-
Garda Revolusi Iran resmi menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Sheikh Isa, Bahrain.
-
Target utama serangan meliputi fasilitas helikopter, hanggar pesawat Poseidon, dan pusat kendali drone.
-
Sirene bahaya berbunyi di Bahrain dan warga diminta segera mencari tempat berlindung.
Suara.com - Garda Revolusi Iran (IRGC) baru saja meluncurkan serangan udara tak terduga yang menghantam pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain. Langkah agresif ini menandai babak baru ketegangan bersenjata yang kian membara di kawasan Teluk.
Serangan strategis tersebut sengaja diarahkan untuk melumpuhkan titik vital pertahanan udara dan logistik militer Washington. Pasukan elite Teheran membidik fasilitas pemeliharaan helikopter serta hanggar pesawat pengintai canggih P-8 Poseidon.
Tidak hanya itu, pusat kendali drone tempur utama milik Amerika Serikat di Pangkalan Udara Sheikh Isa juga menjadi sasaran utama. Operasi ini membuktikan peningkatan kapabilitas serangan presisi Iran yang langsung menusuk jantung pertahanan sekutu AS.
![Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran merilis video yang diklaim menunjukkan pasukan Garda Revolusi menyiata dua kapal kargo di Selat Hormuz. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/23/24911-pasukan-garda-revolusi-iran.jpg)
Pihak IRGC menegaskan bahwa gempuran masif ini merupakan aksi balasan langsung atas rangkaian serangan yang sebelumnya dilakukan oleh militer Amerika Serikat. Teheran memastikan konfrontasi bersenjata ini tidak akan berhenti dalam waktu dekat.
"Operasi pembalasan akan terus berlanjut," tegas perwakilan resmi IRGC dalam pernyataan tertulisnya.
Dampak dari ledakan tersebut memicu kepanikan luar biasa di wilayah kedaulatan Bahrain. Sirene tanda bahaya langsung meraung-raung di seluruh penjuru kota untuk memperingatkan warga.
Kementerian Dalam Negeri Bahrain bergerak cepat merespons situasi darurat ini dengan mengeluarkan instruksi evakuasi massal. Pemerintah setempat meminta penduduk segera mencari perlindungan di bunker dan lokasi aman demi menghindari korban jiwa.
Hingga saat ini, otoritas keamanan di lapangan belum merilis laporan resmi mengenai estimasi kerugian materiil maupun korban jiwa. Pihak Pentagon sendiri terpantau masih menahan informasi mengenai dampak kerusakan internal di area pangkalan.
Di sisi lain, media internasional terus berupaya mendapatkan klarifikasi resmi dari petinggi militer Washington di kawasan tersebut. Komando Pusat Amerika Serikat (US CENTCOM) masih memilih untuk bungkam dan belum memberikan komentar apa pun terkait pemboman ini.
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat di wilayah Timur Tengah memang terus mengalami eskalasi tajam dalam beberapa waktu terakhir. Pangkalan Udara Sheikh Isa di Bahrain selama ini menjadi simbol kekuatan dan kendali geopolitik militer Washington di Teluk Persia.
Serangan langsung IRGC ke fasilitas sensitif ini diprediksi akan mengubah peta konfrontasi kedua negara ke tingkat yang jauh lebih berbahaya. Jalur perdagangan internasional dan keamanan pasokan energi global kini berada dalam ancaman serius akibat pecahnya perang terbuka ini.