- Menlu Singapura Vivian Balakrishnan memperingatkan bahwa potensi konflik di Selat Malaka akan melampaui dampak krisis Selat Hormuz.
- Selat Malaka merupakan jalur vital bagi sepertiga perdagangan dunia dan pasokan energi utama negara-negara di Asia Timur.
- Singapura, Indonesia, dan Malaysia berkomitmen menjaga kebebasan navigasi meski menghadapi kompleksitas rivalitas kekuatan besar di kawasan tersebut.
Suara.com - Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dunia, pernyataan Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, menjadi sorotan. Dalam sebuah forum di Singapura, ia menyampaikan peringatan yang tidak biasa lugas.
Ia menyebut bahwa jika konflik besar pecah di kawasan Pasifik, apa yang saat ini terjadi di Selat Hormuz hanyalah gambaran awal dari krisis yang lebih besar.
![Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto serta Minister of Foreign Affairs Singapore Vivian Balakrishnan. [Dok. Kemenko Perekonomian]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/11/19/81577-menko-perekonomian-airlangga-hartarto-dan-minister-of-foreign-affairs-singapore-vivian-balakrishnan.jpg)
"Jika perang pecah di Pasifik, apa yang Anda lihat di Selat Hormuz saat ini hanyalah sebuah latihan awal," ujar Vivian dilansir dari bihainews.
Pernyataan ini bukan sekadar spekulasi, melainkan sebuah penilaian strategis. Dunia, menurutnya, sedang berada di ambang fase konflik yang lebih luas, dan Selat Malaka berpotensi menjadi titik paling krusial.
Jalur Vital Perdagangan Dunia
Untuk memahami pentingnya Selat Malaka, kita perlu melihat posisinya dalam sistem perdagangan global. Selat ini menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik, serta menjadi jalur utama bagi sekitar sepertiga perdagangan laut dunia.
Berbagai komoditas penting melintasi jalur ini, mulai dari minyak mentah menuju Asia Timur hingga barang industri dari Eropa ke Asia. Negara-negara seperti China, Jepang, dan Korea Selatan sangat bergantung pada stabilitas jalur ini untuk pasokan energi mereka.

Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, bahkan menegaskan bahwa sekitar 70 persen aliran energi dan perdagangan Asia Timur melewati Selat Malaka, bersama jalur lain seperti Selat Sunda dan Selat Makassar.
Jika jalur ini terganggu, dampaknya diperkirakan akan jauh lebih besar dibandingkan gangguan di Selat Hormuz.
Komitmen Kebebasan Navigasi
Dalam pernyataannya, Balakrishnan menegaskan bahwa Selat Malaka dan Selat Singapura adalah jalur internasional yang harus tetap terbuka bagi semua pihak.
Singapura, bersama Malaysia dan Indonesia, tidak akan mendukung upaya apa pun untuk menutup, menghambat, atau mengenakan biaya tambahan terhadap pelayaran di jalur tersebut.
Namun, ada satu kalimat yang cukup mengundang perhatian. Saat ditanya apakah ada tekanan dari pihak tertentu, ia menjawab bahwa hingga saat ini belum ada, tetapi kemungkinan itu tetap terbuka.
"Saat ini belum ada, tetapi mereka kemungkinan besar akan melakukannya," ujarnya lagi.
Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Singapura mulai mengantisipasi potensi tekanan dari negara-negara besar, terutama dalam konteks rivalitas global.