Suara.com - Banjir pesisir yang dahulu tergolong sebagai peristiwa langka kini semakin sering terjadi di berbagai belahan dunia.
Kenaikan frekuensi banjir ini tidak hanya meningkatkan risiko kerusakan infrastruktur dan kerugian ekonomi, tetapi juga mengancam kehidupan jutaan masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir.
Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa perubahan iklim akibat aktivitas manusia menjadi penyebab utama meningkatnya kejadian banjir pesisir.
Pemanasan global menyebabkan permukaan laut terus naik, sementara cuaca ekstrem seperti siklon tropis memperparah dampak banjir ketika terjadi pasang laut.
![Ilustrasi Banjir Rob yang Terjadi di Kawasan Pesisir Surabaya Jawa Timur. [Dok. BeritaJatim]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/01/16/94117-banjir-rob.jpg)
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Climate Change menemukan bahwa peluang banjir pesisir ekstrem kini meningkat hingga 12 kali lipat dibandingkan kondisi alami.
Jika sebelumnya peluang banjir besar hanya sekitar 1 persen dalam satu tahun, perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia telah meningkatkan risiko tersebut secara signifikan.
Kenaikan muka laut tidak lagi didominasi faktor alam
Temuan tersebut diperoleh melalui analisis data jangka panjang dari lebih dari 100 alat pengukur pasang surut di berbagai wilayah dunia. Peneliti menelusuri perubahan muka laut sepanjang periode 1900–2005 untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi peningkatan banjir pesisir.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada awal abad ke-20, kenaikan permukaan laut masih banyak dipengaruhi oleh variasi iklim alami dan perubahan kondisi geologi, seperti penurunan atau kenaikan permukaan tanah.
Namun sejak sekitar tahun 1960-an, kontribusi aktivitas manusia menjadi semakin dominan. Emisi gas rumah kaca dari pembakaran batu bara, minyak bumi, dan gas alam memicu pemanasan global yang mempercepat pencairan lapisan es serta pemuaian air laut, sehingga permukaan laut terus meningkat.
Lebih dari separuh banjir pesisir berkaitan dengan perubahan iklim
Kesimpulan serupa juga ditemukan dalam penelitian lain yang diterbitkan di jurnal Science Advances. Studi tersebut memperkirakan sekitar 58% hari dengan kejadian banjir pesisir besar selama periode 2000–2018 berkaitan dengan kenaikan muka laut akibat perubahan iklim.
Ben Strauss, ilmuwan dari Climate Central, menyatakan bahwa hampir setiap kejadian banjir pesisir saat ini telah dipengaruhi oleh perubahan iklim.
Artinya, meskipun badai atau pasang laut merupakan fenomena alam, perubahan iklim telah meningkatkan tinggi muka laut sehingga banjir menjadi lebih mudah terjadi dan dampaknya semakin besar.
Adaptasi dan pengurangan emisi perlu berjalan bersamaan
Meningkatnya risiko banjir pesisir mendorong para peneliti agar pemerintah dan perencana wilayah memperhitungkan ancaman tersebut dalam pembangunan kawasan pantai. Investasi untuk perlindungan pesisir, seperti tanggul, restorasi ekosistem mangrove, hingga penataan ruang, menjadi semakin penting untuk mengurangi risiko di masa depan.
Di sisi lain, para ilmuwan menekankan bahwa upaya adaptasi perlu dibarengi dengan pengurangan emisi gas rumah kaca. Transisi menuju energi rendah karbon, termasuk pemanfaatan energi surya dan angin, dinilai menjadi langkah penting untuk memperlambat laju pemanasan global sehingga kenaikan permukaan laut tidak semakin cepat.
Meski berbagai negara mulai meningkatkan penggunaan energi terbarukan, para peneliti mengingatkan bahwa dunia belum berada pada jalur yang sepenuhnya aman. Menurut peneliti Tulane University, Andra J. Dangendorf, dampak perubahan iklim memang tidak dapat sepenuhnya dihindari, tetapi masih dapat dibatasi melalui tindakan yang dilakukan sejak sekarang.
Temuan-temuan tersebut memperlihatkan bahwa banjir pesisir bukan lagi sekadar konsekuensi dari cuaca buruk, melainkan salah satu dampak nyata perubahan iklim yang dipengaruhi oleh aktivitas manusia. Semakin cepat emisi ditekan dan langkah adaptasi dilakukan, semakin besar peluang untuk mengurangi risiko banjir yang akan dihadapi masyarakat pesisir di masa mendatang.
Penulis: Chairunisa