- Pasukan Garda Revolusi Iran menyerang 18 pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah sebagai aksi balasan.
- Otoritas militer Iran secara resmi menutup Selat Hormuz bagi kapal tanker minyak dan seluruh kapal komersial internasional.
- Penutupan jalur distribusi energi global tersebut memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasar energi dan keamanan regional dunia.
Suara.com - Konflik antara Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) dan Militer Amerika Serikat kembali meningkat setelah Teheran mengklaim melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika di kawasan Timur Tengah.
Respons keras Iran ditandai dengan operasi gabungan yang disebut menargetkan 18 fasilitas militer Amerika Serikat di berbagai wilayah regional.
Ketegangan juga semakin meningkat setelah otoritas militer Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang selama ini menjadi salah satu urat nadi distribusi energi dunia.
Komandan IRGC Ancam AS
![Divisi elite IRGC Iran menggelar latihan anti-helikopter skala besar di Teheran untuk meningkatkan kesiapsiagaan tempur dan pertahanan wilayah. [Tasnim News]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/13/64921-irgc-iran.jpg)
Menyitat Tasnim News, kemarahan Teheran memuncak setelah serangan terbaru Amerika Serikat yang menurut Iran menyasar sejumlah wilayah di bagian selatan negara tersebut.
Komandan Dirgantara IRGC, Brigadir Jenderal Seyed Majid Mousavi, melontarkan peringatan keras melalui media sosial.
"Apakah Anda membuat Selat Hormuz yang suci menjadi tidak aman?! Kami akan mengubah kawasan ini menjadi neraka bagi Anda dari seluruh penjuru Iran."
"Ini adalah balasan atas kelancangan pihak Amerika di kawasan ini, insyaallah."
Pernyataan tersebut muncul hanya beberapa jam setelah Amerika Serikat melancarkan serangan yang disebut Iran sebagai tindakan agresi militer terbaru.
Iran Klaim Serang 18 Target Militer AS
Menurut laporan media pemerintah Iran, divisi dirgantara dan angkatan laut IRGC melancarkan operasi balasan terkoordinasi terhadap 18 target militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Serangan tersebut diklaim sebagai respons langsung atas aksi militer Washington dalam beberapa hari terakhir. Namun, sejumlah klaim terkait dampak serangan masih belum dapat diverifikasi secara independen.
Di saat yang sama, Iran juga mengumumkan penutupan penuh Selat Hormuz melalui Komando Pusat Khatam al-Anbiya. Jalur perairan strategis tersebut selama ini menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
IRGC Navy bahkan memperingatkan bahwa setiap kapal yang mendekati Selat Hormuz akan menghadapi tindakan tegas.
Selat Hormuz Ditutup
Dalam pernyataan terpisah, Angkatan Laut IRGC menegaskan seluruh kapal tanker minyak dan kapal komersial yang berada di Teluk Persia maupun Laut Oman diminta tetap berada di area jangkar masing-masing.
Iran menyatakan penutupan Selat Hormuz akan tetap berlaku hingga pemberitahuan lebih lanjut sebagai respons terhadap meningkatnya ketidakamanan di kawasan.
Langkah tersebut memicu kekhawatiran global karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia. Sejumlah analis memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan di kawasan itu berpotensi memengaruhi stabilitas pasar energi internasional.
Konflik terbaru ini terjadi di tengah meningkatnya eskalasi antara Washington dan Teheran yang dalam beberapa hari terakhir saling melancarkan serangan terhadap target militer masing-masing.