- Pemerintah Korea Utara memobilisasi sumber daya nasional guna mengatasi bencana kekeringan parah yang melanda sebagian besar wilayah negaranya.
- Otoritas memangkas pasokan air rumah tangga dan memperbaiki infrastruktur irigasi sebagai langkah darurat untuk menyelamatkan sektor pertanian setempat.
- Kondisi cuaca ekstrem ini memperburuk krisis ketahanan pangan yang sudah dialami Korea Utara selama belasan tahun terakhir.
Suara.com - Korea Utara menghadapi kekeringan serius yang disebut pemerintah sebagai kondisi tidak biasa dan sangat parah tahun ini.
Media pemerintah KCNA melaporkan sebagian besar wilayah negara itu kini terdampak, memicu mobilisasi nasional untuk menyelamatkan sektor pertanian.
Sebagai langkah darurat, otoritas Korea Utara disebut telah memangkas pasokan air rumah tangga hingga 75 persen di berbagai wilayah.
Pemerintah juga mempercepat perbaikan bendungan, pintu air, dan jaringan kanal irigasi nasional.
Di sisi lain, petani diperintahkan menerapkan teknik khusus untuk meningkatkan ketahanan tanaman gandum dan jelai terhadap cuaca ekstrem.
![Foto pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un yang diklaim tengah memimpin pertemuan besar politbiro Partai Buruh dalam upaya pencegahan terhadap virus korona dan ancaman topan Bavi. [KCNA via Reuters]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2020/08/26/77642-bantah-rumor-koma-korea-utara-tampilkan-foto-terbaru-kim-jong-un.jpg)
Kekeringan terbaru memperburuk kekhawatiran atas ketahanan pangan Korea Utara yang selama bertahun-tahun sudah rapuh.
Pelapor Khusus PBB untuk HAM Korea Utara, Elizabeth Salmon, sebelumnya menyebut kekurangan pangan kini menjadi masalah besar di negara tersebut.
Menurut data Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Korea Utara telah masuk daftar negara yang membutuhkan bantuan pangan eksternal selama 19 tahun berturut-turut.
Gelombang panas ekstrem di Semenanjung Korea juga memperparah situasi.
Tahun lalu, Korea Selatan mencatat musim panas terpanas dalam sejarah, sementara Korea Utara mengalami bulan Juni terpanas yang pernah tercatat.