Dampak Budaya Perkosaan
Budaya perkosaan memiliki dampak serius, baik bagi individu maupun masyarakat secara keseluruhan:
- Dampak Psikologis pada Korban: Trauma, kecemasan, hingga depresi jangka panjang.
- Lingkungan Tidak Aman: Korban dan kelompok rentan merasa tidak terlindungi, termasuk di kampus.
- Normalisasi Kekerasan: Pelaku merasa tindakannya tidak salah karena didukung oleh lingkungan.
- Hambatan Pelaporan: Korban enggan melapor karena takut disalahkan atau tidak dipercaya.
Upaya Mengatasi Budaya Perkosaan
Mengatasi budaya perkosaan membutuhkan pendekatan sistemik, bukan hanya penindakan kasus per kasus. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Edukasi sejak dini tentang kesetaraan gender dan consent
- Penegakan hukum yang tegas, termasuk untuk kekerasan berbasis digital
- Peran aktif institusi pendidikan dalam menciptakan lingkungan aman
- Penguatan sistem pelaporan yang berpihak pada korban
Dalam konteks kampus, regulasi seperti Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024 menegaskan bahwa perguruan tinggi wajib mencegah dan menangani kekerasan seksual secara serius.
Budaya perkosaan adalah fenomena kompleks yang tidak hanya berkaitan dengan tindakan kriminal, tetapi juga norma sosial yang membentuk cara masyarakat memandang kekerasan seksual. Kasus di Fakultas Hukum Universitas Indonesia menunjukkan bahwa budaya ini masih ada, bahkan di lingkungan yang seharusnya menjunjung tinggi nilai keadilan dan kemanusiaan.
Memahami budaya perkosaan adalah langkah awal untuk menghentikannya. Tanpa kesadaran kolektif dan perubahan sistemik, kasus serupa berpotensi terus berulang. Oleh karena itu, penting bagi seluruh elemen masyarakat (individu, institusi, hingga negara) untuk bersama-sama membangun budaya yang menghormati martabat manusia dan bebas dari kekerasan seksual.
Kontributor : Rishna Maulina Pratama