-
Anggota parlemen Polandia Konrad Berkowicz memicu skandal dengan menampilkan simbol Nazi pada bendera Israel.
-
Perdana Menteri Donald Tusk mengutuk keras tindakan tersebut sebagai bentuk antisemitisme yang dilarang.
-
Insiden ini mencerminkan meningkatnya kritik tajam di Eropa terhadap operasi militer Israel di Gaza.
Suara.com - Langkah provokatif anggota DPR Polandia Konrad Berkowicz yang menyandingkan simbol Nazi pada bendera Israel menjadi puncak kemarahan politik atas krisis kemanusiaan di Gaza.
Aksi berani di gedung Sejm tersebut bukan sekadar provokasi visual melainkan tuntutan radikal agar Polandia segera memutuskan seluruh hubungan diplomatik dengan Tel Aviv.
Dikutip dari TRT, narasi "Reich Ketiga Baru" yang dilontarkan Berkowicz menandai pergeseran ekstrem dalam kritik parlemen Eropa terhadap kebijakan militer Israel di wilayah pendudukan Palestina.

Konrad Berkowicz secara terang-terangan membentangkan bendera Israel yang bagian Bintang Daudnya telah dimodifikasi menjadi lambang swastika Nazi di mimbar resmi.
Ia melontarkan pernyataan tajam dengan menyebut bahwa Israel adalah "new Third Reich."
Tindakan tersebut seketika memicu gelombang protes dari barisan anggota parlemen lain yang hadir dalam sidang majelis rendah tersebut.
Sejumlah politisi menilai visualisasi tersebut sebagai bentuk antisemitisme murni yang melukai sejarah panjang hubungan kedua negara.
Meski demikian, pihak oposisi menyayangkan bahwa protes tersebut hanya fokus pada simbol tanpa menyinggung substansi perang di Jalur Gaza.
Kritik terhadap Berkowicz menguat karena ia dianggap mengabaikan sensitivitas sejarah Polandia yang pernah menjadi korban kekejaman Nazi.
Namun, sang legislator bersikeras bahwa tindakannya adalah bentuk protes keras terhadap dugaan genosida yang sedang berlangsung.
Respon Pemerintah dan Konsekuensi Hukum
Perdana Menteri Polandia Donald Tusk tidak tinggal diam dan memberikan pernyataan resmi terkait insiden memalukan tersebut.
Donald Tusk menegaskan, "tidak ada tempat bagi antisemitisme dalam kehidupan publik Polandia."
Ketua Parlemen Szymon Holownia langsung mengambil langkah tegas dengan melibatkan tim hukum untuk mengkaji pelanggaran konstitusi.
Holownia menginstruksikan pengacara parlemen guna meninjau apakah ucapan dan modifikasi bendera oleh Berkowicz melanggar hukum pidana Polandia.
Proses hukum ini diprediksi akan menjadi ujian bagi kebebasan berpendapat versus aturan mengenai ujaran kebencian di Polandia.
Fenomena di Warsawa ini mencerminkan tren yang lebih luas di berbagai institusi politik di seluruh benua Eropa.
Beberapa anggota Parlemen Eropa bahkan mulai berani melabeli Israel sebagai "negara teroris" akibat jatuhnya ribuan korban sipil.
Kritik tajam ini muncul seiring dengan meningkatnya laporan mengenai pembantaian massal terhadap warga Palestina di zona konflik.
Polandia kini berada dalam posisi sulit untuk menyeimbangkan solidaritas internasional dengan tuntutan moral domestik.
Perdebatan mengenai genosida di Gaza pun kini semakin membelah opini publik dan elite politik di internal Polandia.
Ketegangan ini berakar pada ketidakpuasan mendalam sebagian politisi Polandia terhadap agresi militer Israel di Tepi Barat dan Gaza.
Sebelumnya, hubungan Warsawa dan Tel Aviv memang kerap mengalami pasang surut terkait isu sejarah Holocaust dan aset properti.
Kini, isu kemanusiaan di Gaza menjadi bahan bakar baru yang memperuncing sentimen negatif di ruang-ruang legislatif.
Aksi Berkowicz dianggap sebagai representasi dari kelompok yang menuntut posisi lebih keras terhadap kebijakan luar negeri Israel.
Hingga saat ini, parlemen Polandia masih terus menggodok aturan agar insiden serupa tidak terulang sekaligus meredam spekulasi diplomatik.