-
Italia menolak tawaran politik utusan Donald Trump untuk menggantikan posisi Iran di Piala Dunia 2026.
-
Pejabat olahraga Italia menegaskan bahwa tiket Piala Dunia harus diraih melalui prestasi di lapangan.
-
FIFA menjamin kehadiran Iran dan meminta agar urusan politik tidak mencampuri kompetisi sepak bola.
“Mereka sangat ingin bermain, dan mereka harus bermain. Olahraga harus berada di luar politik,” tambahnya lagi.
Ketua Komite Olimpiade Italia Luciano Buonfiglio merasa tersinggung dengan adanya tawaran jalur belakang seperti ini.
“Pertama-tama, saya tidak merasa itu mungkin,” tutur Buonfiglio menyatakan keraguannya atas aspek legalitas ide tersebut.
“Kedua, saya akan merasa tersinggung. Untuk bisa tampil di Piala Dunia, Anda harus layak mendapatkannya,” lanjutnya.
Pelatih kawakan Gianni De Biasi menilai Italia tidak membutuhkan bantuan politik pihak asing untuk urusan prestasi.
“Lagipula, saya yakin Italia tidak butuh dukungan Trump dalam isu seperti ini. Saya pikir kami bisa menanganinya sendiri,” ungkap De Biasi.
Iran sendiri telah mengamankan tiket Piala Dunia untuk keempat kalinya secara beruntun melalui jalur kualifikasi resmi.
Ketegangan muncul saat Iran meminta FIFA memindahkan laga dari Amerika Serikat ke Meksiko namun permintaan itu ditolak.
Berdasarkan Pasal Enam regulasi Piala Dunia, FIFA memang memiliki wewenang penuh dalam menentukan tim pengganti jika ada pengunduran diri.
Meski demikian, jika Iran absen, maka tim dari zona Asia (AFC) yang secara logis seharusnya mendapatkan prioritas utama.
Sejarah mencatat Italia telah gagal menembus putaran final Piala Dunia dalam tiga edisi terakhir secara berturut-turut.