- Menteri Pendidikan India Dharmendra Pradhan mengundurkan diri akibat tekanan demonstrasi besar mahasiswa di New Delhi.
- Gerakan protes bermula dari meme kecoak di media sosial setelah komentar kontroversial Hakim Surya Kant.
- Gelombang demonstrasi yang didukung aktivis Sonam Wangchuk menuntut reformasi sistem pendidikan dan keadilan bagi mahasiswa.
Suara.com - Sebuah gerakan yang bermula dari meme di media sosial kini berubah menjadi gelombang protes besar di India.
Revolusi kecoak begitu disebutnya berujung pada mundurnya Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan setelah tekanan publik terus membesar.
Gerakan ini dipicu komentar kontroversial Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, yang menyebut istilah kecoak dalam sebuah sidang.
Tanpa diduga, istilah tersebut diadopsi mahasiswa sebagai simbol perlawanan.
Pendiri Cockroach Janata Party (CJP), Abhijeet Dipke seperti dinukil dari Aajtak.in, bahkan menyampaikan terima kasih atas komentar tersebut.
Dipke menilai pernyataan itu justru menjadi pemantik lahirnya gerakan besar.

Dari dunia maya, simbol kecoak dengan cepat viral.
Meme, kartun, hingga poster satir membanjiri media sosial dan menarik jutaan simpatisan, menjadikan CJP salah satu komunitas digital terbesar di India.
Gerakan ini kemudian meluas ke jalanan. Aksi besar pertama terjadi pada 6 Juni di Jantar Mantar, New Delhi, yang diikuti demonstrasi di berbagai kota lain.
Dalam waktu singkat, protes berkembang menjadi aksi duduk berhari-hari.
Mahasiswa bertahan meski aparat menyatakan aksi tersebut ilegal, bahkan sempat terjadi bentrokan dan penggunaan gas air mata.
Dukungan publik terus meluas setelah aktivis lingkungan Sonam Wangchuk bergabung dan melakukan aksi mogok makan.
Kehadirannya menarik perhatian nasional, termasuk dari kalangan akademisi, seniman, hingga masyarakat umum.
Tekanan semakin kuat setelah gambar penertiban aparat tersebar luas di media sosial.
Aksi solidaritas pun meluas ke berbagai kota seperti Mumbai, Kolkata, hingga dukungan dari diaspora India di luar negeri.
Menariknya, gerakan ini tidak dikendalikan satu tokoh atau organisasi.
Banyak peserta mengaku bergabung setelah melihat konten viral dan perkembangan situasi secara daring.
Bahasa gerakan pun unik—mengandalkan humor, meme, hingga aksi damai seperti memberi bunga kepada polisi.
Namun di balik itu, tuntutan mereka serius, reformasi sistem pendidikan dan keadilan bagi mahasiswa.
Pengunduran diri Dharmendra Pradhan menjadi kemenangan politik pertama gerakan ini.
Peristiwa tersebut menegaskan kekuatan baru, kampanye digital yang mampu menjelma menjadi gerakan massa dan mengguncang kekuasaan.