Suara.com - Langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam menyerang Iran kembali menjadi sorotan global. Di tengah tekanan politik domestik dan kritik publik yang terus meningkat, Trump menegaskan bahwa keputusan tersebut bukan karena dorongan pihak lain termasuk Israel, melainkan murni berasal dari keyakinannya sendiri.
Di saat yang sama, nama Trump juga kembali ramai diperbincangkan karena kemunculannya dalam dokumen perkara Jeffrey Epstein yang dirilis Departemen Kehakiman AS.
Dokumen ini diduga menjadi alat blackmail oleh Israel agar Trump nekat menyerang Iran. Lantas bagaimana pernyataan lengkap Trump soal serangan Iran? Simak penjelasan berikut ini.
Bantah Diseret Israel ke Perang Iran

Dikutip dari website Aljazeera, Trump dengan mengelak dari tudingan bahwa dirinya didorong oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menyerang Iran.
Dalam pernyataan di media sosial, ia menulis, "Israel tidak pernah membujuk saya untuk berperang dengan Iran. Hasil dari 7 Oktober, ditambah keyakinan saya sejak lama bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, itulah alasannya."
Pernyataan itu merujuk pada serangan oleh kelompok Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023. Namun, hingga kini tidak ada bukti publik yang secara langsung mengaitkan Iran dengan serangan tersebut.
Bahkan Kepala Intelijen Nasional AS Tulsi Gabbard sebelumnya menyatakan bahwa Iran tidak sedang mengembangkan senjata nuklir.
Selama beberapa bulan terakhir sebelum konflik memuncak, Trump berulang kali mengklaim bahwa serangan udara AS telah "menghancurkan" program nuklir Iran. Namun, klaim ini justru memicu perdebatan luas di dalam negeri.
Banyak pihak menilai Iran tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap Amerika Serikat. Kritik pun datang dari berbagai kalangan termasuk rival politiknya, Kamala Harris.
Harris secara terang-terangan mengatakan, "Dia masuk ke dalam perang—ditarik oleh Netanyahu. Kita harus jelas soal itu—masuk ke perang yang tidak diinginkan rakyat Amerika.”
Menurut survei terbaru, sekitar dua pertiga warga Amerika tidak menyetujui cara Trump menangani konflik ini. Kondisi tersebut semakin memperumit posisi politiknya, terutama menjelang dinamika pasca pemilu.
Di sisi lain konflik ini juga berdampak besar pada ekonomi global. Setelah serangan awal yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta ratusan warga sipil, Iran merespons dengan menutup Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia.
Akibatnya harga energi melonjak tajam dan memicu inflasi, terutama di Amerika Serikat.
Serangan ke Media

Di tengah tekanan, Trump juga melontarkan kritik terhadap media arus utama. Ia menuduh banyak pemberitaan tidak akurat dan cenderung memojokkan dirinya. Meski begitu, Trump tetap optimistis terhadap hasil kebijakannya.
Ia bahkan membandingkan situasi Iran dengan Venezuela di bawah kepemimpinan Nicolas Maduro yang menurutnya kini lebih stabil pasca intervensi AS. Trump menyatakan,"Hasil di Iran akan luar biasa jika kepemimpinan barunya bertindak cerdas."