- Pemerintah China menuding Amerika Serikat sebagai penyebab utama krisis nuklir Iran akibat penarikan diri dari kesepakatan JCPOA tahun 2018.
- Kementerian Luar Negeri China mengkritik serangan militer AS dan Israel terhadap Iran yang terjadi antara 2025 hingga awal 2026.
- China menolak bergabung dalam perundingan pengendalian senjata nuklir trilateral karena menilai jumlah hulu ledaknya jauh lebih kecil daripada AS.
Suara.com - Pemerintah China secara terbuka menuding Amerika Serikat sebagai penyebab utama meningkatnya ketegangan terkait program nuklir Iran.
Dalam laporan terbaru terkait implementasi Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT), Beijing juga menegaskan penolakannya untuk bergabung dalam perjanjian pengendalian senjata nuklir New START.
Perjanjian New START merupakan pakta pengendalian senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia yang ditandatangani tahun 2010 untuk membatasi hulu ledak nuklir strategis dan sistem pengirimannya.
Laporan yang dirilis Kementerian Luar Negeri China pada 20 April itu menyoroti isu nuklir Iran sebagai fokus utama, di tengah konflik yang masih berlangsung antara Iran dan koalisi Amerika Serikat–Israel.
Media South China Morning Post melaporkan, Beijing mendesak Washington menunjukkan itikad politik untuk mengembalikan dialog dan menghentikan aksi militer.

China secara tegas mengkritik serangan udara yang dilakukan AS dan Israel terhadap Iran pada pertengahan 2025 hingga awal 2026.
“Tindakan tersebut telah melanggar hukum internasional dan tujuan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa,” demikian isi laporan tersebut.
Beijing juga menilai keputusan Washington keluar dari kesepakatan nuklir Iran atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada 2018 sebagai penyebab krisis nuklir saat ini.
Langkah tersebut dinilai melemahkan mekanisme pengawasan terhadap program nuklir Teheran.
Kesepakatan JCPOA sendiri ditandatangani pada 2015 antara Iran dan negara-negara besar, termasuk AS di era Presiden Barack Obama.
Namun, pada masa pemerintahan Donald Trump, AS menarik diri secara sepihak, memicu ketidakpastian baru dalam upaya pengendalian nuklir Iran.
Di tengah kebuntuan diplomasi, perundingan terbaru yang digelar di Pakistan awal April juga berakhir tanpa kesepakatan.
Selain isu Iran, China juga menegaskan penolakannya terhadap usulan perundingan pengendalian senjata trilateral bersama AS dan Rusia.
Beijing menilai gagasan tersebut tidak adil dan tidak realistis, mengingat jumlah hulu ledak nuklir China jauh lebih kecil dibanding dua negara tersebut.
“Negara dengan persenjataan nuklir terbesar harus mengambil tanggung jawab utama dalam pengurangan secara signifikan,” tulis laporan itu.