Mereka mengombinasikan metode statistik dengan data penginderaan jauh guna melihat perubahan kualitas udara sebelum dan sesudah kebijakan National Sword diterapkan.
Hasilnya menunjukkan bahwa aktivitas pembakaran sampah berkaitan dengan peningkatan konsentrasi partikel halus (fine particulate matter) sebesar 3,3 persen di sekitar lokasi pembuangan selama periode 2018–2019.
Temuan ini menunjukkan bahwa dampak perdagangan limbah plastik tidak hanya berhenti pada persoalan sampah, tetapi juga memengaruhi kualitas udara yang dihirup masyarakat.
Tantangan bagi Indonesia
Bagi Indonesia, hasil penelitian ini menjadi relevan karena negara ini termasuk salah satu tujuan impor limbah plastik setelah perubahan kebijakan di China.
Dalam beberapa tahun terakhir, kualitas udara di berbagai kota besar Indonesia juga menjadi sorotan. Data Air Quality Index (AQI) menunjukkan Indonesia masih menghadapi tingkat polusi udara yang cukup tinggi dibandingkan banyak negara lain.
Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa persoalan sampah plastik dan polusi udara sebenarnya saling berkaitan. Ketika kapasitas pengelolaan limbah tidak mampu mengimbangi volume sampah yang masuk, pembakaran terbuka sering menjadi jalan pintas yang berdampak langsung pada kesehatan masyarakat.
Karena itu, para peneliti mendorong negara-negara penerima limbah untuk memperketat pengawasan impor sampah plastik dan memperkuat sistem pengelolaan limbah domestik.
Temuan ini juga menjadi pengingat bahwa perdagangan sampah global bukan sekadar isu lingkungan. Dampaknya dapat meluas hingga kualitas udara, kesehatan masyarakat, dan beban sosial yang harus ditanggung negara-negara penerima limbah. Dengan kata lain, ketika sampah berpindah lintas negara, risiko kesehatannya sering kali ikut berpindah pula.
Penulis: Natasha Suhendra