- Korea Utara meluncurkan rudal balistik dari Sinpo pada Minggu (19/4/2026) yang memicu peningkatan kesiagaan keamanan di kawasan.
- Aksi peluncuran rudal tersebut melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di Semenanjung Korea.
- IAEA mengonfirmasi Korea Utara mempercepat operasi reaktor nuklir guna meningkatkan kapasitas produksi bahan bakar untuk hulu ledak.
Suara.com - Korea Utara kembali meluncurkan sejumlah rudal balistik ke arah laut di lepas pantai timurnya, Minggu (19/4/2026) waktu setempat.
Aksi ini menjadi uji coba ketujuh sepanjang tahun ini dan keempat di bulan April.
Dilansir dari Aljazeera, militer Korea Selatan menyebut peluncuran dilakukan dari wilayah Sinpo sekitar pukul 06.10 waktu setempat.
Seoul langsung meningkatkan kesiagaan dan memperkuat koordinasi dengan Amerika Serikat serta Jepang.
Pemerintah Jepang menyatakan rudal tersebut diduga jatuh di sekitar perairan timur Semenanjung Korea.
Namun, tidak ada laporan pelanggaran ke zona ekonomi eksklusif Jepang.
![Gambar yang diambil pada tanggal 30 Mei 2024 dan dirilis dari Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) resmi Korea Utara melalui KNS pada tanggal 31 Mei 2024 menunjukkan uji coba salvo artileri roket super besar 600mm, di lokasi yang belum dikonfirmasi di Korea Utara. [KCNA VIA KNS/AFP]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/06/02/42453-korea-utara-uji-coba-rudal-korea-utara-korut-kim-jong-un.jpg)
Kantor kepresidenan Korea Selatan dilaporkan menggelar rapat darurat untuk merespons situasi tersebut.
Ketegangan regional pun kembali meningkat di tengah intensitas uji coba senjata Pyongyang.
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un sebelumnya menegaskan bahwa status negaranya sebagai kekuatan bersenjata nuklir tidak dapat diubah.
Kim Jong un juga menyebut penguatan kemampuan nuklir sebagai bagian penting dari pertahanan nasional.
Uji coba rudal ini melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB terkait program senjata Korea Utara.
Namun, Pyongyang menolak larangan tersebut dan menganggapnya sebagai pelanggaran terhadap hak kedaulatan untuk membela diri.
Langkah ini terjadi menjelang rencana pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada pertengahan Mei mendatang, yang diperkirakan turut membahas isu Korea Utara.
Sebelumnya, Kepala Badan Energi Atom Internasional Rafael Grossi mengungkapkan Korea Utara telah membuat kemajuan signifikan dalam pengembangan senjata nuklir, termasuk kemungkinan fasilitas baru pengayaan uranium.
“Kami mengonfirmasi adanya peningkatan cepat dalam operasi reaktor Yongbyon,” ujarnya.