Kenapa Banyak Bajak Laut di Somalia? Kapal Honour 25 Berisi 4 WNI Disandera Perompak

Chyntia Sami Bhayangkara | Suara.com

Rabu, 29 April 2026 | 20:47 WIB
Kenapa Banyak Bajak Laut di Somalia? Kapal Honour 25 Berisi 4 WNI Disandera Perompak
Kenapa Banyak Bajak Laut di Somalia? (Unsplash)

Suara.com - Lebih dari sepekan, empat WNI menjadi sandera bajak laut Somalia. Sejak penyergapan pada Selasa (21/04), upaya negosiasi uang tebusan masih berlangsung. Kementerian Luar Negeri pun mengklaim terus melakukan koordinasi intensif dengan seluruh pihak terkait di wilayah Somalia.

Kasus penyanderaan warga Indonesia di Somalia bukan pertama kali terjadi. Pemerintah pernah melakukan pembebasan sandera awak kapal Sinar Kudus pada 2011 silam. Hal ini menjadi penanda bersejarah bagi Indonesia dalam misi di luar negeri.

Kali ini, insiden penyanderaan menimpa Kapal tanker MT Honour 25 yang berisi 17 pelaut. Mereka terdiri dari empat WNI yakni, Ashari Samadikun selaku kapten kapal asal Kabupaten Gowa, Adi Faizal selaku 2nd Officer asal Kabupaten Bulukumba, Wahudinanto selaku Chief Officer asal Pemalang, serta Fiki Mutakin asal Bogor. Sisanya, 11 warga Pakistan, satu warga Sri Langka dan juga satu warga India.

Beberapa pakar menilai bahwa kemunculan bajak laut atau perampk Somalia tidak lepas dari pengaruh konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran. Di tengah atensi dunia terhadap konflik di Timur Tengah, insiden serangan kapal di perairan Somalia justru kembali terjadi setelah beberapa tahun terakhir mulai mereda.

Somalia sendiri merupakan sebuah negara yang terletak di kawasan Tanduk Afrika. Tepatnya berada di sebelah Timur Afrika, Samudra Hindia, dan Teluk Aden. Sejak beberapa dekade, perairan Somalia terkenal dengan perampok kapal yang meresahkan. Lantas mengapa hal ini bisa terjadi?

Kenapa Banyak Bajak Laut di Somalia?

Diketahui, Somalia mempunyao pantai terpanjang di Afrika. Meski demikian, orang Somalia tidak pernah mengeksploitasi potensi maritimnya karena sejumlah alasan.

Dari laporan yang beredar, sektor penangkapan ikan di Somalia tergolong kecil dan kurang berkembang. Hal ini kemudian mengakibatkan, kapal asing 'menggantikan' peran nelayan lokal di perairan Somalia hingga 70 tahun lamanya

Katena banyaknya kapal asing yang keluar masuk ke Somalia, populasi ikan di laut mulai berkurang dan menimbulkan kerusakan pada habitat laut melalui pukat dasar atau bottom trawl. Kerusakan habitat ini dipicu oleh limbah nuklir dan beracun yang sengaja dibuang ke perairan tersebut.

Keadaan nelayan dan sejumlah masyarakat yang bermasalah, mendorong orang-orang Somalia untuk mencoba cara baru dalam menghasilkan uang untuk mendukung mata pencaharian mereka.

Para nelayan memutuskan untuk menggandeng milisi dan pemuda pengangguran. Mereka pun mulai merealisasikan ide untuk membajak kapal asinh dan meminta uang tebusan. Hal itulah yang menjadi awal dari pembajakan di Somalia.

Melansir Marine Insight, sejak tahun 1990an, pembajakan di wilayah Somalia terus mengalami peningkatan. Hal itu dipicu oleh lemahnya pengawasan pemerintah, ketidakstabilan politik, kurangnya lapangan pekerjaan, kecilnya layanan pendidikan dan kesehatan yang mendorong masyarakat untuk melakukan tindak kriminal.

Tak sedikit perusahaan pelayaran yang menjalin kerja sama dengan geng kriminal dan bajak laut, sehingga makin memperkuat akar pembajakan Somalia di Samudera Hindia.

Hal serupa juga pernah diungkap oleh mantan wakil presiden RI, Jusuf Kalla yang menyebut bahwa praktik bajak laut Somalia diakibatkan karena masyarakat tidak dapat memanfaatkan SDA laut akibat IUU Fishing.

Sejak meningkatnya aktivitas perompak di Somalia, rata-rata kapal luar negeri mempersenjatai diri dan menyewa keamanan swasta. Komunitas internasional pun gencar mencari solusi jangka panjang.

Tidak hanya memulihkan otoritas serta kredibilitas pemerintah pusat, tetapi mereka juga memikirkan lapangan kerja bagi pemuda melalui organisasi non-pemerintah, badan-badan PBB, serta pemerintah regional ataupun lokal.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kemlu Pastikan 13 WNI Selamat dari Kebakaran Besar di Malaysia, Begini Kondisinya

Kemlu Pastikan 13 WNI Selamat dari Kebakaran Besar di Malaysia, Begini Kondisinya

News | Selasa, 21 April 2026 | 19:54 WIB

Gempa M 7,4 dan Tsunami Landa Jepang Utara, Kemlu RI Pastikan Kondisi WNI Aman

Gempa M 7,4 dan Tsunami Landa Jepang Utara, Kemlu RI Pastikan Kondisi WNI Aman

News | Senin, 20 April 2026 | 21:50 WIB

Prabowo Bangga pada Sugianto, PMI Penyelamat 7 Lansia dari Kebakaran di Korea Selatan

Prabowo Bangga pada Sugianto, PMI Penyelamat 7 Lansia dari Kebakaran di Korea Selatan

News | Kamis, 02 April 2026 | 10:46 WIB

Terkini

Kilas Balik Misi Berdarah TNI Bebaskan Kapal Sinar Kudus dari Cengkeraman Perompak Somalia

Kilas Balik Misi Berdarah TNI Bebaskan Kapal Sinar Kudus dari Cengkeraman Perompak Somalia

News | Rabu, 29 April 2026 | 20:29 WIB

10  Jam Terjepit Dalam Kereta, Kisah Endang Melawan Maut Usai Sempat Dikira Tim SAR Meninggal

10 Jam Terjepit Dalam Kereta, Kisah Endang Melawan Maut Usai Sempat Dikira Tim SAR Meninggal

News | Rabu, 29 April 2026 | 20:27 WIB

Orang Tua Korban Daycare Little Aresha Ajukan Perlindungan dan Restitusi ke LPSK

Orang Tua Korban Daycare Little Aresha Ajukan Perlindungan dan Restitusi ke LPSK

News | Rabu, 29 April 2026 | 20:04 WIB

Pangkalan AS di Kuwait Dihantam Iran, Taktik dan Jet Tua Jadi Kunci

Pangkalan AS di Kuwait Dihantam Iran, Taktik dan Jet Tua Jadi Kunci

News | Rabu, 29 April 2026 | 20:00 WIB

Perang Belum Usai! Malam Ini Militer Iran Siaga Tempur Lawan AS-Israel

Perang Belum Usai! Malam Ini Militer Iran Siaga Tempur Lawan AS-Israel

News | Rabu, 29 April 2026 | 20:00 WIB

Kedubes Rusia Sampaikan Duka atas Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur

Kedubes Rusia Sampaikan Duka atas Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur

News | Rabu, 29 April 2026 | 19:44 WIB

Solidaritas Sumut dan Sumbar Hibahkan Rp287 Miliar untuk Pemulihan Aceh

Solidaritas Sumut dan Sumbar Hibahkan Rp287 Miliar untuk Pemulihan Aceh

News | Rabu, 29 April 2026 | 19:07 WIB

Selesaikan Masalah Perkotaan, Wamendagri Bima Dorong Aglomerasi Berbasis Sektoral

Selesaikan Masalah Perkotaan, Wamendagri Bima Dorong Aglomerasi Berbasis Sektoral

News | Rabu, 29 April 2026 | 19:03 WIB

Dari Kritik ke Tawa: Kehadiran Rocky Gerung di Istana jadi Strategi Prabowo Akhiri Era Oposisi?

Dari Kritik ke Tawa: Kehadiran Rocky Gerung di Istana jadi Strategi Prabowo Akhiri Era Oposisi?

News | Rabu, 29 April 2026 | 18:58 WIB

Cekcok Saat Main Bola, Dua Pemuda Cengkareng Nekat Siram Air Keras Hingga Masuk Sel

Cekcok Saat Main Bola, Dua Pemuda Cengkareng Nekat Siram Air Keras Hingga Masuk Sel

News | Rabu, 29 April 2026 | 18:52 WIB