Iran di Ambang Kronis, Kemiskinan dan Pengangguran Mendarah Daging

Pebriansyah Ariefana

Rabu, 29 April 2026 | 11:07 WIB
Iran di Ambang Kronis, Kemiskinan dan Pengangguran Mendarah Daging
Konflik Iran-Israel memicu krisis ekonomi hebat yang menyebabkan jutaan pekerja menganggur dan kemiskinan melonjak.
baca 10 detik
  • Konflik bersenjata memicu gelombang pengangguran massal dan kemiskinan ekstrem bagi jutaan rakyat Iran.

  • Kerusakan infrastruktur industri akibat serangan udara melumpuhkan sektor manufaktur dan ekonomi digital Iran.

  • Masyarakat Iran menghadapi ketidakpastian hidup akibat inflasi tinggi dan hilangnya akses pekerjaan internasional.

Sektor baja dan petrokimia yang menjadi tulang punggung ekonomi juga tidak luput dari gempuran serangan udara yang menghancurkan fasilitas produksi.

Produsen trailer Maral Sanat terpaksa merumahkan 1.500 pekerjanya karena kesulitan mendapatkan bahan baku baja yang kini sangat langka di pasaran.

Perusahaan tekstil Borujerd juga melakukan langkah serupa dengan memberhentikan 700 karyawan demi menjaga kelangsungan hidup perusahaan yang tersisa.

Sektor penerbangan pun ikut mati suri setelah jadwal penerbangan internasional maupun domestik dibatalkan secara mendadak demi alasan keamanan.

Soheila, seorang pramugari senior, menceritakan pengalamannya saat seluruh jadwal terbangnya dihapus tanpa kepastian pembayaran gaji di masa depan.

“Saya hendak berangkat untuk penerbangan ketika rekan saya menelepon dan mengatakan semuanya telah dibatalkan. Kontrak kami berakhir pada bulan Maret, jadi sampai penerbangan dilanjutkan, kami tidak akan dibayar,” tutur Soheila.

Lonjakan pengajuan asuransi pengangguran meningkat tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu dengan total mencapai 147.000 pemohon baru.

Sektor e-commerce raksasa seperti Digikala juga mulai melakukan perampingan staf di berbagai departemen akibat melemahnya daya beli masyarakat.

Pekerja lepas dan perempuan yang mengandalkan internet menjadi kelompok paling rentan karena akses digital yang sering terputus total.

baca juga

Jafar, seorang analis data yang kini menganggur, mempertimbangkan untuk menjadi pengemudi ojek daring demi melunasi utang dan biaya sewa rumah.

“Sekarang saya berpikir untuk bekerja di transportasi online hanya untuk bertahan hidup. Saya punya sewa dan utang yang harus dibayar, dan tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya,” kata Jafar.

Para pengajar daring seperti Somayeh di Isfahan juga mengeluhkan rusaknya sistem aplikasi domestik yang tidak mampu menggantikan platform internasional.

“Tidak ada lagi yang berfungsi dengan baik. Siswa tidak bisa semuanya online pada saat yang sama, platform terus mengalami gangguan,” jelas Somayeh.

Kamar Dagang Teheran mengkritik kebijakan pemerintah yang menaikkan gaji pegawai negeri namun membiarkan sektor swasta berjuang sendirian tanpa bantuan.

Saeed Tajik dari Kamar Dagang Teheran menyoroti ketimpangan kebijakan antara sektor publik dan perusahaan swasta yang kini berada di ujung tanduk.

“Pemerintah memerintahkan kenaikan gaji 60% bagi pegawainya sambil mengizinkan banyak dari mereka bekerja jarak jauh dengan gaji penuh. Sementara itu, perusahaan ekonomi yang tidak mampu membayar upah terpaksa mem-PHK pekerjanya,” ujar Saeed Tajik.

Pemerintah Iran berdalih bahwa segala kesulitan ini merupakan akibat dari perang tidak adil yang dipicu oleh tekanan eksternal blok Barat.

Media konservatif Ettelaat mendesak pemerintah untuk segera menerapkan program ekonomi perang guna mengatasi kelangkaan barang dan pengangguran masal.

Tanpa adanya intervensi berupa keringanan pajak dan pinjaman bunga rendah, gelombang kebangkrutan perusahaan diprediksi akan jauh lebih besar.

Ketidakpastian yang terus berlanjut membuat harapan masyarakat akan pemulihan ekonomi menjadi semakin tipis di tengah bayang-bayang konflik berkepanjangan.

Ekonomi Iran sebenarnya sudah dalam kondisi kritis jauh sebelum konflik bersenjata ini pecah akibat sanksi internasional dan korupsi sistemik.

Pendapatan nasional per kapita Iran telah merosot tajam dari 8.000 dolar AS pada tahun 2012 menjadi hanya 5.000 dolar AS pada tahun 2024.

Perang terbaru ini memperparah kondisi tersebut dengan hancurnya infrastruktur industri dan pemutusan akses digital yang melumpuhkan sektor ekonomi modern.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Iran Tetapkan Aturan Pelayaran di Selat Hormuz Usai Konflik dengan AS

Iran Tetapkan Aturan Pelayaran di Selat Hormuz Usai Konflik dengan AS

News | Rabu, 29 April 2026 | 10:27 WIB

Dampak Uni Emirat Arab Keluar dari OPEC, Dunia Makin Krisis Pasokan Minyak Mentah?

Dampak Uni Emirat Arab Keluar dari OPEC, Dunia Makin Krisis Pasokan Minyak Mentah?

News | Rabu, 29 April 2026 | 10:09 WIB

Menghitung Biaya 76 Tahun Perang AS dari Korea hingga Iran: Tembus Triliunan Dolar

Menghitung Biaya 76 Tahun Perang AS dari Korea hingga Iran: Tembus Triliunan Dolar

News | Rabu, 29 April 2026 | 10:06 WIB

Terkini

Bagaimana Malaysia Bisa Tambah Kuota BBM Subsidi Demi Ringankan Beban Hidup Rakyat?

Bagaimana Malaysia Bisa Tambah Kuota BBM Subsidi Demi Ringankan Beban Hidup Rakyat?

News | Senin, 14 September 2026 | 15:00 WIB

14 Tahun Mengabdi sebagai Mantri BRI, Dewi Bebaskan Warga Desa dari Jerat Rentenir

14 Tahun Mengabdi sebagai Mantri BRI, Dewi Bebaskan Warga Desa dari Jerat Rentenir

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 14:59 WIB

Pertalite di SPBU Modular Makassar Kini Pakai Sistem Ganjil-Genap

Pertalite di SPBU Modular Makassar Kini Pakai Sistem Ganjil-Genap

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 14:57 WIB

10,8 Juta Keluarga Minta Bansos Baru, 4 Juta Warga yang Sempat Luput Kini Dapat Bantuan

10,8 Juta Keluarga Minta Bansos Baru, 4 Juta Warga yang Sempat Luput Kini Dapat Bantuan

News | Senin, 14 September 2026 | 14:54 WIB

Sempat Nyaris Rp17.400, Rupiah Kini Tertekan Gegara Perang AS-Iran

Sempat Nyaris Rp17.400, Rupiah Kini Tertekan Gegara Perang AS-Iran

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 14:52 WIB

DPR: Aset Sekolah hingga Pesantren Hasil Korupsi Tetap Dirampas Negara!

DPR: Aset Sekolah hingga Pesantren Hasil Korupsi Tetap Dirampas Negara!

News | Senin, 14 September 2026 | 14:50 WIB

5 Parfum Floral-Musk Terbaik untuk Wanita, Wangi Lembut tapi Memikat!

5 Parfum Floral-Musk Terbaik untuk Wanita, Wangi Lembut tapi Memikat!

Your Say | Senin, 14 September 2026 | 14:50 WIB

KPK Periksa Kepala BPK Riau Terkait Kasus Suap Pengondisian Hasil Audit

KPK Periksa Kepala BPK Riau Terkait Kasus Suap Pengondisian Hasil Audit

Riau | Senin, 14 September 2026 | 14:49 WIB

Tipe Sunscreen yang Cocok untuk Cuaca Panas Indonesia, Lengkap dengan 4 Rekomendasi Produknya!

Tipe Sunscreen yang Cocok untuk Cuaca Panas Indonesia, Lengkap dengan 4 Rekomendasi Produknya!

Lifestyle | Senin, 14 September 2026 | 14:47 WIB

Mulai 2027, Gaji PPPK Daerah Bakal Diambil Alih Pemerintah Pusat

Mulai 2027, Gaji PPPK Daerah Bakal Diambil Alih Pemerintah Pusat

News | Senin, 14 September 2026 | 14:46 WIB

×