-
Rentetan serangan rudal Iran di Selat Hormuz memicu ketakutan massal kru kapal tanker.
-
Volume lalu lintas kapal tanker minyak mentah dunia merosot ke titik terendah.
-
Bonus uang tidak lagi mampu membujuk pelaut melintasi jalur laut penuh ranjau.
"Jika ranjau meledak, biasanya itu terjadi di bawah kapal," katanya. "Ranjau adalah senjata yang sangat kuat, jadi sangat berbahaya bagi kapal untuk menabrak ladang ranjau."
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka bagi semua negara kecuali untuk akses keluar masuk bagi komoditas Iran. Namun klaim politik tersebut berbanding terbalik dengan data pelacakan kapal yang menunjukkan kelumpuhan total di lapangan.
"Ini terbuka jika orang ingin melewatinya," kata Trump kepada Fox News dalam sebuah wawancara.
"Kami tidak membukanya untuk Iran. Itulah satu-satunya yang ditutup. Ini ditutup untuk Iran, baik masuk maupun keluar, tetapi sekarang terbuka."
Faktanya, sebagian besar wilayah Selat Hormuz kembali tertutup dengan hanya menyisakan sedikit kapal yang berani menyeberang secara sembunyi-sembunyi tanpa mengaktifkan transponder mereka. Volume transit harian merosot tajam ke level terendah dalam tiga minggu terakhir dari rata-rata belasan kapal menjadi hanya delapan kapal per hari.
Penyusutan ini sangat kontras jika dibandingkan dengan situasi sebelum perang pecah pada 28 Februari lalu, di mana lebih dari 100 kapal melintasi selat ini setiap hari. Penurunan drastis ini mengancam pasokan energi global mengingat jalur ini biasanya menyalurkan sekitar 20 juta barel minyak mentah per hari.
Seorang pejabat senior pemerintahan Trump yang meminta anonimitas menyatakan bahwa kapal-kapal pembawa jutaan barel minyak tetap transit pada hari Kamis. Namun, risiko geopolitik terus meningkat setelah AS meluncurkan enam gelombang serangan udara balasan terhadap pangkalan militer Iran.
Teheran membalas dengan meluncurkan rudal ke sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk dan mengancam akan menutup rute alternatif di Laut Merah. Langkah eskalasi ini diprediksi akan memperburuk krisis logistik global dalam jangka waktu yang panjang.
"Sayangnya, sepertinya kita berada di jalur eskalasi dan situasinya mungkin akan memburuk seiring berjalannya waktu," kata Larsen kepada CNBC.
Ketidakpastian ini diperparah oleh perselisihan antara AS dan Iran mengenai interpretasi nota kesepahaman yang ditandatangani pada 17 Juni lalu. Kedua belah pihak saling klaim mengenai aturan jalur pelayaran yang aman bagi kapal komersial.
Perusahaan pelayaran kini menegaskan bahwa mereka membutuhkan jaminan keamanan yang konkret dan mengikat dari kedua negara sebelum kembali mengirim armada mereka. Jika diplomasi buntu, serangan militer AS terhadap baterai rudal dan kapal cepat Iran diprediksi akan terus berlanjut di wilayah tersebut.
Keputusan untuk mengarungi Selat Hormuz kini tidak lagi berada di tangan korporasi semata. Nyawa para pekerja di atas kapal menjadi penentu utama dari kelangsungan bisnis transportasi minyak internasional ini.
"Itu juga menuntut agar kru kapal benar-benar setuju," katanya.