Relokasi Akibat Krisis Iklim: Mengapa Memindahkan Warga Tidak Sesederhana Memindahkan Rumah?

Bimo Aria Fundrika | Suara.com

Senin, 25 Mei 2026 | 16:55 WIB
Relokasi Akibat Krisis Iklim: Mengapa Memindahkan Warga Tidak Sesederhana Memindahkan Rumah?
Potret Rumah di Bantaran Sungai (Pexels/Tom Fisk)

Suara.com - Relokasi masyarakat dari wilayah yang terdampak krisis iklim kerap dipandang sebagai solusi logis ketika suatu kawasan tak lagi aman untuk dihuni.

Namun, para peneliti dan pembuat kebijakan mengingatkan bahwa memindahkan warga bukan hanya soal menyediakan tempat tinggal baru, melainkan juga menyangkut pekerjaan, relasi sosial, hingga keterikatan emosional yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.

Isu tersebut mengemuka dalam peluncuran buku Climate Change, Labour and Migration in Indonesia yang digelar di Jakarta, Senin (19/5/2026). Dalam diskusi tersebut, sejumlah narasumber menyoroti kompleksitas relokasi sebagai salah satu bentuk adaptasi terhadap dampak perubahan iklim.

Relokasi Tak Sekadar Memindahkan Rumah

Kepala Sub Bidang Rencana Kerja Pemerintah Daerah Bidang Perencanaan Pembangunan Tahunan Bappeda DKI Jakarta, Andhika Ajie, mengatakan perpindahan penduduk tidak dapat dipahami hanya sebagai proses pemindahan fisik dari satu lokasi ke lokasi lain.

“Jadi untuk memindahkan penduduk itu enggak gampang, karena sudah sekian lama berada di sana. Namanya manusia ya kita punya keterikatan emosional dengan lokasi tempat tinggal mereka,” ujar Andhika.

Menurut dia, rumah bukan sekadar bangunan tempat tinggal. Di dalamnya terdapat kenangan, hubungan sosial, dan rasa memiliki yang dibangun selama bertahun-tahun. Karena itu, kebijakan relokasi sering kali menghadapi resistensi meskipun wilayah yang ditempati semakin rentan terhadap banjir, kenaikan muka laut, atau bencana iklim lainnya.

Ketika Mata Pencaharian Ikut Hilang

Selain ikatan emosional, tantangan terbesar dalam relokasi adalah hilangnya sumber penghidupan warga. Banyak pekerjaan bergantung pada lokasi dan jaringan pelanggan yang telah dibangun dalam waktu lama.

“Pekerjaan misalnya dulunya tambal ban. Begitu direlokasi, langganan kita taunya di sana,” kata Andhika.

Pandangan serupa disampaikan Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kedeputian Bidang Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon Kementerian Lingkungan Hidup, Franky Zamzani. Ia menilai pemerintah perlu memastikan keberlanjutan mata pencaharian masyarakat setelah relokasi dilakukan.

“Ketika masyarakat berpindah, negara harus memikirkan tidak hanya sekadar berpindah, tetapi juga livelihood. Misalnya nelayan ketika diberikan lahan di gunung, mereka harus menjadi petani. Apakah mereka akan dilatih?” ujar Franky.

Menurutnya, tanpa jaminan pekerjaan dan peningkatan keterampilan, relokasi berisiko menciptakan kelompok masyarakat baru yang rentan secara ekonomi.

Perempuan Menanggung Beban Adaptasi Lebih Besar

Persoalan relokasi juga tidak dirasakan secara merata. Perempuan dinilai menjadi kelompok yang menghadapi beban adaptasi lebih besar karena harus memastikan kebutuhan rumah tangga tetap berjalan di lingkungan yang baru.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Riset: 80 Persen Warga Pesisir Alami Penurunan Pendapatan Akibat Krisis Iklim

Riset: 80 Persen Warga Pesisir Alami Penurunan Pendapatan Akibat Krisis Iklim

News | Senin, 25 Mei 2026 | 13:30 WIB

Prabowo Dorong Energi dari Limbah Jagung dan Sawit, Pakar Ingatkan Keseimbangan Pangan

Prabowo Dorong Energi dari Limbah Jagung dan Sawit, Pakar Ingatkan Keseimbangan Pangan

News | Senin, 25 Mei 2026 | 12:55 WIB

Studi: Bahan Kimia Berbahaya dari Busa Pemadam Kebakaran Bertahan di Lingkungan hingga 33 Tahun

Studi: Bahan Kimia Berbahaya dari Busa Pemadam Kebakaran Bertahan di Lingkungan hingga 33 Tahun

News | Senin, 25 Mei 2026 | 12:10 WIB

Terkini

Jembatan dan Sekolah Masih Jadi PR, Muzakir Manaf Buka-bukaan Soal Kondisi Terkini Aceh Pascabencana

Jembatan dan Sekolah Masih Jadi PR, Muzakir Manaf Buka-bukaan Soal Kondisi Terkini Aceh Pascabencana

News | Senin, 25 Mei 2026 | 18:30 WIB

Tangis Penyesalan Noel di Sidang Korupsi K3: Saya Seharusnya Lebih Hati-hati

Tangis Penyesalan Noel di Sidang Korupsi K3: Saya Seharusnya Lebih Hati-hati

News | Senin, 25 Mei 2026 | 18:21 WIB

Perempuan Menjaga Pangan dan Alam, Mengapa Justru Paling Rentan terhadap Krisis Iklim?

Perempuan Menjaga Pangan dan Alam, Mengapa Justru Paling Rentan terhadap Krisis Iklim?

News | Senin, 25 Mei 2026 | 18:15 WIB

Angka Kecurangan Capai 99 Persen, Ada Apa dengan Fakultas Kedokteran di SNBT 2026?

Angka Kecurangan Capai 99 Persen, Ada Apa dengan Fakultas Kedokteran di SNBT 2026?

News | Senin, 25 Mei 2026 | 17:59 WIB

Ironi Awak Kapal Perikanan: Banting Tulang di Tengah Laut, Pulang Malah Nombok Utang ke Majikan

Ironi Awak Kapal Perikanan: Banting Tulang di Tengah Laut, Pulang Malah Nombok Utang ke Majikan

News | Senin, 25 Mei 2026 | 17:37 WIB

Biadab! Sambil Hujan-hujanan, Pria Mabuk di Tangsel Cabuli Bocah Saat Main Petak Umpet

Biadab! Sambil Hujan-hujanan, Pria Mabuk di Tangsel Cabuli Bocah Saat Main Petak Umpet

News | Senin, 25 Mei 2026 | 17:20 WIB

Vivace E Menjawab Kebutuhan Rumah Modern yang Estetik, Aman, dan Ramah Anak

Vivace E Menjawab Kebutuhan Rumah Modern yang Estetik, Aman, dan Ramah Anak

News | Senin, 25 Mei 2026 | 17:14 WIB

Asa Baru Pascabencana: Anggaran Rp100 Triliun Disetujui DPR untuk Pulihkan Sumatra!

Asa Baru Pascabencana: Anggaran Rp100 Triliun Disetujui DPR untuk Pulihkan Sumatra!

News | Senin, 25 Mei 2026 | 16:54 WIB

Bawa Mandat Prabowo Terkait RUU Polri, Menkum: UU Sudah Berlaku Dua Dekade, Perlu Disesuaikan

Bawa Mandat Prabowo Terkait RUU Polri, Menkum: UU Sudah Berlaku Dua Dekade, Perlu Disesuaikan

News | Senin, 25 Mei 2026 | 16:49 WIB

Miris! 6 Bulan Melaut Bertaruh Nyawa, Awak Kapal Perikanan Cuma Digaji Rp500 Ribu

Miris! 6 Bulan Melaut Bertaruh Nyawa, Awak Kapal Perikanan Cuma Digaji Rp500 Ribu

News | Senin, 25 Mei 2026 | 16:44 WIB