- Deputi Kementerian PPPA Amurwani menyatakan perempuan Indonesia menghadapi tekanan ganda dalam menyeimbangkan peran domestik serta karier profesional secara bersamaan.
- Diskriminasi gender dan hambatan struktural di dunia kerja masih menjadi tantangan signifikan bagi perempuan dalam mencapai posisi strategis.
- Pemerintah mendorong perempuan menjadi subjek pembangunan melalui penguatan keadilan akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan manfaat pembangunan secara menyeluruh.
Suara.com - Perempuan di Indonesia masih menghadapi tekanan berlapis, mulai dari tuntutan sukses di dunia kerja hingga ekspektasi menjalankan peran domestik secara ideal. Kondisi ini dinilai membuat banyak perempuan berada dalam posisi serba sulit untuk memenuhi standar sempurna di berbagai aspek kehidupan.
Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Amurwani Dwi Lestariningsih menyebut tantangan perempuan saat ini tidak hanya muncul di ruang publik, tetapi juga di ruang privat.
“Tantangan utama pada saat ini yang dihadapi oleh perempuan di ruang publik dan ruang pribadi adalah menjaga keseimbangan antara karir, keluarga, dan juga pengembangan diri sendiri,” ujar Amurwani saat sambutan dalam acara Peringatan Hari Kartini betsama OJK secara virtual, Senin (20/4/2026).
Menurut dia, tekanan untuk tampil sempurna di setiap aspek kehidupan kerap membuat perempuan kesulitan mengelola berbagai peran sekaligus.
“Perempuan perlu memprioritaskan keseimbangan hidup yang sehat, menetapkan batas yang jelas, pendelegasian tugas, dan mengatur waktu dengan baik,” katanya.
Di sisi lain, situasi di ruang publik dinilai memiliki tantangan yang berbeda. Perempuan, kata dia, masih dihadapkan pada diskriminasi hingga hambatan struktural dalam dunia kerja.
Perempuan juga masih sering dihadapkan pada diskriminasi, stereotip gender, dan hambatan struktural lainnya dalam mencapai posisi dan pengambilan keputusan yang layak.
Amurwani menekankan, untuk menghadapi kondisi tersebut, perempuan perlu bersikap tegas dan konsisten dalam memperjuangkan perannya.
“Untuk mengatasi tantangan ini, perempuan perlu bersikap tegas dan gigih dalam mengejar ambisi mereka sambil tetap mempertahankan nilai-nilai etika dan integritas,” ucapnya.
Ia juga menyoroti pentingnya dukungan lingkungan dalam membantu perempuan menghadapi tekanan di ruang publik.
“Pembelaan diri yang bijaksana, pendekatan kolaboratif, dan dukungan dari komunitas serta lembaga akan membantu perempuan dalam menghadapi tantangan,” katanya.
Lebih jauh, Amurwani menilai isu kesetaraan gender belum cukup menjawab persoalan yang dihadapi perempuan saat ini. Ia menekankan pentingnya mendorong keadilan akses di berbagai sektor.
Amurwani menyampaikan bahwa kesetaraan gender memang menjadi penting, akan tetapi keadilan gender juga perlu diperjuangkan. Ia menekankan, penting bagi perempuan untuk memperjuangkan keadilan akses, terutama akses untuk mendapatkan pendidikan, kesehatan, dan manfaat pembangunan.
Menurutnya, perempuan tidak lagi bisa diposisikan hanya sebagai objek dalam pembangunan.
“Perempuan bukan hanya sebagai obyek dari pembangunan, tetapi bagaimana kita melihat perempuan sebagai subyek yang dapat mewarnai seluruh kehidupan,” kata Amurwani.