-
Sembilan WNI relawan Flotilla Gaza menjalani pemeriksaan forensik komprehensif setelah tiba di Istanbul, Turkiye.
-
Para korban mengalami penyiksaan fisik berupa pemukulan hingga penyetruman selama ditahan oleh militer Israel.
-
Pemerintah Indonesia menjamin pemulangan segera dilakukan setelah seluruh prosedur medis dan hukum selesai.
Suara.com - Sembilan WNI relawan kemanusiaan asal Indonesia yang ditahan otoritas Israel kini harus melewati pemeriksaan medis dan hukum intensif di Istanbul, Turkiye. Langkah ini krusial untuk mendokumentasikan bukti kekerasan fisik yang mereka alami selama berada di dalam penjara Zionis Israel.
Pemeriksaan komprehensif ini melibatkan proses visum serta pengumpulan testimoni resmi oleh otoritas kedokteran forensik setempat. Pemerintah Indonesia memastikan hak-hak para korban terpenuhi sebelum mereka diterbangkan kembali menuju tanah air.
Tim kejaksaan Istanbul mengawal langsung investigasi ini guna melengkapi berkas penyelidikan internasional terkait insiden penyergapan kapal kemanusiaan tersebut. Pendataan rekam medis menjadi prioritas utama untuk memulihkan kondisi fisik dan psikologis seluruh peserta pelayaran.
![Massa dari Solidaritas Seni Untuk Palestina mengikuti aksi solidaritas bagi WNI dan Jurnalis yang diculik Israel di Jalan Asia Afrika, Bandung, Jawa Barat, Selasa (19/5/2026). [ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/YU]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/20/68711-aksi-solidaritas-bagi-wni-dan-jurnalis-yang-diculik-israel-global-sumud-flotilla.jpg)
“Akan ada proses testimoni, visum, dan tes kesehatan oleh pihak Turkiye,” ucap Duta Besar Indonesia untuk Turkiye, Achmad Rizal Purnama merespons pertanyaan terkait proses pemulangan para WNI, melalui pesan singkat yang diterima di Jakarta, Jumat.
Diplomat tertinggi Indonesia di Turkiye tersebut menegaskan bahwa koordinasi pemulangan terus berjalan tanpa hambatan birokrasi. Kehadiran negara dipastikan melekat sejak para relawan menginjakkan kaki di bandara udara Istanbul.
“Secepatnya akan kita pulangkan ke tanah air jika proses di Turkiye sudah selesai,” kata Dubes Rizal.

Laporan berkala mengenai kondisi terkini para aktivis kemanusiaan terus mengalir ke Jakarta melalui saluran komunikasi diplomatik resmi. Hambatan utama saat ini hanyalah penyelesaian regulasi domestik yang diwajibkan oleh pemerintah Turkiye.
Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI Heni Hamidah juga menyatakan bahwa sebelum penerbangan kembali ke tanah air, para WNI tersebut perlu menyelesaikan sejumlah prosedur terlebih dahulu di Istanbul.
"Yang pasti akan segera dipulangkan setelah prosesnya selesai," ujar Heni.
Prosedur ketat di Institut Kedokteran Forensik Istanbul sengaja ditempuh untuk mengumpulkan bukti valid mengenai pelanggaran hak asasi manusia. Kesaksian awal dari para penyintas menunjukkan adanya tindakan tidak manusiawi dari sipir dan tentara pendudukan.
Konjen Darianto mengatakan, mereka mengaku dipukuli, ditendang, dan disetrum saat ditahan.
Kekejaman fisik tersebut memicu kecaman luas dan memperkuat urgensi perlindungan bagi misi kemanusiaan internasional di masa depan. Saluran komunikasi darurat juga telah dibuka agar para korban bisa langsung terhubung dengan keluarga mereka di Indonesia.
Menteri Luar Negeri RI Sugiono memantau langsung perkembangan situasi ini melalui panggilan video interaktif dengan para korban. Pemerintah berkomitmen mengawal kasus ini dan memastikan pemulihan trauma berjalan optimal pasca-evakuasi.
Insiden memilukan ini bermula ketika para aktivis kemanusiaan dari berbagai negara tergabung dalam gerakan Global Sumud Flotilla 2.0. Misi pelayaran ini bertujuan menembus blokade ilegal dan menyalurkan bantuan logistik penting bagi warga Gaza.
Namun, kapal-kapal kemanusiaan tersebut justru disergap secara brutal oleh pasukan militer Israel di perairan internasional pada awal pekan. Seluruh kru dan relawan ditangkap secara paksa, sebelum akhirnya dideportasi menuju wilayah Turkiye setelah melalui tekanan diplomasi global.