-
Iran meluncurkan serangan drone dan rudal ke pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain.
-
Amerika Serikat membalas dengan menggempur kota pelabuhan dan pulau-pulau strategis di Iran.
-
Blokade maritim resmi diberlakukan kembali hingga memicu lonjakan harga minyak dunia sembilan persen.
Suara.com - Ketegangan bersenjata di kawasan Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah gelombang serangan udara menghantam beberapa wilayah strategis. Situasi darurat ini memaksa pemerintah setempat mengaktifkan sistem peringatan dini guna mengevakuasi warga sipil secara massal.
Kementerian Dalam Negeri Bahrain segera mengeluarkan maklumat resmi melalui platform media sosial X tak lama setelah serangan bermula.
"Sirene telah dibunyikan .. Warga dan penduduk diimbau untuk tetap tenang dan menuju ke tempat aman terdekat," tegas Kementerian Dalam Negeri Bahrain.

Peringatan bahaya tersebut merupakan bunyi sirene kedua yang meraung-raung dalam kurun waktu 2 jam terakhir. Suasana mencekam dilaporkan melanda pusat kota seiring meningkatnya intensitas serangan di udara.
Pihak militer Teheran menyatakan bertanggung jawab penuh atas operasi ofensif berskala besar yang menggunakan kombinasi drone dan rudal balistik ini. Mereka mengklaim telah melumpuhkan infrastruktur vital milik koalisi barat di wilayah tersebut.
Korps Garda Revolusi Islam Iran mengumumkan bahwa serangan tersebut telah "menargetkan dan menghancurkan beberapa gudang pendukung senjata, pusat komunikasi satelit, dan bangunan yang menampung pasukan AS di pangkalan Juffair Bahrain".
Kendati demikian, klaim sepihak mengenai kehancuran total fasilitas militer tersebut kerap kali muncul tanpa disertai bukti otentik di lapangan. Pihak Pentagon sendiri belum memberikan rincian resmi terkait dampak kerusakan fisik di Pangkalan Juffair.
Komando Pusat Amerika Serikat langsung mengambil tindakan tegas dengan meluncurkan serangan balasan udara malam ketiga ke wilayah teritorial Iran. Ledakan dahsyat dilaporkan mengguncang kota pelabuhan Bandar Abbas serta beberapa pulau strategis di sekitarnya.
Media lokal setempat mengonfirmasi dentuman keras terdengar jelas di Pulau Kish, Qeshm, dan Abu Musa. Operasi militer ini menandai eskalasi pertempuran terbuka yang semakin meluas di koridor maritim.
Presiden Donald Trump juga telah mengirimkan notifikasi resmi kepada Kongres terkait dibukanya kembali opsi konfrontasi fisik tersebut. Gedung Putih menegaskan bahwa aksi militer terbatas kini resmi dilanjutkan di wilayah Iran.
Di sisi lain, Teheran membalas dengan menargetkan armada maritim milik sekutu regional Amerika Serikat di jalur perdagangan internasional. Dua kapal supertanker dilaporkan lumpuh total setelah terkena hantaman proyektil jarak jauh.
Otoritas Uni Emirat Arab membenarkan bahwa rudal Iran telah menghantam 2 kapal tanker mereka di perairan Oman. Insiden fatal yang terjadi di Selat Hormuz tersebut merenggut nyawa seorang awak kapal.
Merespons situasi keamanan laut yang memburuk, Komando Pusat Amerika Serikat langsung mengambil keputusan drastis untuk mengamankan jalur pasokan energi global. Blokade maritim penuh akan kembali diterapkan pada seluruh kapal yang keluar-masuk dari pelabuhan Iran.
Kebijakan pembatasan pelayaran yang ketat ini dijadwalkan mulai berlaku efektif pada Selasa sore waktu setempat. Langkah ini diambil untuk memutus rantai logistik militer musuh.
Pengumuman blokade ekonomi dan militer tersebut langsung memicu kepanikan luar biasa di lantai bursa komoditas internasional. Harga minyak mentah dunia seketika melonjak tajam hingga menembus angka di atas 9 persen.
Sementara itu, stabilitas keamanan di wilayah selatan Semenanjung Arab ikut memburuk dalam waktu yang hampir bersamaan. Hubungan gencatan senjata yang sempat berlangsung damai kini dipastikan telah berakhir sepenuhnya.
Pemerintah Arab Saudi dan milisi Houthi Yaman yang didukung Iran kembali terlibat aksi saling serang menggunakan senjata berat. Kondisi ini membuat konflik geopolitik di Timur Tengah semakin rumit dan sulit diprediksi.