- Lonjakan transaksi belanja online di Indonesia menyebabkan penumpukan limbah kemasan plastik dan kardus yang sulit didaur ulang.
- Ketiadaan sistem pengelolaan sampah yang memadai dan regulasi lemah membuat konsumen kesulitan melakukan pemilahan limbah secara mandiri.
- Greenpeace mendesak pemerintah dan platform e-commerce menciptakan regulasi mengikat guna menanggung tanggung jawab atas limbah kemasan tersebut.
Suara.com - Bagi Valen, Lebaran tak lagi sekadar soal silaturahmi. Setiap tahun, ada satu hal lain yang selalu datang bersamaan: tumpukan paket di depan rumahnya.
Hari-hari setelah Lebaran, halaman rumahnya nyaris tak pernah sepi dari kurir. Kardus demi kardus datang, dibungkus rapi dengan lapisan bubble wrap tebal. Promo besar-besaran membuatnya sulit menahan diri.
“Pas Lebaran ini banyak banget, promonya gede, bisa lebih dari 50 persen,” katanya.
Awalnya, semua terasa menyenangkan. Harga murah, barang datang utuh tanpa cacat. Namun euforia itu tak bertahan lama. Begitu satu per satu paket dibuka, yang tersisa justru tumpukan sampah.
Bubble wrap, plastik, kardus, menggunung di sudut rumah. Di titik itu, perasaan Valen berubah, dari puas menjadi gelisah.

Ia sadar ada yang salah, tetapi juga merasa tak punya banyak pilihan.
“Sejujurnya ada rasa concern ke lingkungan. Tapi aku mikir lagi, ada nggak sih kemasan yang aman tapi ramah lingkungan? Sejauh ini yang aku tahu belum ada,” ujarnya.
Valen terjebak dalam dilema yang diam-diam juga dialami banyak konsumen. Di satu sisi, ia ingin barangnya tetap aman selama pengiriman. Di sisi lain, ia harus berhadapan dengan limbah yang tak pernah benar-benar ia pilih.
Konsumen seperti Valen berada di ujung rantai konsumsi, menanggung konsekuensi dari sistem yang belum menyediakan alternatif yang lebih berkelanjutan.
Lonjakan sampah kemasan dari belanja online tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja. Greenpeace Indonesia menilai persoalan ini melibatkan banyak aktor, mulai dari platform e-commerce, perusahaan ekspedisi, hingga pelaku usaha.
Fenomena ini bukan kasus tunggal. Di balik lonjakan transaksi digital, ada gelombang lain yang ikut membesar: sampah kemasan.
Sepanjang 2024, nilai transaksi e-commerce di Indonesia mencapai Rp10,29 triliun atau tumbuh 35,38 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menegaskan satu hal: belanja online telah menjadi bagian dari gaya hidup.
Namun di balik pertumbuhan itu, ada ongkos tersembunyi yang jarang terlihat. Penelitian berjudul Is Online Shopping Packaging Waste a Threat to the Environment? menemukan bahwa belanja online menghasilkan hingga 4,8 kali lebih banyak limbah kemasan dibandingkan belanja offline untuk jumlah pengeluaran yang sama.
Artinya, setiap klik “checkout” bukan hanya menambah nilai transaksi, tetapi juga memperbesar beban lingkungan.
Juru bicara kampanye zero waste Greenpeace Indonesia, Ibar Akbar, menilai tanggung jawab terbesar justru berada di hulu, pada pihak yang mengendalikan sistem distribusi.