- Pada Rabu, 13 Mei 2026, penulis menempuh perjalanan dari Pondok Labu menuju Pengadilan Militer Jakarta Timur.
- Penulis melewati kawasan Condet yang sedang mengalami kemacetan akibat proyek galian pipa oleh pihak PAM Jaya.
- PAM Jaya memasang baliho permohonan maaf dan ajakan mendukung program layanan air bersih di persimpangan PGC Cililitan.
Suara.com - Jarum jam menunjukkan pukul 08.15 pagi ketika saya keluar dari gang-gang rimbun di kawasan Pondok Labu, Jakarta Selatan, tempat kediaman saya berada, Rabu (13/5/2026).
Tujuan saya pagi ini bukan tempat yang dekat: Pengadilan Militer II-08 di Cakung, Jakarta Timur, tempat berlangsungnya sidang kasus penyiraman air keras yang menjerat empat anggota BAIS TNI sebagai terdakwa. Perjalanan lintas Jakarta yang, seperti biasa, tak pernah bisa diprediksi.
Dari Pondok Labu, saya menyusuri Jalan Cilandak KKO menuju persimpangan TB Simatupang. Sesuai dugaan, kawasan itu sudah membeku dalam antrean kendaraan, padat merayap, sebagaimana wajah Jakarta di jam-jam sibuk.
"Benar, kurang pagi," celetuk saya dalam hati.
Tak mau terjebak lebih jauh, saya belok mengambil jalur alternatif lewat Condet. Di sinilah perjalanan saya menawarkan pemandangan yang berbeda.
Sepanjang ruas jalan di Condet, deretan galian proyek PAM Jaya membentang seperti luka panjang di permukaan aspal. Tanah terbuka, pipa-pipa besi tersusun di tepi jalan, dan arus kendaraan dipaksa menyempit.
Bukan pemandangan asing bagi warga sekitar, tetapi tetap saja cukup untuk memancing gerutuan. Belakangan, keluhan soal galian PAM Jaya ini memang sudah ramai berseliweran di media sosial maupun obrolan warga.
Saya terus melaju hingga akhirnya tiba di persimpangan PGC Cililitan. Di situlah mata saya tertumbuk pada sebuah baliho berukuran besar dengan latar putih bersih, mencolok justru karena kesederhanaannya di tengah hiruk-pikuk visual kota yang biasanya penuh warna.
Baliho itu milik PAM Jaya, dan isinya bukan iklan promosi biasa.
"Mohon maaf, jalannya mungkin belum nyaman sekarang," tulis baliho itu dalam huruf-huruf yang tenang, hampir berbisik. "Tapi kami harap, air bersihnya nanti pasti lebih menenangkan," lanjut bunyi tulisannya.
Di bagian bawah, tertera juga sebuah ajakan mendukung misi PAM Jaya memenuhi kebutuhan air bersih ibu kota.
"Ayo jadi Pahlawan Air, dukung bersama 100 persen cakupan layanan air perpipaan Jakarta," tegas pesan itu.
Sebuah permintaan maaf yang dipasang di persimpangan ramai. Tidak defensif, tidak berdalih, hanya sebuah pengakuan jujur bahwa proyek mereka memang sedang merepotkan banyak orang, diikuti janji bahwa ada sesuatu yang lebih baik di ujungnya.
Entah pesan itu cukup untuk meredam kesal warga yang tiap hari harus bermanuver di antara galian dan sempitnya jalan.
Yang jelas, di tengah perjalanan panjang saya menuju Cakung pagi ini, baliho tersebut sempat membuat saya berhenti sejenak, setidaknya dalam pikiran. Jakarta memang kota yang tak pernah kehabisan cerita, bahkan di persimpangan yang macet sekalipun.