- Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menunjuk Mayor Jenderal Roman Gofman sebagai direktur baru badan intelijen Mossad.
- Penunjukan Gofman memicu kontroversi karena dinilai kurang berpengalaman dalam operasi intelijen oleh direktur saat ini.
- Gofman sebelumnya menjabat Sekretaris Militer Perdana Menteri serta aktif dalam berbagai operasi militer Pasukan Pertahanan Israel.
Suara.com - Keputusan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menunjuk Mayor Jenderal Roman Gofman sebagai direktur baru Mossad memicu kontroversi besar di internal badan intelijen Israel.
Namun sayangnya pilihan Netanyahu itu justru menimbulkan penolakan dari banyak pihak.
Direktur Mossad saat ini, David Barnea, secara terbuka menolak pencalonan Gofman. Barnea menilai Gofman tidak memiliki latar belakang intelijen yang cukup untuk memimpin Mossad di tengah situasi perang.
David Barnea sebelumnya mendorong wakilnya yang hanya disebut dengan inisial A untuk menjadi penerusnya. Namun rekomendasi tersebut tidak diterima oleh pemerintahan Netanyahu.
“Dia (Roman Gofman) tidak pernah menangani sistem operasi intelijen secara langsung. Dia tidak memiliki pengalaman dan kedalaman yang dibutuhkan untuk memimpin organisasi seperti Mossad,” ujar seorang pejabat intelejen Israel seperti dikutip dari Ynet.
![Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menunjuk Mayor Jenderal Roman Gofman (kanan) sebagai direktur baru Mossad [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/18/90823-roman-gofman.jpg)
Rekam Jejak Roman Gofman
Roman Gofman lahir di Belarus pada 30 November 1976. Ia pindah ke Israel bersama keluarganya pada 1990 saat berusia 14 tahun dan menetap di kota Ashdod.
Masa mudanya disebut tidak mudah. Saat bersekolah di ORT Ashdod Nautical Officers School, ia mengalami perundungan dan kekerasan dari siswa lain hingga akhirnya menekuni olahraga tinju.
Gofman bergabung dengan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) pada 1995 melalui Korps Lapis Baja.
Ia mengawali karier sebagai prajurit batalion tank dan terlibat dalam operasi militer di Lebanon Selatan, Jalur Gaza, hingga Tepi Barat selama Intifada Kedua.
Kariernya terus menanjak. Ia pernah memimpin Brigade Etzion dan Brigade Lapis Baja ke-7, salah satu unit tempur utama Israel.
Dalam konferensi komando senior IDF pada 2018, Gofman dikenal sebagai perwira yang mendorong penggunaan lebih aktif pasukan darat dalam operasi militer.
Gofman semakin dikenal setelah serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023. Saat menerima laporan infiltrasi militan, ia langsung bergerak dari rumahnya di Ashdod menuju wilayah Sderot.
Di persimpangan Sha'ar HaNegev, ia bergabung dengan relawan polisi dan terlibat baku tembak melawan militan Hamas.
Dalam insiden itu, Gofman dilaporkan menewaskan dua militan namun mengalami luka serius di bagian lutut.