Studi Ungkap Aspal dan Beton Memerangkap Panas, Kenapa Kota Jadi Kian Menyengat?

Bimo Aria Fundrika

Selasa, 14 April 2026 | 11:55 WIB
Studi Ungkap Aspal dan Beton Memerangkap Panas, Kenapa Kota Jadi Kian Menyengat?
Jalan raya perkotaan (Pinterest/Bella Donna)

Suara.com - Kota-kota besar tak lagi sekadar padat, tapi juga semakin panas. Fenomena pulau panas perkotaan membuat suhu di kawasan urban terasa lebih menyengat dibanding wilayah sekitarnya—dipicu dominasi aspal dan beton yang memerangkap panas, serta rapatnya bangunan yang menghambat sirkulasi udara dan memperparah kondisi.

Penelitian terbaru dalam jurnal Cities menunjukkan bahwa selain gedung pencakar langit dan lahan parkir, jalan raya turut memiliki peran yang signifikan sebagai penyebab utama peningkatan suhu lokal.

Dikutip dari laporan Phys.org, para peneliti mempelajari data suhu berbasis satelit sebelum dan sesudah 11 proyek perluasan jalan raya di San Francisco Bay Area. Ditemukan bahwa proyek infrastruktur tersebut menyumbang 70–88 persen dari peningkatan kesenjangan suhu di wilayah tersebut.

Professor of public policy, urban affairs and civil and environmental engineering di Northeastern University, Serena Alexander, menekankan bahwa dampak lingkungan dari material dan luas permukaan jalan perlu mendapat perhatian serius dalam perencanaan kota.

"Kita harus menyadari dampak-dampak ini dan di mana kita dapat mengurangi dampaknya," kata Alexander.

Relevansinya dengan Kondisi Jakarta

Kondisi di Amerika Serikat memiliki relevansi dengan tantangan pembangunan infrastruktur di Jakarta. Di AS, pembangunan jalan raya secara tradisional dipandang sebagai cara untuk mengurangi kemacetan dan menghubungkan komunitas. Begitu pula di Jakarta.

Data dari Greenpeace Indonesia menunjukkan bahwa laju pertumbuhan kendaraan di Jakarta jauh melampaui pertumbuhan penduduk, di angka 0,92%. Persentase kenaikan kendaraan sepeda motor mencapai 4,9 persen  dan mobil penumpang mencapai 7,01%. Angka jumlah kendaraan pribadi di Jakarta kini mencapai 20,2 juta unit, yakni 3,3 juta terdiri dari mobil dan 16,1 juta lainnya motor.

Masifnya penggunaan beton dan aspal pada infrastruktur untuk mengakomodasi volume kendaraan ini berpotensi memperparah efek pulau panas. Sejalan dengan hal tersebut, Greenpeace Indonesia secara konsisten menyoroti bahwa alih fungsi lahan yang terus dilakukan untuk pembangunan jalan raya justru sering kali mengabaikan kebutuhan krusial akan ruang bagi manusia.

Greenpeace menekankan pentingnya mengutamakan ketersediaan lahan untuk penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH), trotoar, fasilitas bersepeda, dan fasilitas umum lainnya, daripada terus menambah kapasitas jalan yang justru memicu ketergantungan pada kendaraan pribadi.

Target Net Zero Emissions dan Tantangan Ruang

Urgensi dari kondisi ini melatarbelakangi target Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mencapai Net Zero Emissions pada tahun 2050 di bidang transportasi. Program yang dicanangkan mencakup pengembangan jalur pedestrian, jalur sepeda, integrasi transportasi publik, serta target elektrifikasi 50% armada Transjakarta pada tahun 2025 dan elektrifikasi seluruh armada pada tahun 2030.

Jakarta mengalami tantangan pada ketersediaan lahan yang semakin terbatas. Oleh karena itu, integrasi antara upaya dekarbonisasi dan penataan ruang yang berbasis pada kebutuhan mobilitas berkelanjutan menjadi hal yang sangat penting.

Mitigasi Panas dan Pembaruan Kebijakan

Untuk menekan dampak suhu dari infrastruktur jalan, terdapat beberapa metode yang dipaparkan dalam penelitian tersebut, yakni pemanfaatan vegetasi dan penerapan cool pavement.

Alexander menjelaskan bahwa pembangunan zona hijau di sepanjang jalan raya, seperti penanaman rumput, semak, dan pepohonan, dapat memberikan naungan dan membuat jalan raya menjadi lebih tahan terhadap panas. Selain itu, menerapkan cool pavement yang dibuat dari modifikasi aspal dan beton, serta lapisan khusus mampu memantulkan energi matahari untuk menjaga jalan agar tetap lebih dingin.

Dari sisi regulasi, penelitian ini menggarisbawahi pentingnya meninjau ulang kebijakan lingkungan seperti National Environmental Policy Act (NEPA) dan California Environmental Quality Act yang diadopsi pada tahun 1970, karena keduanya masih merupakan upaya legislatif paling signifikan untuk mengatur di mana dan bagaimana jalan raya dibangun.

Mengingat saat ini teknologi memungkinkan pengukuran data suhu secara akurat melalui satelit, terdapat dorongan untuk memperbarui proses peninjauan lingkungan agar lebih relevan dengan kondisi dan data yang tersedia saat ini.

Langkah mitigasi yang diusulkan dalam penelitian ini dapat menjadi pelengkap dalam strategi besar kota, terutama Jakarta untuk menciptakan lingkungan yang lebih tahan terhadap perubahan iklim. Langkah memanfaatkan vegetasi peneduh di sepanjang jalur transportasi dan penggunaan material cool pavement adalah hal yang baik.

Penulis: Vicka Rumanti

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

7 Manfaat Jalan Kaki 30 Menit di Pagi Hari yang Bisa Dirasakan dalam Hitungan Minggu

7 Manfaat Jalan Kaki 30 Menit di Pagi Hari yang Bisa Dirasakan dalam Hitungan Minggu

Lifestyle | Selasa, 14 April 2026 | 08:47 WIB

Hemat Energi, Menhub Minta Kendaraan Kementerian Beralih ke Listrik

Hemat Energi, Menhub Minta Kendaraan Kementerian Beralih ke Listrik

Bisnis | Selasa, 14 April 2026 | 07:18 WIB

Industri Kendaraan Komersial Masih Hadapi Tantangan Meski GIICOMVEC 2026 Diklaim Sukses Besar

Industri Kendaraan Komersial Masih Hadapi Tantangan Meski GIICOMVEC 2026 Diklaim Sukses Besar

Otomotif | Senin, 13 April 2026 | 21:20 WIB

Terkini

Tragedi Jip Wisata Bromo: Rem Blong di Tikungan Letter S Wonokitri, Dua Orang Tewas

Tragedi Jip Wisata Bromo: Rem Blong di Tikungan Letter S Wonokitri, Dua Orang Tewas

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 22:38 WIB

Bahaya Gas N2O Whip Pink: Konsumen Alami Lumpuh Temporer hingga Kerusakan Saraf Tepi

Bahaya Gas N2O Whip Pink: Konsumen Alami Lumpuh Temporer hingga Kerusakan Saraf Tepi

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 22:33 WIB

Polisi Ungkap Kronologi dan Penyebab Sementara Ledakan PT MCCI Cilegon

Polisi Ungkap Kronologi dan Penyebab Sementara Ledakan PT MCCI Cilegon

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 22:26 WIB

Polemik Kurban Uang Negara: Dasar Hukum, Pandangan MUI, dan Alasan Pemerintah

Polemik Kurban Uang Negara: Dasar Hukum, Pandangan MUI, dan Alasan Pemerintah

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 21:32 WIB

Geger Eks Pegawai Sudin LH Jakpus Tewas Usai Diduga Lompat dari Jembatan Cawang

Geger Eks Pegawai Sudin LH Jakpus Tewas Usai Diduga Lompat dari Jembatan Cawang

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 20:33 WIB

Gen Z Lebih Berani dan Tak Kenal Takut Dibanding Generasi Orde Baru

Gen Z Lebih Berani dan Tak Kenal Takut Dibanding Generasi Orde Baru

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 20:13 WIB

Kejagung Seret Marcella Santoso ke Kasasi, Incar Pencabutan Izin Praktik Advokat

Kejagung Seret Marcella Santoso ke Kasasi, Incar Pencabutan Izin Praktik Advokat

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 19:58 WIB

Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik

Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 19:50 WIB

MAKI Desak Jaksa Tak Gentar Usut Dugaan Tambang Ilegal Kaltara yang Seret Nama Karuna Murdaya

MAKI Desak Jaksa Tak Gentar Usut Dugaan Tambang Ilegal Kaltara yang Seret Nama Karuna Murdaya

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 18:58 WIB

Gegana Tak Sanggup? Ahli Nuklir UGM Turun Tangan Selidiki Api Misterius di Sleman

Gegana Tak Sanggup? Ahli Nuklir UGM Turun Tangan Selidiki Api Misterius di Sleman

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 18:44 WIB