- Mantan Menteri Nadiem Makarim membantah tuduhan korupsi laptop Chromebook dalam sidang pleidoi di Pengadilan Tipikor Jakarta pada Selasa 2 Juni 2026.
- Nadiem menduga kasus tersebut merupakan tindakan kriminalisasi politik akibat dendam birokrat yang merasa terganggu oleh kebijakan reformasi digital pendidikannya.
- Digitalisasi sistem pendidikan yang ia bangun dinilai menutup celah penyalahgunaan anggaran sehingga memicu resistensi dari kelompok pro status quo.
Suara.com - Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim, menuding kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook yang menjerat dirinya bukan lahir dari niat jahat, melainkan dari dendam kalangan birokrasi yang merasa tersingkir akibat reformasi digital yang ia jalankan.
Hal tersebut disampaikan di hadapan Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta dalam sidang nota pembelaan atau pleidoi, Selasa (2/6/2026).
Nadiem menyebut langkah digitalisasi sistem pendidikan yang ia terapkan selama menjabat justru menutup celah permainan anggaran yang selama ini dinikmati sejumlah oknum di daerah.
Ia meyakini transparansi anggaran berbasis teknologi yang ia bangun kemudian berbalik menghantam integritasnya sebagai pejabat publik.
"Banyak yang periuk nasinya terganggu, banyak juga yang tersinggung karena merasa mereka tidak dihargai," ujarnya.
Nadiem juga menduga gesekan internal semakin membara ketika ia mendatangkan banyak profesional muda ke dalam kementerian, sebuah langkah yang ia akui memicu rasa tersisih di kalangan birokrat lama.
Ia menggambarkan persidangan ini sebagai arena pertarungan antara dua kutub yang saling berbenturan.
![Terdakwa kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook Nadiem Makarim (kiri) bersandar di bahu istrinya Franka Franklin Makarim (kanan) sebelum menjalani sidang tuntutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (13/5/2026). [ ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/nym/pri.]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/02/97559-nadiem-makarim.jpg)
"Kelompok yang ingin perubahan, bentrok dengan kelompok yang ingin menjaga status quo," tutur Nadiem.
Nadiem bahkan menuding ada motif kriminalisasi politik di balik dakwaan yang ia hadapi dengan menyebut perkara ini sebagai serangan terorganisasi terhadap semangat pembaruan yang ia perjuangkan.
"Masa lalu sedang menyerang masa depan," gambarnya singkat.
Di penghujung pleidoinya, Nadiem menitipkan pesan kepada generasi muda yang bercita-cita mengabdi kepada negara.
"Saran saya, untuk generasi berikutnya yang sedang mempertimbangkan untuk mengabdi kepada negara, temukanlah keseimbangan antara profesionalisme dan tata krama politik, karena gesekan kecil, bisa menjadi dendam besar," pungkasnya.