- BPKP dan Kejaksaan Agung menindaklanjuti laporan Menteri Keuangan mengenai manipulasi harga ekspor oleh 10 perusahaan minyak sawit mentah.
- Menteri Keuangan melaporkan temuan manipulasi harga ekspor kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta pada Mei 2026.
- Praktik manipulasi harga ekspor menyebabkan negara mengalami kerugian pendapatan yang signifikan akibat perbedaan nilai harga barang ekspor.
Suara.com - BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) dan Kejaksaan Agung bergerak menindaklanjuti laporan tentang manipulasi harga ekspor oleh 10 perusahaan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).
Laporan tersebut sebelumnya dibawa Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ke Istana Kepresidenan Jakarta saat memenuhi undangan makan siang Presiden Prabowo Subianto, kemarin.
"Sudah, BPKP dan Kejagung sudah bergerak, saya masih nunggu laporan dari mereka, udah berapa bulan gitu. Jadi itu merupakan titik awal mereka masuk," kata Purbaya di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (22/5/2026).
Purbaya mengatakan akan berkoordinasi dan menanyakan perkembangan laporan tindak lanjut dari BPKP dan Kejagung, pekan depan.
"Tapi yang jelas clear sekali emang ada manipulasi harga, itu under-invoicing apa? kalau saya bilang sih penyelundupan lah kira-kira gitu, walaupun namanya keren under-invoicing dan lain-lain, tapi basically nipu.
Purbaya masih enggan mengungkapkan 10 prerusahaan sawit yang namanya masuk dalam daftar pelaku manipulasi harga ekspor.
Selain sektor CPO, Purbaya juga tengah membidik perusahaan pengekspor bata baru. Tetapi ia akan mendiskusikannya lebih dahulu dengan BPKP.
"Ini yang CPO aja. Yang batu bara juga ada penemuan menarik nanti juga kita akan diskusi sama BPKP sama Kejaksaan," kata Purbaya.
Bawa Laporan ke Prabowo
![Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (22/5/2026). [Suara.com/Novian]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/22/64027-menteri-keuangan-purbaya-yudhi-sadewa.jpg)
Sebelumnya Menkeu Purbaya merapat ke Istana Keprsidenan Jakarta. Purbaya mengaku kedatangannya atas undangan makan siang, walau begitu ia membawa banyak map.
Map-map tersebut berisikan berkas mengenai sejumlah daftar perusahaan minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) yang melakukan manipulasi harga ekspor.
Purbaya sengaja membawanya untuk berjaga-jaga semisal Presiden Prabowo Subianto bertanya dan meminta laporan.
"Ini jaga jaga aja kalau biar kalau ditanya bisa jawab. Ini ada beberapa catatan perusahaan CPO yang mana yang lakukan manipulasi harga. Jadi kalau ditanya saya akan jawab," kata Purbaya di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Bendahara negara ini bahkan berhenti sejenak meladeni pertanyaan awak media terkait kehadirannya di Istana. Ia menunjukkan lembaran berkas di map yang berisi sejumlah grafik.
"Jadi ini ada 10 perusahaan besar, 3 pengapalan, masing masing perusahaan saya random pilih. Mereka kelihatan sekali melakukan manipulasi harga, ekspor ke Amerika misalnya," kata Purbaya sembari melihat berkas yang ia tenteng.