-
India meningkatkan penggunaan batubara akibat gelombang panas ekstrem dan hambatan impor gas alam.
-
Konflik di Timur Tengah mengganggu pasokan gas dunia sehingga batubara menjadi alternatif utama.
-
Sektor pembangkit listrik dan industri semen di India kini sangat bergantung pada bahan fosil.
Suara.com - India kini terjepit dalam dilema antara komitmen iklim dan kebutuhan mendesak untuk menjaga stabilitas listrik nasional.
Gelombang panas yang menyengat serta ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah memaksa negara ini kembali ke energi fosil.
Dikutip dari CNBC, ketergantungan pada batubara meningkat tajam demi menghindari pemadaman listrik massal di tengah suhu yang mematikan.
![Ilustrasi fasilitas minyak mentah di mana harga mulai melonjak kembali. [Pexels].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/09/36136-harga-minyak-dunia-fasilitas-minyak-mentah.jpg)
Peralihan ini menunjukkan betapa rentannya ketahanan energi negara berkembang saat menghadapi guncangan harga gas dunia.
Data terbaru mencatat lonjakan produksi listrik dari pembangkit batubara secara signifikan selama periode krisis ini berlangsung.
Sekitar 60 persen kebutuhan gas alam cair India harus melewati Selat Hormuz yang kini rawan konflik.
Situasi tersebut menyebabkan harga gas melambung tinggi dan menjadi tidak ekonomis bagi sektor industri pembangkit.
“Jadi, tenaga listrik berbasis batubara perlu memikul beban yang lebih tinggi di bulan-bulan puncak musim panas ini,” kata Girish Madan, Direktur Pemeringkat Korporat di Fitch Ratings Singapura.
![Ilustrasi batubara. [Pixabay]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/02/20/55822-ilustrasi-batubara.jpg)
Ketidakpastian pengiriman gas membuat India tidak memiliki pilihan selain memaksimalkan stok energi domestik yang tersedia.
Faktor ekonomi menjadi alasan utama mengapa sumber energi ramah lingkungan belum mampu sepenuhnya menggantikan peran fosil.
Suhu udara yang mencapai lebih dari 45 derajat Celcius memaksa penggunaan pendingin ruangan bekerja ekstra keras.
Beban listrik yang meroket ini terjadi bersamaan dengan penurunan kapasitas operasional pembangkit listrik bertenaga gas.
“Kondisi gelombang panas, dengan pembacaan di atas 40-45 derajat C di beberapa tempat di India telah mengangkat permintaan listrik,” kata Andre Lambine dari S&P Global Energy.
Ketidakmampuan sektor energi baru terbarukan dalam menutup celah defisit energi membuat batubara tetap menjadi raja.
Jika fenomena iklim El Nino terus berlanjut, pertumbuhan penggunaan batubara diprediksi akan terus meningkat tajam.