-
Indonesia mengecam keras serangan kapal komersial di Laut Merah karena melanggar hukum internasional.
-
Kelompok Houthi menyerang dua kapal tanker Arab Saudi menggunakan rudal dan drone di Laut Merah.
-
Pemerintah Indonesia mendesak penghentian eskalasi dan mendorong penyelesaian konflik Yaman secara damai.
Suara.com - Aksi brutal terhadap kapal-kapal dagang tanker di perairan Laut Merah memicu gejolak ekonomi dunia dan mengancam jalur perdagangan global.
Pemerintah Indonesia langsung mengambil sikap tegas dengan mengecam keras aksi yang merusak ketenangan jalur pelayaran internasional tersebut.
Sikap ini menjadi sinyal kuat bahwa gangguan keamanan laut bukan lagi sekadar konflik lokal, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas dunia.

Indonesia meminta semua pihak yang berselisih untuk segera menurunkan tensi militer demi mencegah krisis kemanusiaan dan ekonomi yang lebih parah.
Pemerintah juga menyoroti pentingnya kepatuhan terhadap hukum laut internasional seperti Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) 1982.
Aturan global ini mengatur batas wilayah maritim, perlindungan lingkungan laut, hingga hak setiap negara dalam memanfaatkan lautan secara damai.
Serangan terhadap moda transportasi komersial dinilai telah menginjak-injak prinsip dasar keselamatan pelayaran internasional.
"Tindakan penyerangan tersebut melanggar hukum internasional, termasuk prinsip kebebasan bernavigasi, serta membahayakan keselamatan pelayaran, perdagangan internasional, dan stabilitas kawasan," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri RI melalui X, Jumat.
Di tengah memanasnya situasi maritim, Jakarta tetap konsisten mendorong jalan damai untuk menyelesaikan perselisihan internal Yaman.
Indonesia percaya bahwa masa depan politik Yaman harus ditentukan secara inklusif oleh rakyatnya sendiri tanpa intervensi asing.
Meski begitu, peran PBB tetap vital sebagai fasilitator resmi yang menjamin kedaulatan serta keutuhan wilayah Yaman.
Eskalasi di jalur laut vital ini kembali membara setelah kelompok Houthi Yaman mengklaim serangan terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi.
Pemberontak tersebut menuding dua armada komersial itu telah menerobos aturan blokade laut yang mereka tetapkan secara sepihak.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Sarea, mengonfirmasi peluncuran rudal balistik, rudal jelajah, serta drone menuju sasaran.
Dua kapal tanker yang dihantam rudal dan drone tersebut diidentifikasi sebagai ENCELIA dan LAYLA.
Sarea menuduh kedua kapal melanggar embargo militer Houthi terkait aktivitas pembongkaran muatan di pelabuhan Arab Saudi.
Insiden Ledakan dan Kebakaran Kapal
Laporan terpisah dari Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) memperkuat bukti terjadinya serangan mematikan tersebut.
UKMTO mendeteksi insiden berbahaya yang menimpa sebuah kapal tanker di posisi 70 mil laut barat daya Al Shuqaiq, Arab Saudi.
Nakhoda kapal mengabarkan hantaman proyektil misterius yang memicu kobaran api hebat di atas geladak.
Seluruh kru kapal dilaporkan berjuang keras memadamkan api di tengah ancaman serangan susulan.
Krisis Laut Merah ini merupakan buntut panjang dari perang saudara yang meremukkan Yaman sejak akhir 2014.
Kala itu, kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa dan menguasai sebagian besar wilayah utara Yaman.
Kondisi tersebut memicu koalisi militer pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi sejak 2015 untuk membela pemerintah resmi Yaman.