SBY Soroti Risiko Ekonomi Dunia, Ekonom UMBY Ungkap Pertanda Sudah Muncul di Indonesia

Bella, Hiskia Andika Weadcaksana

Rabu, 15 April 2026 | 10:59 WIB
SBY Soroti Risiko Ekonomi Dunia, Ekonom UMBY Ungkap Pertanda Sudah Muncul di Indonesia
Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono. [ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/YU]
baca 10 detik
  • Presiden ke-6 RI SBY dan pengamat ekonomi Widarta memperingatkan bahwa konflik Timur Tengah memicu krisis ekonomi dunia.
  • Pelemahan rupiah di atas asumsi APBN 2026 menyebabkan kenaikan harga barang impor serta menekan daya beli masyarakat.
  • Widarta menyarankan pemerintah memperkuat UMKM dan menyalurkan bantuan sosial untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik dari gejolak.

Suara.com - Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyampaikan kekhawatiran mendalam terhadap perekonomian dunia di tengah situasi geopolitik global yang masih memanas. Jika perang tak segera usai, dikhawatirkan ekonomi dunia akan semakin buruk.

Merespons pernyataan itu, Pengamat Ekonomi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) Widarta menilai eskalasi konflik antara Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat memang berpotensi kuat memicu krisis ekonomi dunia. Bahkan ia menyebut kini dampaknya sudah mulai terasa di Indonesia.

"Jadi memang ini (perang di Timur Tengah) berpotensi sekali untuk memacu krisis ekonomi dunia, bahkan Indonesia pun sekarang sudah terasa ya," ujar Widarta kepada Suara.com, Rabu (15/4/2026).

Dosen Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi UMBY itu menyoroti tekanan signifikan pada nilai tukar rupiah yang telah melampaui asumsi makro APBN 2026. Menurutnya, posisi dolar yang sempat menyentuh angka Rp17.136 telah menciptakan selisih besar dari prediksi pemerintah di kisaran Rp16.500.

Kondisi ini dipastikan akan menambah beban berat pada APBN serta memicu kenaikan harga barang impor yang menyentuh langsung kebutuhan rakyat kecil. Ia mencontohkan impor kedelai yang sangat berpotensi terdampak.

"Coba bayangkan apa yang dilakukan oleh produsen (kalau harga impor naik). Satu, karena harganya impornya naik, harganya pasti akan dinaikkan atau harga tidak naik di tingkat konsumen tetapi barangnya dikecilkan. Tahu, tempe itu yang kena masyarakat," ungkapnya.

Lebih lanjut, Widarta menjelaskan bahwa efek domino dari kenaikan biaya produksi dan impor ini akan berujung pada rasionalisasi di sektor industri manufaktur maupun UMKM.

Hal ini mengancam kesejahteraan pekerja melalui pengurangan tenaga kerja atau pemotongan gaji. Kondisi itu pada akhirnya melumpuhkan daya beli masyarakat secara global.

"Daya beli akan turun berarti efeknya adalah secara global kalau orang enggak punya duit untuk membeli ya untuk apa kan begitu," ujarnya.

baca juga

Terkait perbandingan dengan krisis finansial global 2008 yang sempat disinggung SBY, Widarta menilai situasi saat ini jauh lebih kompleks, mengingat ancamannya sudah merambah ke jalur logistik vital seperti Selat Hormuz.

Terganggunya jalur tersebut akan mengakibatkan stabilitas energi dunia kacau. Terlebih sebesar 20 hingga 30 persen pasokan minyak dunia melintasi kawasan tersebut.

"Dampak ekonomi global, SBY sudah mengingatkan bahwa jika konflik Timur Tengah berlanjut maka perekonomian dunia bisa dalam kondisi yang sangat buruk. Itu karena jelas rantai pasokan akan terganggu, volatilitas harga energi yang dapat menyebabkan semua terkena termasuk APBN kita," tegasnya.

Untuk menghadapi ancaman ini, Widarta menyarankan pemerintah belajar dari sejarah krisis 1998 dan masa pandemi Covid-19, dalam hal ini berfokus pada ekonomi kerakyatan dan UMKM menjadi benteng pertahanan utama.

Ia menekankan perlunya memperkuat sektor-sektor yang tidak memiliki ketergantungan tinggi terhadap dolar AS agar ekonomi domestik tetap berjalan di tengah gejolak global.

"Kita bertahan dengan apa yaitu dengan memperkuat ekonomi internal, ekonomi kerakyatan, memperkuat UMKM. Jadi banyak UMKM kita yang ternyata tidak tergantung pada dolar," ucapnya.

Sebagai langkah konkret jangka pendek, Widarta turut mendesak pemerintah untuk melakukan intervensi langsung guna menjaga daya beli masyarakat. Bisa dilakukan dengan penyaluran dana-dana sosial dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang segera dicairkan.

"Dana-dana sosial dari pemerintah ya yang mau diberikan sebaiknya segera dikucurkan untuk menjaga daya beli masyarakat. Pemerintah juga harus mampu menjaga isu-isu yang memang cenderung akan membuat masyarakat itu resah misalnya panic buying," tandasnya. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Minyak Dunia Tembus USD 110, Subsidi RI Terancam Bengkak Rp79 Triliun

Minyak Dunia Tembus USD 110, Subsidi RI Terancam Bengkak Rp79 Triliun

News | Selasa, 14 April 2026 | 15:27 WIB

Malaysia di Ambang Krisis BBM

Malaysia di Ambang Krisis BBM

News | Selasa, 14 April 2026 | 14:41 WIB

Malaysia Mulai Krisis BBM Juni 2026, Bagaimana dengan Indonesia?

Malaysia Mulai Krisis BBM Juni 2026, Bagaimana dengan Indonesia?

Bisnis | Selasa, 14 April 2026 | 09:52 WIB

Prabowo Temui Putin di Tengah Krisis Global, Pakar: Langkah Krusial Amankan Energi RI

Prabowo Temui Putin di Tengah Krisis Global, Pakar: Langkah Krusial Amankan Energi RI

News | Senin, 13 April 2026 | 15:39 WIB

Ketua DPR Iran Mohammad Bagher Qalibaf: Nikmati Harga Bensin Saat Ini

Ketua DPR Iran Mohammad Bagher Qalibaf: Nikmati Harga Bensin Saat Ini

News | Senin, 13 April 2026 | 13:08 WIB

Iran Incar 17 Raksasa Teknologi AS, Pakar Sebut Konflik Selat Hormuz Bisa Picu Krisis Global

Iran Incar 17 Raksasa Teknologi AS, Pakar Sebut Konflik Selat Hormuz Bisa Picu Krisis Global

News | Jum'at, 10 April 2026 | 15:23 WIB

Kabar Baik! Bahlil Sebut Krisis BBM RI Akibat Geopolitik Sudah Terlewati

Kabar Baik! Bahlil Sebut Krisis BBM RI Akibat Geopolitik Sudah Terlewati

Bisnis | Jum'at, 10 April 2026 | 14:52 WIB

DPR Minta Kemenaker Siaga Hadapi Ancaman PHK Akibat Gejolak Global

DPR Minta Kemenaker Siaga Hadapi Ancaman PHK Akibat Gejolak Global

News | Kamis, 09 April 2026 | 22:06 WIB

Ketimbang Tambah Utang Luar Negeri, Ekonom UMY Minta Prabowo Pangkas Gaji Pejabat

Ketimbang Tambah Utang Luar Negeri, Ekonom UMY Minta Prabowo Pangkas Gaji Pejabat

News | Kamis, 09 April 2026 | 16:29 WIB

Pemerintah Genjot Perbaikan Transportasi Publik, Dorong Warga-Pejabat Beralih dari Kendaraan Pribadi

Pemerintah Genjot Perbaikan Transportasi Publik, Dorong Warga-Pejabat Beralih dari Kendaraan Pribadi

News | Kamis, 09 April 2026 | 13:15 WIB

Terkini

Centang Biru Mati dan Slow Reply: Menjaga Batasan atau Ruang Manipulasi Chat?

Centang Biru Mati dan Slow Reply: Menjaga Batasan atau Ruang Manipulasi Chat?

Your Say | Rabu, 30 September 2026 | 17:00 WIB

Jokowi Disebut Mulai Beri Sinyal Pisah dengan Prabowo, Benarkah?

Jokowi Disebut Mulai Beri Sinyal Pisah dengan Prabowo, Benarkah?

Video | Rabu, 30 September 2026 | 17:00 WIB

Dear Kemenlu! Ada Nota Diplomatik dari Malaysia, Tolong Dibalas: Mau Dibantu Gak Atasi Karhutla?

Dear Kemenlu! Ada Nota Diplomatik dari Malaysia, Tolong Dibalas: Mau Dibantu Gak Atasi Karhutla?

News | Rabu, 30 September 2026 | 17:00 WIB

Gema Bangsa Tolak Syarat Capres-Cawapres Didukung Minimal 2 Fraksi, Singgung Risiko Oligarki

Gema Bangsa Tolak Syarat Capres-Cawapres Didukung Minimal 2 Fraksi, Singgung Risiko Oligarki

News | Rabu, 30 September 2026 | 16:57 WIB

Dirjen SDA Arnold Ritiauw: Yang Dimarahi Menteri PU Bukan Saya

Dirjen SDA Arnold Ritiauw: Yang Dimarahi Menteri PU Bukan Saya

Bisnis | Rabu, 30 September 2026 | 16:57 WIB

Biaya Mahal Menguatkan Nilai Tukar Rupiah

Biaya Mahal Menguatkan Nilai Tukar Rupiah

Bisnis | Rabu, 30 September 2026 | 16:57 WIB

Baru Hirup Udara Bebas, Indra Kenz Terancam Dijebloskan ke Penjara Lagi

Baru Hirup Udara Bebas, Indra Kenz Terancam Dijebloskan ke Penjara Lagi

News | Rabu, 30 September 2026 | 16:52 WIB

Kesempatan Ekstra 27.000 GarudaMiles Hanya Untuk Nasabah BRI Kartu Kredit Infinite Prioritas

Kesempatan Ekstra 27.000 GarudaMiles Hanya Untuk Nasabah BRI Kartu Kredit Infinite Prioritas

Bali | Rabu, 30 September 2026 | 16:50 WIB

Nasabah Mendapatkan Kesempatan Ekstra 27.000 GarudaMiles dari BRI Kartu Kredit Infinite Prioritas

Nasabah Mendapatkan Kesempatan Ekstra 27.000 GarudaMiles dari BRI Kartu Kredit Infinite Prioritas

Sulsel | Rabu, 30 September 2026 | 16:46 WIB

Dobrak Stagnasi 5 Ton, Teknologi Tani Modern di Lampung Sukses Lipat Gandakan Panen Jadi 11 Ton/Ha

Dobrak Stagnasi 5 Ton, Teknologi Tani Modern di Lampung Sukses Lipat Gandakan Panen Jadi 11 Ton/Ha

Lampung | Rabu, 30 September 2026 | 16:46 WIB

×