- Wali Kota Jakarta Timur mengundang kelompok gangster berdialog di kantornya untuk mencari solusi atas maraknya tawuran.
- Pemerintah membangun fasilitas ring tinju di Ciracas untuk menyalurkan energi negatif pemuda melalui kegiatan olahraga yang positif.
- Kebijakan dialog dan penyediaan fasilitas olahraga berhasil menurunkan jumlah kasus tawuran secara signifikan sejak tahun 2025.
Suara.com - Ratusan kejadian tawuran di Jakarta Timur mendorong Wali Kota Jakarta Timur, Munjirin, mengambil langkah tak biasa, yakni mengundang kelompok gangster berdialog langsung ke kantornya.
Pendekatan itu membuahkan hasil nyata, dengan angka tawuran di Jakarta Timur terpangkas hampir separuhnya dalam hitungan tahun.
"Data tawuran Jakarta Timur, untuk tahun 2025 itu sebanyak 132 kejadian. Kemudian data tawuran Jakarta Timur untuk 2026, sampai kondisi saat ini sebanyak 55 kejadian," ujar Munjirin saat meninjau ring tinju di kolong flyover Pasar Rebo, Ciracas, Jakarta Timur, Senin (18/5/2026).
Segalanya bermula ketika empat kelompok pemuda yang kerap terlibat tawuran bersedia hadir memenuhi undangan wali kota ke kantor dan membuka ruang dialog tahun lalu.
Pertemuan itu kemudian meluas, dengan sembilan kelompok pemuda dikumpulkan di Kafe Anora, Pondok Bambu, Jakarta Timur.
"Masing-masing kelompok itu membawa sekitar sepuluh atau lima belas anggota," kata Munjirin.

Dari pertemuan itulah sebuah kesepakatan lahir. Para pemuda meminta satu hal sederhana, yakni fasilitas olahraga.
"Akhirnya dari permintaan mereka itu, dibuatlah namanya ring tinju untuk latihan," ungkap Munjirin.
Selama ini, para pemuda dari berbagai kelompok, yang menyebut diri mereka Gangster Amerika, Bajak, Inggris, dan nama-nama lainnya, harus menempuh jarak jauh hanya untuk berlatih tinju.
"Latihannya kalau tidak ke Bulungan itu ke Menteng, Jakarta Pusat. Cukup jauh, tidak ada fasilitas di Jakarta Timur," jelas Munjirin.
Ring tinju kemudian dibangun di kolong flyover kawasan Susukan, Ciracas. Pengerjaan rampung dalam 16 hari, dari 12 hingga 28 Januari, dengan dana swadaya masyarakat dan dukungan sejumlah CSR.
Kini, fasilitas itu dikelola di bawah binaan Persatuan Tinju Amatir Indonesia dan beroperasi setiap Senin hingga Sabtu, pukul 16.00 hingga 22.00 WIB.
Hasilnya pun tak berhenti pada redanya tawuran. Dari lingkungan yang sama, lahir seorang juara.
"Di sini sudah lahir sang juaranya. Sudah dapat sabuk di GOR Pakansari, kemudian bulan Juni itu akan dipertandingkan lagi untuk mempertahankan sabuk," pungkas Munjirin dengan bangga.