Bank Dunia Peringatkan Hal Mengerikan Bakal Terjadi Imbas Perang AS - Iran Berkepanjangan

Pebriansyah Ariefana

Rabu, 29 April 2026 | 13:04 WIB
Bank Dunia Peringatkan Hal Mengerikan Bakal Terjadi Imbas Perang AS - Iran Berkepanjangan
Lonjakan harga energi sebesar 24 persen akibat perang Iran mengancam stabilitas ekonomi dan inflasi global.
baca 10 detik
  • Perang Iran memicu kenaikan harga energi dunia sebesar 24 persen pada tahun 2026.

  • Blokade Selat Hormuz menyebabkan gangguan pasokan minyak mentah terbesar dalam sejarah global.

  • Bank Dunia memperingatkan ancaman stagflasi dan lonjakan harga pupuk akibat konflik tersebut.

Suara.com - Ekonomi dunia kini berada dalam bayang-bayang kelam akibat meletusnya perang di Iran yang memicu guncangan hebat pada rantai pasok.

Bank Dunia melaporkan bahwa harga energi global diprediksi akan meroket hingga 24 persen sepanjang tahun ini akibat konflik tersebut.

Dikutip dari Euronews, blokade di Selat Hormuz menjadi titik nadir yang menghentikan arus distribusi minyak mentah secara masif ke pasar internasional.

Perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang dimulai pada 28 Februari lalu terus memicu korban besar di berbagai negara Timur Tengah. [Aljazeera]
Perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang dimulai pada 28 Februari lalu terus memicu korban besar di berbagai negara Timur Tengah. [Aljazeera]

Angka kenaikan ini tercatat sebagai lonjakan biaya energi paling ekstrem sejak invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022 silam.

Kondisi tersebut tidak hanya memicu inflasi yang mengakar, tetapi juga melumpuhkan ambisi kemajuan ekonomi di berbagai negara berkembang.

Pasar komoditas global saat ini memasuki fase paling volatil dalam kurun waktu empat tahun terakhir akibat ketidakpastian politik.

Drone atau pesawat nirawak berharga mahal milik AS, yang diterjunkan saat perang agresi terhadap Iran. [Suara.com]
Drone atau pesawat nirawak berharga mahal milik AS, yang diterjunkan saat perang agresi terhadap Iran. [Suara.com]

Selain energi, harga pupuk diperkirakan bakal memimpin kenaikan biaya komoditas secara keseluruhan sebesar 16 persen pada 2026.

Ketidakstabilan regional telah mengakibatkan gangguan pasokan minyak mentah terbesar dalam sejarah dengan hilangnya 10 juta barel per hari.

Meskipun sempat ada fluktuasi, serangan terhadap infrastruktur dan kemacetan pengiriman di Selat Hormuz memastikan harga tetap tinggi.

baca juga

Fenomena ini secara efektif membalikkan tren penurunan harga komoditas yang sempat terjadi pada tahun sebelumnya di pasar global.

Situasi ini menciptakan lingkungan stagflasi yang menyulitkan bank sentral di seluruh dunia dalam mengelola tingkat suku bunga mereka.

Ayhan Kose, Wakil Kepala Ekonom Bank Dunia, memberikan peringatan keras terkait langkah fiskal yang diambil oleh pemerintah negara-negara terdampak.

"Pemerintah harus menahan godaan dukungan fiskal yang luas dan tidak terarah yang dapat mendistorsi pasar dan sebaliknya fokus pada bantuan sementara bagi rumah tangga yang paling rentan untuk menavigasi bulan-bulan ketidakpastian ekonomi mendatang," ujarnya.

Saran tersebut menekankan pentingnya akurasi bantuan agar tidak memperparah ketidakseimbangan pasar yang sudah rapuh akibat perang yang berkecamuk.

Hingga saat ini, pasar minyak dan gas tetap menjadi sektor yang paling terdampak langsung oleh badai geopolitik di Timur Tengah.

Selat Hormuz yang merupakan jalur krusial bagi 20 persen perdagangan minyak mentah laut dunia kini hampir lumpuh total.

Bank Dunia memproyeksikan harga minyak mentah jenis Brent akan menetap di angka rata-rata 86 dolar AS per barel selama 2026.

Nilai tersebut melompat jauh jika dibandingkan dengan harga rata-rata pada tahun 2025 yang hanya berada di angka 69 dolar AS.

Estimasi ini didasarkan pada asumsi bahwa gangguan logistik akan mulai melandai pada bulan Mei dan pulih di akhir tahun.

Namun, fakta di lapangan menunjukkan minyak mentah Brent telah menembus angka di atas 110 dolar AS untuk pertama kalinya.

Di tengah kekacauan pasar ini, Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan keputusan besar untuk hengkang dari keanggotaan OPEC dan OPEC+.

Menteri Energi UEA menyatakan langkah ini diambil untuk merestrukturisasi strategi energi negara guna menjawab perubahan permintaan pasar yang dinamis.

Langkah UEA tersebut diharapkan mampu memberikan dorongan produksi minyak secara bertahap demi menyeimbangkan pasokan yang hilang akibat blokade Iran.

Akan tetapi, para analis masih meragukan apakah tambahan pasokan ini mampu menurunkan harga di tengah koordinasi produsen yang melemah.

Bank Dunia memperingatkan bahwa jika konflik meluas ke aktor regional lain, maka tekanan terhadap harga energi akan semakin intensif.

Guncangan pada pasar minyak secara otomatis merembet ke sektor gas alam dan gas alam cair (LNG) di seluruh dunia.

Uni Eropa sendiri telah merogoh kocek lebih dari 27 miliar euro sebagai biaya tambahan impor bahan bakar fosil sejak perang dimulai.

International Energy Agency (IEA) bahkan melabeli situasi saat ini sebagai ancaman keamanan energi terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah manusia.

Biaya bahan bakar yang melambung tinggi dipastikan bakal menghambat pertumbuhan ekonomi global serta berdampak buruk pada penciptaan lapangan kerja.

IMF pun bereaksi dengan memangkas proyeksi pertumbuhan global 2026 menjadi 3,1 persen akibat risiko sistemik dari konflik bersenjata ini.

Studi khusus Bank Dunia menemukan bahwa volatilitas harga minyak saat konflik meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan masa damai.

Data menunjukkan bahwa setiap penurunan 1 persen produksi minyak dunia akibat geopolitik akan memicu kenaikan harga rata-rata 11,5 persen.

Efek tumpahan ini juga berdampak 50 persen lebih besar pada komoditas lain dibandingkan dalam kondisi pasar yang sedang normal.

Kenaikan 10 persen harga minyak akan diikuti lonjakan harga gas alam sebesar 7 persen dan harga pupuk sebesar 5 persen.

Artinya, meskipun perang berakhir dalam waktu dekat, tekanan inflasi akan tetap terasa oleh masyarakat dunia hingga tahun depan.

Krisis ini bermula dari pecahnya perang di Iran yang diikuti oleh blokade strategis di Selat Hormuz sebagai jalur utama logistik migas.

Kondisi tersebut menghentikan aliran energi dunia dan memicu ketidakpastian ekonomi yang belum pernah terjadi sejak krisis energi pasca-invasi Ukraina dua tahun lalu.

Saat ini, lembaga keuangan internasional fokus memantau dampak stagflasi yang mengancam stabilitas pasar global dan kesejahteraan rumah tangga di berbagai negara.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

UEA Keluar OPEC, Siap Gelontorkan Pasokan Minyak ke Pasar Dunia Tanpa Kuota!

UEA Keluar OPEC, Siap Gelontorkan Pasokan Minyak ke Pasar Dunia Tanpa Kuota!

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 12:08 WIB

Iran di Ambang Kronis, Kemiskinan dan Pengangguran Mendarah Daging

Iran di Ambang Kronis, Kemiskinan dan Pengangguran Mendarah Daging

News | Rabu, 29 April 2026 | 11:07 WIB

Iran Tetapkan Aturan Pelayaran di Selat Hormuz Usai Konflik dengan AS

Iran Tetapkan Aturan Pelayaran di Selat Hormuz Usai Konflik dengan AS

News | Rabu, 29 April 2026 | 10:27 WIB

Terkini

Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit

Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit

Sumsel | Minggu, 13 September 2026 | 23:10 WIB

Kabut Jadi Kendala, Pencarian 5 Jurnalis-3 Kru Kapal Hilang di GAK Masih Nihil

Kabut Jadi Kendala, Pencarian 5 Jurnalis-3 Kru Kapal Hilang di GAK Masih Nihil

Banten | Minggu, 13 September 2026 | 21:43 WIB

Kapal Virgo Transport 8 Terbalik, Tim SAR Perketat Pencarian via Udara

Kapal Virgo Transport 8 Terbalik, Tim SAR Perketat Pencarian via Udara

News | Minggu, 13 September 2026 | 21:20 WIB

Emil Audero Orang Indonesia Pertama Lawan Real Madrid, Pelatih Rayo Puji Setinggi Langit

Emil Audero Orang Indonesia Pertama Lawan Real Madrid, Pelatih Rayo Puji Setinggi Langit

Bola | Minggu, 13 September 2026 | 21:13 WIB

36 Peraih Super Tiket PB Djarum 2026 Bersiap Jalani Karantina, Mentalitas Diuji

36 Peraih Super Tiket PB Djarum 2026 Bersiap Jalani Karantina, Mentalitas Diuji

Sport | Minggu, 13 September 2026 | 21:13 WIB

Piala Soeratin Jabar 2026 Tuntas, Sepakbola Dipadukan dengan Wisata, Budaya hingga UMKM

Piala Soeratin Jabar 2026 Tuntas, Sepakbola Dipadukan dengan Wisata, Budaya hingga UMKM

Bola | Minggu, 13 September 2026 | 21:13 WIB

Geely Panda Mini Dijual Rp115 Juta, Harga Mobil Listrik Seken Bisa Ambruk

Geely Panda Mini Dijual Rp115 Juta, Harga Mobil Listrik Seken Bisa Ambruk

Otomotif | Minggu, 13 September 2026 | 21:00 WIB

Cara Pesan Tiket Liga Indonesia Seharga Rp1 Lewat BRImo

Cara Pesan Tiket Liga Indonesia Seharga Rp1 Lewat BRImo

Bri | Minggu, 13 September 2026 | 20:41 WIB

eK Cross EV: Mobil Listrik Murah Mitsubishi yang Harganya Mirip Wuling Air EV, Jarak Tempuh?

eK Cross EV: Mobil Listrik Murah Mitsubishi yang Harganya Mirip Wuling Air EV, Jarak Tempuh?

Otomotif | Minggu, 13 September 2026 | 20:39 WIB

Ramalan Cinta 12 Zodiak pada 14-20 September 2026, Ada yang Dihantui Masa Lalu

Ramalan Cinta 12 Zodiak pada 14-20 September 2026, Ada yang Dihantui Masa Lalu

Lifestyle | Minggu, 13 September 2026 | 20:10 WIB

×