- Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, menuai kontroversi setelah menerima kue ulang tahun berbentuk tali hukuman gantung.
- Bentuk kue tersebut dinilai sensitif karena terkait kebijakan hukuman mati bagi warga Palestina yang disetujui Knesset baru-baru ini.
- Perayaan itu memicu kecaman luas atas dugaan penyalahgunaan kekuasaan serta potensi pelanggaran prinsip demokrasi dan hak asasi manusia.
Suara.com - Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir menjadi pusat perhatian publik setelah perayaan ulang tahunnya yang ke-50 memicu kontroversi.
Sorotan muncul usai beredarnya video di media sosial yang memperlihatkan Ben-Gvir menerima kue ulang tahun berbentuk tali hukuman gantung berwarna emas.
Kue tersebut diketahui merupakan hadiah dari istrinya, lengkap dengan ucapan 'Selamat Ulang Tahun' serta kalimat berbahasa Ibrani yang berarti 'Terkadang mimpi menjadi kenyataan'.
Bentuk kue tersebut menuai kritik karena dianggap memiliki makna simbolis yang sensitif.
Tali gantung diketahui menjadi simbol yang kerap digunakan oleh partai sayap kanan yang dipimpin Ben-Gvir, yakni Otzma Yehudit, terutama dalam kampanye yang berkaitan dengan hukuman mati bagi warga Palestina.
Simbol serupa juga kerap terlihat dikenakan oleh anggota partai tersebut dalam berbagai aktivitas di parlemen Knesset.
Kontroversi ini semakin menguat karena terjadi tidak lama setelah Knesset pada akhir Maret lalu menyetujui kebijakan hukuman mati bagi warga Palestina yang terbukti melakukan tindakan terorisme, dengan metode eksekusi berupa gantung.
Secara historis, Israel telah menghapus hukuman mati untuk kejahatan umum sejak 1954, dan terakhir kali melakukan eksekusi pada 1962.
Sejumlah organisasi hak asasi manusia serta pemimpin dunia mengecam kebijakan tersebut karena dinilai hanya menyasar kelompok tertentu.
Bahkan, para menteri luar negeri dari beberapa negara seperti Australia, Jerman, Prancis, Italia, Selandia Baru, dan Inggris sempat mengeluarkan pernyataan bersama yang menyoroti potensi pelanggaran terhadap prinsip demokrasi.
Saat kebijakan tersebut disahkan, Ben-Gvir diketahui merayakannya dengan membuka botol sampanye, disertai sorakan dari sejumlah anggota parlemen.
Perayaan ulang tahun dengan simbol tali gantung ini pun semakin menuai kritik, terlebih di tengah meningkatnya angka kekerasan di Israel dalam beberapa waktu terakhir.
Menurut laporan Haaretz, jumlah korban tewas akibat kekerasan di Israel tahun ini mencapai 111 orang, dengan 95 di antaranya merupakan warga Arab.
Selain itu, laporan The Times of Israel menyebut perayaan tersebut juga menuai polemik karena Ben-Gvir mengundang pejabat tinggi kepolisian yang berada di bawah kewenangannya, sehingga memicu tuduhan penyalahgunaan kekuasaan.