-
Dubes Inggris menyebut Israel sebagai satu-satunya negara dengan hubungan spesial bersama Amerika Serikat.
-
Pernyataan Christian Turner memicu ketegangan diplomatik saat Raja Charles mengunjungi Washington.
-
Skandal Epstein dianggap Turner lebih berdampak pada tokoh Inggris dibanding elit Amerika.
Suara.com - Duta Besar Inggris untuk Amerika Serikat, Christian Turner, secara terang-terangan meragukan status hubungan istimewa negaranya.
Ia justru menilai bahwa predikat mitra paling eksklusif bagi Gedung Putih saat ini hanya layak disematkan kepada Israel.
Dikutip dari CNN, pernyataan ini menjadi pukulan telak bagi narasi diplomatik yang selama ini dibangun oleh pemerintah dan monarki Inggris.
![Dokumen Ini Bongkar Nafsu Donald Trump Caplok Kanada hingga Sindir Raja Charles III [Tangkap layar X]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/07/30765-raja-charles-iii-dan-donald-trump.jpg)
Klaim kontroversial tersebut mencuat tepat saat Raja Charles III sedang menjalani kunjungan kenegaraan penting di Amerika.
Dalam rekaman yang beredar, Turner secara eksplisit menghindari penggunaan istilah hubungan spesial untuk menggambarkan relasi Inggris-Amerika.
“‘Hubungan spesial’ adalah frasa yang saya coba untuk tidak ucapkan karena itu cukup nostalgia, cukup melihat ke belakang, dan memiliki banyak semacam beban di dalamnya,” ujar Turner.
Pandangannya memberikan perspektif baru bahwa dinamika politik global telah menggeser prioritas strategis Amerika Serikat di masa kini.
![Donald Trump [The White House]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/27/67083-donald-trump.jpg)
Ia menambahkan penilaian pribadinya mengenai negara mana yang benar-benar memegang kunci kedekatan dengan otoritas di Washington.
“Saya pikir mungkin ada satu negara yang memiliki hubungan spesial dengan Amerika Serikat – dan itu mungkin Israel,” kata Turner dalam rekaman tersebut.
Turner juga memberikan sorotan tajam terhadap perbedaan penanganan hukum terkait kasus asusila mendiang Jeffrey Epstein.
Ia merasa sangat heran karena tokoh-tokoh besar di Amerika Serikat seolah tidak tersentuh oleh dampak hukum kasus tersebut.
Kondisi ini sangat berbanding terbalik dengan situasi di Inggris di mana sejumlah elit pemerintahan dan bangsawan tumbang.
Sosok seperti Peter Mandelson dan Andrew Mountbatten-Windsor harus menghadapi konsekuensi serius dan pemeriksaan intensif akibat keterkaitan mereka.
Turner mengungkapkan keheranannya terhadap fenomena hukum di Amerika yang nampak sangat kebal terhadap guncangan skandal internasional ini.
Kritik Turner tidak berhenti pada hubungan internasional, namun juga menyasar stabilitas politik internal di Downing Street.
Perdana Menteri Keir Starmer disebut berada dalam posisi yang sangat sulit akibat penunjukan pejabat yang bermasalah.
Bahkan Turner memprediksi adanya peluang bagi Partai Buruh untuk mengganti kepemimpinan mereka setelah pemilu lokal mendatang.
Pemerintah Inggris melalui juru bicara Kantor Luar Negeri segera memberikan klarifikasi untuk meredam kegaduhan diplomatik yang terjadi.
Pihak kementerian menegaskan bahwa pernyataan tersebut bersifat informal dan tidak mewakili sikap resmi dari pemerintah Kerajaan Inggris.
Meskipun meragukan istilah hubungan spesial, Turner tetap mengakui adanya keterikatan sejarah yang sangat kuat antara kedua negara.
Ia menekankan bahwa sektor pertahanan dan keamanan tetap menjadi fondasi utama yang menyatukan London dengan Washington.
Namun Turner mengingatkan bahwa negara-negara Eropa tidak boleh lagi hanya bersandar pada perlindungan militer dari Amerika Serikat.
“Kita di Eropa tidak bisa hanya bergantung pada payung keamanan AS. Jadi hubungan ini akan terus berlanjut, jika Anda mau, spesial, tetapi saya pikir itu harus berbeda,” ungkapnya.
Pesan ini menjadi sinyal bagi Perdana Menteri agar lebih proaktif dalam menentukan nilai tawar Inggris di kancah global.
Kabar bocornya rekaman ini membayangi agenda pertemuan Raja Charles III dengan Presiden Donald Trump di Gedung Putih.
Isu akuntabilitas terhadap korban Epstein kembali mengemuka setelah munculnya permintaan pertemuan dari anggota Kongres, Ro Khanna.
Meski demikian, pihak Istana Buckingham memilih untuk tetap menjaga jarak demi menghindari gangguan pada proses hukum yang sedang berjalan.
Fakta ini memperlihatkan betapa kompleksnya beban sejarah dan hukum yang harus dipikul dalam setiap langkah diplomasi Inggris.
Turner menutup argumennya dengan menekankan perlunya transparansi mengenai apa yang bisa diberikan Inggris sebagai mitra bagi Amerika.
“Dan saran saya kepada perdana menteri saya adalah ‘Saya tidak bisa begitu saja menutup telinga saya dan mengatakan ini spesial, ini akan baik-baik saja,’ kita harus bekerja dengan sangat jelas untuk melihat apa yang kita, Inggris, bawa ke meja perundingan,” tegas Turner.
Hubungan bilateral Inggris dan Amerika Serikat secara historis dikenal sebagai "Special Relationship" yang diperkenalkan sejak era Winston Churchill.
Namun, belakangan ini hubungan tersebut diuji oleh perbedaan kepentingan politik luar negeri serta dampak domino dari skandal Jeffrey Epstein yang menyeret tokoh-tokoh penting di kedua negara.
Christian Turner sendiri baru saja menjabat menggantikan Peter Mandelson, yang dicopot akibat keterkaitannya dengan jaringan Epstein, sehingga setiap komentarnya kini memiliki bobot politis yang sangat sensitif di mata publik internasional.