Jangan Salahkan Rakyat! Ekonom Sebut Tata Kelola Pemerintah Jadi Biang Kerok Daya Beli Lesu

Bangun Santoso, Hiskia Andika Weadcaksana

Jum'at, 19 Juni 2026 | 13:13 WIB
Jangan Salahkan Rakyat! Ekonom Sebut Tata Kelola Pemerintah Jadi Biang Kerok Daya Beli Lesu
Warga berbelanja kebutuhan pokok di salah satu swalayan di Jakarta, Rabu (16/7/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]
baca 10 detik
  • Pakar ekonomi UMY menilai tantangan utama ekonomi Indonesia adalah belum optimalnya tata kelola pemerintahan dalam mengelola sumber daya.
  • Imamudin Yuliadi optimistis ekonomi akan membaik dalam beberapa bulan ke depan seiring meredanya tensi geopolitik global saat ini.
  • Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah berdampak negatif bagi daerah yang ekonomi lokalnya masih bergantung pada belanja negara tersebut.

Suara.com - Persoalan utama ekonomi Indonesia saat ini dinilai bukan terletak pada masyarakat yang menahan belanja atau pelaku usaha yang kesulitan berkembang.

Tantangan terbesar justru berada pada tata kelola pemerintahan yang dinilai belum mampu mengoptimalkan berbagai program strategis dan sumber daya negara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.

Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Imamudin Yuliadi, mengatakan berbagai program pemerintah pada dasarnya memiliki tujuan yang baik.

Namun, pelaksanaannya di lapangan masih membutuhkan penguatan ekosistem, pengawasan, dan tata kelola agar manfaatnya benar-benar dapat dirasakan masyarakat.

"Kalau tata kelola sumber daya alam dan program-program strategis diperbaiki, ruang fiskal pemerintah akan jauh lebih longgar. Dampaknya bisa digunakan untuk pendidikan, kesehatan, pengembangan UMKM, hingga penciptaan lapangan kerja," kata Imamudin, Jumat (19/6/2026).

Dalam kondisi sekarang, ia mengaku masih optimistis terhadap kondisi ekonomi Indonesia dalam dua hingga tiga bulan mendatang.

Optimisme tersebut didasarkan pada mulai meredanya tensi geopolitik global yang berpotensi menurunkan harga minyak dunia serta menguatnya nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir.

Adapun fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih berlangsung. Nilai tukar rupiah pada Jumat pagi bergerak melemah 51 poin atau 0,29 persen menjadi Rp17.845 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.794 per dolar AS

"Saya masih optimistis. Rupiah mulai menguat, tensi politik global mulai membaik, dan pemerintah terlihat merespons berbagai masukan masyarakat untuk melakukan evaluasi program-program yang ada," tandasnya.

baca juga

Di tengah optimisme tersebut, ia menyoroti pemerintah daerah yang kini menghadapi tantangan akibat kebijakan efisiensi anggaran.

Imamudin menilai pemahaman mengenai efisiensi anggaran perlu dibedakan secara tegas antara upaya mengurangi kebocoran dan pengurangan belanja pemerintah.

Sebab, pengurangan anggaran secara langsung berpotensi mengurangi kekuatan ekonomi yang selama ini digerakkan negara.

"Kalau efisiensi diartikan sebagai pengurangan anggaran ke daerah, maka jelas kekuatan ekonomi yang didorong pemerintah akan berkurang. Namun, jika efisiensi dimaknai sebagai upaya mengurangi kebocoran anggaran, maka itu merupakan langkah yang sangat positif," tandasnya.

Disampaikan Imamudin, dampak efisiensi tidak dirasakan secara merata di setiap daerah. Wilayah yang sektor swastanya telah berkembang masih memiliki bantalan ekonomi.

Sedangkan daerah yang aktivitas ekonominya masih bergantung pada program pemerintah akan menerima tekanan yang lebih besar.

"Ketika anggaran pemerintah berkurang, program pembangunan juga berkurang. Daerah yang ekonominya masih bergantung pada pemerintah tentu akan lebih terdampak dibandingkan daerah yang sektor swastanya sudah berkembang," ungkapnya.

Selain berkurangnya belanja pemerintah, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) turut menambah tekanan terhadap masyarakat.

Kondisi tersebut mendorong masyarakat lebih selektif dalam membelanjakan pendapatan dan memprioritaskan kebutuhan yang benar-benar mendasar.

"Ketika biaya hidup meningkat, masyarakat akan lebih berhati-hati dalam membelanjakan pendapatannya. Pengeluaran akan difokuskan pada kebutuhan yang benar-benar penting," tuturnya.

Tekanan yang sama turut dirasakan pelaku UMKM.

Menurut Imamudin, sektor ini saat ini menghadapi persoalan dari dua sisi sekaligus, yakni meningkatnya biaya produksi dan distribusi akibat kenaikan BBM serta melemahnya permintaan karena daya beli masyarakat menurun.

Kondisi tersebut semakin berat bagi UMKM yang masih bergantung pada bahan baku impor.

"UMKM menghadapi tekanan dari sisi biaya produksi dan dari sisi daya beli masyarakat. Karena itu, pemerintah perlu memberikan perhatian khusus terhadap sektor-sektor yang menjadi kebutuhan dasar UMKM," tandasnya.

Di tengah berbagai tekanan tersebut, Imamudin masih melihat sektor jasa, khususnya pariwisata, memiliki peluang besar untuk menopang pertumbuhan ekonomi daerah.

Sektor ini dinilai memiliki efek berganda yang mampu menggerakkan berbagai aktivitas ekonomi lain, mulai dari kuliner, transportasi, penginapan, hingga usaha mikro dan kecil.

"Pariwisata dapat menjadi penyangga ekonomi daerah karena efek penggandanya sangat luas. Aktivitas wisata akan mendorong restoran, rumah makan, kerajinan, hingga pelaku UMKM," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Peringatan Keras The Economist untuk Indonesia: Saatnya Rem Kebijakan yang Terlalu Ekspansif?

Peringatan Keras The Economist untuk Indonesia: Saatnya Rem Kebijakan yang Terlalu Ekspansif?

Your Say | Jum'at, 19 Juni 2026 | 07:40 WIB

Purbaya Akui China Sempat Khawatir soal Kondisi Fiskal RI

Purbaya Akui China Sempat Khawatir soal Kondisi Fiskal RI

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 19:21 WIB

Jeffrey Hendrik Jadi Bos Baru BEI, Core Indonesia: Investor Lebih Peduli Kondisi Ekonomi RI!

Jeffrey Hendrik Jadi Bos Baru BEI, Core Indonesia: Investor Lebih Peduli Kondisi Ekonomi RI!

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 17:42 WIB

Pemerintah Diminta Perkuat Fiskal dan Transformasi Sektor Riil

Pemerintah Diminta Perkuat Fiskal dan Transformasi Sektor Riil

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 16:07 WIB

Jajaran Direksi Himbara Merapat ke Istana, Prabowo Gelar Rapat Tertutup Bahas Ekonomi

Jajaran Direksi Himbara Merapat ke Istana, Prabowo Gelar Rapat Tertutup Bahas Ekonomi

News | Kamis, 18 Juni 2026 | 15:39 WIB

Luhut Warning Prabowo: Ancaman Ekonomi Mengintai RI Setelah Juli 2026

Luhut Warning Prabowo: Ancaman Ekonomi Mengintai RI Setelah Juli 2026

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 14:48 WIB

DPRD DKI Dukung Sensus Ekonomi 2026, Data Akurat Kebijakan Pembangunan

DPRD DKI Dukung Sensus Ekonomi 2026, Data Akurat Kebijakan Pembangunan

News | Kamis, 18 Juni 2026 | 13:41 WIB

Terkini

Buku untuk Belajar Kok Masih Kena Pajak? Ini yang Perlu Dikritik

Buku untuk Belajar Kok Masih Kena Pajak? Ini yang Perlu Dikritik

Your Say | Senin, 02 November 2026 | 11:50 WIB

Banjir Lahar Hujan Semeru Over Skala Terjang Lumajang, Satu Dusun Terisolir Total

Banjir Lahar Hujan Semeru Over Skala Terjang Lumajang, Satu Dusun Terisolir Total

Jatim | Senin, 02 November 2026 | 11:47 WIB

Mengenal Sonor: Tradisi Mengelola Api di Sumatera Selatan di Tengah Ancaman Kebakaran Gambut

Mengenal Sonor: Tradisi Mengelola Api di Sumatera Selatan di Tengah Ancaman Kebakaran Gambut

News | Senin, 02 November 2026 | 11:39 WIB

Tiga Wilayah Bali Diterjang Longsor, Dua Orang Diduga Masih Tertimbun

Tiga Wilayah Bali Diterjang Longsor, Dua Orang Diduga Masih Tertimbun

Bali | Senin, 02 November 2026 | 11:39 WIB

Konser 20 Tahun for Revenge Jadi Momen Perpisahan, Chimot Resmi Undur Diri

Konser 20 Tahun for Revenge Jadi Momen Perpisahan, Chimot Resmi Undur Diri

Your Say | Senin, 02 November 2026 | 11:38 WIB

BPS Ungkap Inflasi Tahunan Oktober 2026 Capai 3,23%, Dipicu Harga Pangan hingga Transportasi

BPS Ungkap Inflasi Tahunan Oktober 2026 Capai 3,23%, Dipicu Harga Pangan hingga Transportasi

Bisnis | Senin, 02 November 2026 | 11:38 WIB

Pulihkan Ekosistem Pascakarhutla, UGM Dorong Restorasi Berbasis Sains

Pulihkan Ekosistem Pascakarhutla, UGM Dorong Restorasi Berbasis Sains

News | Senin, 02 November 2026 | 11:32 WIB

ANTM Akui Akan Ambil Alih Tambang Emas di Nabire Papua

ANTM Akui Akan Ambil Alih Tambang Emas di Nabire Papua

Bisnis | Senin, 02 November 2026 | 11:30 WIB

Sidang Kasus Pemerasan dan TPPU, Pengusaha Tan Kian hingga Ferry Boboho Bersaksi Lawan Eks Jampidsus

Sidang Kasus Pemerasan dan TPPU, Pengusaha Tan Kian hingga Ferry Boboho Bersaksi Lawan Eks Jampidsus

News | Senin, 02 November 2026 | 11:30 WIB

Ulasan Film Mawang: Jangan Sebut Namanya, Petaka Pelanggaran Pantangan Adat

Ulasan Film Mawang: Jangan Sebut Namanya, Petaka Pelanggaran Pantangan Adat

Your Say | Senin, 02 November 2026 | 11:30 WIB

×