- Menteri Perang AS Pete Hegseth menuai kontroversi terkait rencananya membatasi peran perempuan dalam unit tempur militer Amerika Serikat.
- Pentagon mengalihkan studi evaluasi peran perempuan kepada Johns Hopkins University dengan perpanjangan waktu menjadi satu tahun pelaksanaan.
- Kolumnis Clarence Page mengkritik kebijakan Hegseth karena dianggap mencampuradukkan agama dengan militer serta berpotensi membahayakan keamanan nasional Amerika.
Page menyoroti adanya kegiatan ibadah rutin di Pentagon hingga penggunaan kutipan Alkitab dalam materi promosi militer.
“Retorika religius untuk membenarkan perang menimbulkan pertanyaan serius tentang pemisahan agama dan negara,” tulis Page dilansir dari The Maui News.
Page menilai hal ini bertentangan dengan prinsip konstitusi Amerika Serikat.
Selain itu, kebijakan Hegseth yang membongkar program keberagaman di militer juga menuai sorotan.
Pete mendorong perubahan struktur militer yang lebih tradisional dengan menyingkirkan perwira perempuan dan kelompok minoritas.