- Jet tempur Israel membombardir wilayah Ghobeiri di Beirut selatan pada Selasa malam untuk menyerang basis pasukan Hizbullah.
- Pemerintah Israel mengklaim serangan tersebut berhasil menewaskan seorang komandan Hizbullah bernama Malek Balou di wilayah tersebut.
- Serangan ini memicu kepanikan warga dan merusak kesepakatan gencatan senjata yang berlaku sejak 17 April 2026 lalu.
Suara.com - Serangan udara Israel kembali mengguncang Lebanon. Kali ini, jet tempur Israel membombardir kawasan pinggiran selatan Beirut yang dikenal sebagai basis kuat pasukan Hizbullah.
Pihak Israel juga mengklaim menewaskan Malek Balou, seorang komandan Pasukan Hizbullah.
Ledakan keras dilaporkan terjadi di wilayah Ghobeiri, kawasan mayoritas Syiah di Beirut selatan, pada Selasa malam waktu setempat.
Media pemerintah Lebanon menyebut serangan itu menimbulkan kerusakan luas dan kepanikan warga yang baru kembali ke area tersebut setelah gencatan senjata diberlakukan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengonfirmasi operasi tersebut.
![Puluhan ribu warga Lebanon yang mengungsi mulai kembali ke rumah mereka di wilayah selatan, meski gencatan senjata dengan Israel masih diwarnai pelanggaran. [Tangkap layar X]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/18/25303-kondisi-lebanon.jpg)
Netanyahu mengatakan serangan dilakukan atas instruksinya bersama Menteri Pertahanan Israel Katz.
“Teroris Radwan bertanggung jawab atas serangan terhadap permukiman Israel dan melukai tentara kami. Tidak ada teroris yang memiliki kekebalan,” kata Netanyahu dilansir dari Aljazeera.
Netanyahu menegaskan Israel akan terus memburu siapa pun yang dianggap mengancam keamanan negaranya.
“Kami berjanji membawa keamanan bagi warga di wilayah utara, dan inilah cara kami melakukannya,” tambahnya.
Hingga kini, Hezbollah belum memberikan tanggapan resmi terkait klaim Israel mengenai tewasnya Malek Balou.
Serangan ini menjadi yang pertama di Beirut selatan sejak gencatan senjata perang Israel-Hezbollah mulai berlaku pada 17 April 2026.
Sebelumnya, kedua pihak saling menuduh melanggar kesepakatan damai yang dimediasi Amerika Serikat.
Jurnalis Al Jazeera, Obaida Hitto, melaporkan suasana di Beirut selatan sebenarnya relatif tenang sejak dimulainya gencatan senjata.
Banyak warga bahkan sudah kembali ke rumah mereka dan aktivitas jalanan mulai normal.
“Ada semacam kesepakatan tak tertulis bahwa Beirut tidak akan menjadi target selama gencatan senjata berlangsung,” ujar Hitto.