- Pemerintah Iran menggelar prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei selama sepekan di berbagai kota penting sepanjang Februari lalu.
- Prosesi tersebut sarat simbol religius untuk memperkuat narasi persatuan, keteguhan rezim, serta seruan balas dendam terhadap musuh.
- Acara ini melibatkan delegasi Poros Perlawanan guna menegaskan posisi ideologi negara dan pengaruh geopolitik Iran di kawasan.
Namun, hingga kini belum jelas bagaimana Iran akan merealisasikan ancaman tersebut.
Rute pemakaman juga dipilih dengan cermat, melintasi Qom, Najaf, dan Karbala sebelum berakhir di Mashhad.
Kota-kota ini merupakan pusat spiritual utama dalam Islam Syiah, sekaligus fondasi ideologis Republik Islam Iran.
Kehadiran delegasi dari kelompok-kelompok yang tergabung dalam Poros Perlawanan seperti Hizbullah, Hamas, hingga Houthi turut memperkuat narasi tersebut.
Mereka disambut dalam seremoni resmi yang sarat simbol keagamaan dan politik.
Setiap delegasi bahkan dibacakan ayat Al-Qur’an tertentu sebelum memberikan penghormatan terakhir.
Pemilihan ayat ini dinilai bukan kebetulan, melainkan bagian dari pesan diplomatik yang disampaikan Iran kepada sekutu dan lawannya.
Dengan memadukan ritual keagamaan dan simbol politik, pemakaman Khamenei menjadi panggung besar bagi Iran.
Bukan hanya untuk mengenang seorang pemimpin, tetapi juga untuk menegaskan arah ideologi dan posisi geopolitik negara.