- Dosen ekonomi UMY menyatakan investor global kini lebih memilih aset likuid berimbal hasil tinggi saat konflik geopolitik terbatas.
- Suku bunga global yang tinggi mendorong investor mengalihkan dana dari emas ke obligasi pemerintah dan dolar AS.
- Emas tetap dianggap aset krusial bagi bank sentral dan akan kembali unggul saat terjadi krisis keuangan sistemik.
Dyah menekankan bahwa investor di era modern perlu lebih adaptif dalam memahami dinamika pasar. Tidak cukup hanya mengandalkan satu instrumen, tetapi juga harus mempertimbangkan konteks krisis serta arah kebijakan ekonomi global.
"Investor perlu mencermati arah kebijakan bank sentral, bukan hanya isu geopolitik. Saat ini, faktor moneter justru sering kali lebih menentukan," tandasnya.