- Rusia menembakkan rudal hipersonik Oreshnik ke Kyiv dalam serangan massal yang menewaskan empat orang.
- Pemimpin Uni Eropa, Prancis, dan Jerman mengecam keras penggunaan rudal berkemampuan nuklir tersebut.
- Putin mengklaim serangan itu adalah balasan atas hantaman drone Ukraina di asrama Starobilsk.
Suara.com - Rusia mengerahkan rudal hipersonik Oreshnik dalam salah satu gempuran terbesar di wilayah Kyiv Ukraina sejak awal perang. Serangan udara masif ini dilaporkan telah merenggut sedikitnya empat nyawa warga sipil.
Persenjataan mutakhir tersebut dikategorikan sebagai rudal jarak menengah oleh Amerika Serikat yang mampu membawa hulu ledak konvensional maupun nuklir. Kecepatan tinggi dan lintasan Oreshnik membuatnya hampir mustahil dicegat oleh sistem pertahanan udara yang dimiliki Ukraina saat ini.
Kehadiran proyektil ini memicu alarm bahaya global karena menjadi kali ketiga Rusia menggunakannya dalam konflik. Ketajaman teknologi pertahanan udara Kyiv kini diuji melampaui batas maksimumnya akibat hantaman senjata pemusnah tersebut.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengonfirmasi bahwa proyektil mematikan itu jatuh di dekat kota Bila Tserkva di Ukraina tengah. Merespons kebrutalan tersebut, Zelensky melayangkan kecaman keras terhadap tindakan Moskow.
"Mereka benar-benar kehilangan akal sehat. Sangat penting agar hal ini tidak dibiarkan begitu saja tanpa hukuman bagi Rusia," ujar Zelensky dikutip dari CNN, Senin (25/5/2026).
Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, menambahkan informasi bahwa rudal yang ditembakkan kali ini membawa hulu ledak tiruan. Meski demikian, Sybiha menyebut operasi militer subuh tersebut sebagai salah satu gempuran terbesar yang pernah menyasar ibu kota.

Langkah Moskow ini dinilai sebagai gertakan politik yang sangat berbahaya oleh Uni Eropa. Penggunaan teknologi yang dirancang untuk senjata pemusnah massal dianggap telah melanggar batas diplomasi waras.
Kepala Urusan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyatakan keprihatinan mendalam melalui sebuah unggahan di platform X.
"Moskow dilaporkan menggunakan rudal balistik jarak menengah Oreshnik – sistem yang dirancang untuk membawa hulu ledak nuklir – adalah taktik menakut-nakuti politik dan diplomasi tepi jurang nuklir yang sembrono," kata Kallas.
Presiden Prancis Emmanuel Macron turut mengutuk keras serangan malam tersebut melalui media sosial. Macron menilai manuver terbaru Moskow menunjukkan tanda-tanda perluasan konflik yang semakin agresif.
Menurut Macron, penggunaan Oreshnik menandakan sebuah "eskalasi" dalam "perang agresi Rusia."
Sikap serupa ditunjukkan oleh Jerman yang menegaskan komitmen mereka untuk terus mendukung kedaulatan Kyiv. Berlin melihat tindakan ini sebagai bentuk provokasi serius yang mengancam stabilitas kawasan Eropa.
Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan penggunaan Oreshnik oleh Rusia adalah "eskalasi yang sembrono", dan menegaskan kembali janji Jerman untuk "berdiri teguh di sisi Ukraina".
Berdasarkan data Angkatan Udara Ukraina, Rusia meluncurkan total 600 drone dan 90 rudal dalam satu malam. Dari jumlah masif tersebut, pertahanan udara Ukraina berhasil merontokkan 604 senjata penyerang.
Kendati demikian, gempuran beruntun ini tetap menyisakan kerusakan parah di pusat kota. Kyiv menjadi titik episentrum yang menerima dampak paling merusak dari operasi udara tersebut.
"Sayangnya, tidak semua rudal balistik berhasil ditembakkan jatuh. Kyiv menderita hantaman paling parah, dan Kyiv-lah yang menjadi target utama serangan Rusia ini," kata Zelensky.
Gempuran udara malam hari di ibu kota terjadi setelah Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan aksi balasan. Moskow mengeklaim serangan ini sebagai respons atas operasi mematikan Ukraina di wilayah yang diduduki Rusia.
Putin menuduh Ukraina melakukan tindakan "teroris" setelah drone Ukraina menghantam asrama perguruan tinggi di Starobilsk. Kota tersebut merupakan wilayah pendudukan Rusia di Luhansk timur yang diserang pada hari Jumat sebelumnya.
Kantor berita negara Rusia, TASS, melaporkan bahwa jumlah korban jiwa akibat insiden tersebut terus bertambah. Kementerian Situasi Darurat Rusia mengeklaim jumlah anak-anak yang tewas dalam serangan drone Ukraina telah meningkat menjadi 18 orang, dengan tiga orang diduga masih tertimbun runtuhan.
Kementerian Pertahanan Rusia menegaskan bahwa pengerahan rudal balistik Oreshnik merupakan respons langsung atas tindakan Kyiv. Mereka berkilah serangan itu dilakukan "sebagai tanggapan atas serangan teroris Ukraina terhadap target sipil di dalam wilayah Rusia."
Di sisi lain, militer Ukraina menolak mentah-mentah tuduhan yang dilayangkan oleh pihak Putin. Kyiv menegaskan kembali bahwa operasi militer mereka hanya menyasar infrastruktur dan fasilitas yang digunakan untuk tujuan perang.
Ukraina mengonfirmasi bahwa target yang mereka hantam pada Jumat pagi adalah markas unit elit teknologi Rusia. Fasilitas tersebut merupakan pusat pengembangan teknologi nirawak Moskow yang krusial.
Sasaran tersebut adalah "salah satu markas besar unit 'Rubicon' di area Starobilsk." Pusat Teknologi Drone Canggih Rubicon merupakan perintis teknologi drone dan penargetan Rusia sejak dibentuk pada tahun 2024.
Saat rudal Oreshnik berjatuhan, warga sipil Kyiv terpaksa melarikan diri mencari perlindungan di stasiun metro bawah tanah. Mereka terkurung berjam-jam dalam ketakutan mendalam akibat suara ledakan yang menggelegar di atas kepala.
Nataliia Zvarych, seorang finansis berusia 62 tahun, menggambarkan situasi malam itu sebagai sebuah kengerian yang nyata.
"Kami berjalan di bawah ledakan, kami melihat benda-benda terbang di atas sana. Itu sangat mengerikan, menakutkan, kami telah duduk di sini selama lebih dari tiga jam sekarang, mendengarkan ledakan di atas sana," tutur Zvarych kepada Reuters sembari mengutuk serangan tersebut sebagai hal yang "mengerikan."
Menyikapi trauma mendalam rakyatnya, Zelensky mendesak sekutu Barat untuk mengambil tindakan konkrit yang lebih tegas. Ia menilai sekadar kecaman tidak akan mampu menghentikan ambisi agresif pemimpin Rusia.
Zelensky menegaskan bahwa "keputusan diperlukan dari Amerika Serikat, dari Eropa, dan dari yang lain, sehingga si orang tua yang keras kepala di Moskow ini mengucapkan kata 'damai'."
Penggunaan rudal Oreshnik menandai babak baru yang berbahaya dalam perang Rusia-Ukraina yang telah berlangsung sejak 2022. Rudal balistik jarak menengah ini dirancang khusus untuk melewati sistem pertahanan udara modern berkat kecepatan hipersoniknya.
Pengerahan senjata berkemampuan nuklir ini dinilai komunitas internasional sebagai upaya Moskow meningkatkan tekanan psikologis terhadap Ukraina dan sekutu Barat-nya di tengah kebuntuan garis depan pertempuran.