir, secara terbuka menyebut serangan-serangan tersebut sebagai tindakan yang tidak bisa diterima.
Zamir menegaskan bahwa aksi penyerangan terhadap warga sipil Palestina adalah tindakan yang “secara moral dan etis tidak dapat diterima”.
Kekerasan di Tepi Barat telah mengalami eskalasi tajam sejak Oktober 2023 seiring dengan konflik besar di Jalur Gaza.
Berdasarkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), serangan pemukim semakin mematikan terutama sejak keterlibatan konflik regional yang lebih luas pada awal tahun 2026.
Meskipun hukum internasional menyatakan seluruh permukiman Israel di Tepi Barat adalah ilegal, kebijakan pemerintah sayap kanan Israel justru terus mempercepat aneksasi lahan secara de facto melalui pembiaran kekerasan warga sipil terhadap penduduk Palestina.