-
Ledakan bom jalanan di Cauca Kolombia menewaskan 20 orang termasuk 15 korban perempuan.
-
Presiden Gustavo Petro menuduh faksi EMC pimpinan Ivan Mordisco sebagai pelaku serangan bom.
-
Gubernur Cauca menetapkan tiga hari berkabung atas serangan paling brutal dalam beberapa dekade.
Suara.com - Kekerasan bersenjata di wilayah Cauca, Kolombia mencapai titik nadir setelah ledakan bom jalanan merenggut 20 nyawa sekaligus.
Insiden mematikan ini menyasar warga sipil yang sedang melintas menggunakan transportasi tradisional bus "chiva".
Dikutip dari Anadolu, Gubernur Cauca, Octavio Guzman, mengutuk keras aksi tersebut sebagai serangan paling keji terhadap masyarakat selama beberapa dekade terakhir.

Sebanyak 15 perempuan dan lima laki-laki terkonfirmasi meninggal dunia akibat daya ledak perangkat yang ditanam di gorong-gorong.
Selain korban jiwa, tercatat 36 orang mengalami luka-luka dengan kondisi tiga di antaranya masih dalam perawatan intensif.
"Apa yang terjadi kemarin, 25 April, merupakan serangan paling brutal dan kejam terhadap penduduk sipil dalam beberapa dekade di departemen Cauca," kata gubernur di perusahaan media sosial AS, X.
![Ilustrasi ledakan bom di dalam mobil. [Dok.Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2022/05/01/29550-ledakan-bom-dalam-mobil.jpg)
Gubernur memastikan bahwa di antara puluhan korban luka, terdapat lima anak di bawah umur yang kini kondisinya sudah stabil.
Penyelidikan awal menunjukkan bom tersebut meledak tepat saat bus melintasi jalur Pan-American di wilayah Cajibio.
Kekuatan ledakan sangat masif hingga menyebabkan kerusakan parah pada beberapa kendaraan lain yang berada di lokasi kejadian.
Muncul indikasi kuat bahwa perangkat bahan peledak sempat dilemparkan ke arah bus sebelum akhirnya diledakkan secara sengaja.
"Konsorsium bekerja terus menerus untuk memulihkan jalan yang terkena dampak," tambahnya saat meninjau lokasi yang kini menyisakan kawah sedalam 200 meter kubik.
Pemerintah daerah saat ini tengah fokus memberikan bantuan kemanusiaan serta dukungan psikososial menyeluruh bagi para korban selamat.
Masa berkabung selama tiga hari telah ditetapkan sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi para korban tragedi tersebut.
Otoritas setempat juga memperketat pengamanan di sepanjang jalur transportasi utama guna mencegah adanya serangan susulan dari kelompok bersenjata.
Proses perbaikan jalan terus dikebut agar arus lalu lintas logistik dan masyarakat bisa segera kembali normal dalam waktu singkat.