- Garda Revolusi Iran meluncurkan rudal balistik ke pangkalan militer AS di Yordania yang berhasil dicegat.
- Kelompok Houthi menembakkan rudal ke kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah sebagai respons atas dugaan blokade.
- Teheran menutup koridor pelayaran karena menuduh Amerika Serikat melanggar kesepakatan gencatan senjata dan mengawal kapal secara ilegal.
Suara.com - Komando Pusat AS (CENTCOM) menuduh Garda Revolusi Iran (IRGC) meluncurkan sejumlah rudal balistik ke arah pasukan AS di Timur Tengah.
“Seluruh rudal berhasil dicegat. Pasukan tetap siaga tinggi,” demikian pernyataan resmi militer AS.
Seorang pejabat AS yang dikutip Axios menyebut target serangan adalah pangkalan militer Amerika di Yordania.
Meski tidak menimbulkan korban, insiden ini mempertegas eskalasi ketegangan di kawasan tersebut.
Situasi kian rumit setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah menembakkan rudal ke kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah.
![Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Iran dan Amerika Serikat saling menuduh melanggar kesepakatan gencatan senjata. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/28/71017-rudal-iran.jpg)
Aksi ini disebut sebagai respons atas dugaan blokade terhadap Yaman, yang dibantah oleh Riyadh.
Dalam pernyataan resmi, militer Iran menuduh AS terus melakukan tindakan provokatif dan berupaya memberlakukan blokade laut ilegal.
Selama tiga hari terakhir, kapal-kapal Iran disebut mendapat ancaman langsung saat beroperasi di wilayah perairannya sendiri.
“Tindakan Amerika Serikat ini merupakan bentuk perluasan perang di kawasan,” demikian pernyataan tersebut dinukil dari Tasnim News
Iran juga menegaskan bahwa setiap ancaman tidak akan dibiarkan tanpa respons tegas.
Teheran menyatakan komitmennya untuk mempertahankan kedaulatan dan hak maritim dari campur tangan asing.
Militer Iran diklaim siap menghadapi segala bentuk agresi demi menjaga stabilitas kawasan.
Ketegangan ini muncul meski sebelumnya kedua negara sempat menandatangani nota kesepahaman untuk meredakan konflik.
Dalam kesepakatan itu, Iran membuka jalur pelayaran bebas biaya selama 60 hari di selat strategis.
Namun, Iran menuduh AS melanggar kesepakatan dengan mengawal kapal melalui jalur yang dianggap ilegal.
Akibatnya, Teheran memutuskan menutup koridor tersebut hingga intervensi dihentikan.