- Rusia telah merampungkan produksi 20 unit pesawat tempur Sukhoi Su-35 pesanan Iran yang rencananya dikirim pada tahun 2026.
- Pembelian 48 unit pesawat tempur canggih tersebut menjadi langkah strategis Iran dalam memodernisasi armada udaranya yang telah usang.
- Kerja sama militer bilateral ini mencakup pengadaan jet tempur, helikopter serang, serta pesawat latih guna mendukung kesiapan operasional pilot.
Kapasitas Bahan Bakar: Sanggup menampung hingga 11,5 ton bahan bakar internal, memungkinkannya mengawal jet interdiktor jarak jauh seperti Su-24.
Sistem Avionik: Mengintegrasikan radar pasif bertahap (phased-array) berdaya jangkau luas serta sistem pelacak gelombang inframerah.
Persenjataan: Memiliki 12 titik cantelan pada sayap dan badan yang mampu mengangkut beban senjata seberat 8.000 kg.
Persenjataan meliputi rudal udara-ke-udara jarak pendek R-73E, jarak menengah R-77 dan R-27, serta berbagai rudal udara-ke-darat seperti Kh-29T, Kh-31P, Kh-59M, hingga rudal jelajah anti-kapal Kh-35U. Dilengkapi pula dengan sebuah meriam internal GSh-301 kaliber 30 mm berkekuatan 150 butir amunisi.
Dengan nilai per unit diperkirakan berada di angka USD 43 juta (sekitar Rp 640,7 miliar), Su-35 difokuskan sebagai pesawat superioritas udara murni, sedangkan fungsi serang daratnya diposisikan sebagai kapabilitas sekunder.
Saat ini, di samping mengembangkan varian latih Su-35UB dan model ekspor orisinal Su-35BM, varian utama Su-35S masih dioperasikan aktif oleh Angkatan Udara Rusia sejak 2014, termasuk menjadi tulang punggung operasi tempur Moskow dalam konflik di Ukraina.