Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun

Bernadette Sariyem

Rabu, 29 Juli 2026 | 14:44 WIB
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Ilustrasi - Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim saat bertemu Presiden RI Prabowo Subianto dalam upacara pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ke-47 ASEAN di Kuala Lumpur Convention Centre (KLCC), Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (26/10/2025). [Antara]
baca 10 detik
  • Menteri Ekonomi Malaysia Akmal Nasrullah menyatakan posisi negaranya terpaut 7,1 persen dari ambang batas pendapatan tinggi Bank Dunia pada Rabu, 29 Juli 2026.
  • Capaian tersebut didorong ekspansi ekonomi 5,8 persen pada kuartal kedua 2026, dengan inflasi terkendali di angka 1,9 persen dan pengangguran 3,0 persen.
  • Pemerintah menghadapi tantangan struktural karena 35,6 persen pekerja berpendidikan tinggi masih terjebak dalam pekerjaan di bawah tingkat keahlian mereka.

Suara.com - Malaysia menunjukkan taji dalam peta ekonomi Asia Tenggara, dengan mencatatkan kemajuan signifikan menuju status negara berpendapatan tinggi. Bahkan, pemerintah negeri jiran itu menegaskan, Malaysia tinggal selangkah lagi untuk mendapatkan status 'negara maju' seperti Amerika Serikat dan China.

Menteri Ekonomi Malaysia, Akmal Nasrullah Mohd Nasir, mengungkapkan posisi negaranya saat ini hanya terpaut 7,1 persen di bawah ambang batas pendapatan tinggi yang ditetapkan oleh Bank Dunia.

Dikutip dari The Star.com, Rabu (29/7/2026), capaian tersebut didorong oleh ekspansi ekonomi yang kuat sebesar 5,8 persen pada kuartal kedua tahun ini.

Dalam peluncuran laporan OECD Economic Surveys: Malaysia 2026, Akmal Nasrullah menegaskan momentum pertumbuhan ini harus dirasakan langsung oleh masyarakat.

Pemerintah berkomitmen memastikan angka-angka makroekonomi ini, bertransformasi menjadi peningkatan produktivitas, penyediaan lapangan kerja berkualitas, dan kenaikan pendapatan bagi warga Malaysia.

"Ekonomi nasional mengalami pertumbuhan mencapai 5,8 persen. Di sisi lain, inflasi tetap terkendali pada angka 1,9 persen. Sementara pengangguran hanya 3,0 persen. Jadi Malaysia hanya tinggal 7,1 persen di bawah ambang batas pendapatan tinggi," kata Akmal Nasrullah.

Meskipun data menunjukkan tren positif, sang menteri mengingatkan bahwa mencapai status negara maju bukanlah sekadar mengejar angka statistik di atas kertas.

Kualitas hidup masyarakat tetap menjadi indikator utama keberhasilan pembangunan ekonomi nasional.

"Benar, angka-angka ini menggembirakan. Tapi, harus dicatat, melewati ambang batas dan menjadi negara maju bukanlah tujuan akhir. Yang paling penting adalah pertumbuhan itu bisa membuat upah buruh lebih baik, bisa membuka lapangan kerja berkualitas, serta daya beli rakyat Malaysia menjadi kuat," jelasnya. 

baca juga

Tantangan 'Underemployment' dan Rejuvenasi Pendidikan

Berdasarkan data tahun 2025, Pendapatan Nasional Bruto (GNI) per kapita Malaysia naik menjadi RM57.200 atau sekitar US 13.351, alias Rp 252 juta.

Angka ini semakin mendekati ambang batas pendapatan tinggi Bank Dunia yang berada di level USD 14.375.

Untuk tahun 2026, pemerintah optimistis mempertahankan target pertumbuhan setahun penuh antara empat hingga lima persen, yang didukung oleh permintaan domestik, investasi swasta, serta sektor teknologi intensif seperti semikonduktor dan pusat data.

Namun, laporan OECD juga menyoroti tantangan struktural yang krusial: sebanyak 35,6 persen pekerja berpendidikan tinggi di Malaysia masih terjebak dalam pekerjaan yang tidak sesuai dengan tingkat keahlian mereka (skill-related underemployment).

Masalah ini menjadi fokus utama dalam implementasi Rencana Malaysia Ke-13 (13MP) untuk periode 2026-2030.

Pemerintah berencana memperkuat penyelarasan kurikulum pendidikan dengan kebutuhan industri. Program pendidikan teknis dan vokasi (TVET), Academy in Industry (AiI), serta program peningkatan keterampilan (upskilling) di sektor kecerdasan buatan (AI) dan ekonomi digital akan diperluas secara masif.

"Ketika 35,6 persen pekerja berpendidikan tinggi tetap bekerja di pekerjaan di bawah tingkat keahlian mereka, kita tidak bisa mengukur kesuksesan hanya dari jumlah lulusan saja. Pendidikan dan pelatihan harus menghasilkan pekerjaan bernilai tinggi, produktivitas yang lebih kuat, dan upah yang mencerminkan keterampilan pekerja," tegas Akmal Nasrullah.

Reformasi Fiskal dan Efisiensi Birokrasi

Selain fokus pada sumber daya manusia, Malaysia juga menunjukkan kedisiplinan dalam pengelolaan keuangan negara.

Defisit fiskal federal berhasil ditekan dari 5,5 persen terhadap PDB pada tahun 2022 menjadi 3,7 persen pada tahun 2025.

Target jangka panjang pemerintah adalah, menurunkan defisit hingga di bawah 3 persen pada tahun 2030 melalui bantuan yang lebih tepat sasaran dan pengurangan kebocoran anggaran.

"Kami telah mengurangi defisit dari 5,5 persen menjadi 3,7 persen dan menargetkan 3 persen atau lebih rendah pada tahun 2030. Konsolidasi fiskal bukan tentang menarik dukungan dari rakyat; ini tentang memastikan setiap ringgit digunakan lebih efektif untuk pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur," jelas sang menteri.

Untuk mendorong kemudahan berbisnis, pemerintah memperkenalkan Government Service Efficiency Commitment Act 2025 atau Akta Iltizam.

Undang-undang ini menargetkan pengurangan beban regulasi yang tidak perlu sebesar 25 persen dalam waktu tiga tahun.

Melalui Gugus Tugas Khusus Pemudah, Kementerian Ekonomi akan meninjau proses persetujuan bisnis berdampak tinggi agar lebih transparan, prediktif, dan akuntabel.

Laporan OECD 2026 ini diharapkan menjadi referensi penting bagi Malaysia dalam mempercepat reformasi struktural, terutama di bidang digitalisasi dan ketahanan iklim, demi memastikan transisi menuju negara maju berjalan inklusif dan berkelanjutan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Hasil Drawing FIFA ASEAN Cup 2026: Timnas Indonesia Hadapi Malaysia!

Hasil Drawing FIFA ASEAN Cup 2026: Timnas Indonesia Hadapi Malaysia!

Bola | Rabu, 29 Juli 2026 | 14:01 WIB

Intip Kemajuan Pendidikan Malaysia: Siswa Difokuskan Kuliah hingga Dapat Bantuan Uang Tunai

Intip Kemajuan Pendidikan Malaysia: Siswa Difokuskan Kuliah hingga Dapat Bantuan Uang Tunai

News | Selasa, 28 Juli 2026 | 10:04 WIB

Anwar Ibrahim Tak Peduli Amerika Murka Malaysia Tolak Warga Israel: Mereka Telibat Pembunuhan

Anwar Ibrahim Tak Peduli Amerika Murka Malaysia Tolak Warga Israel: Mereka Telibat Pembunuhan

News | Kamis, 23 Juli 2026 | 16:41 WIB

DPR Sahkan UU Kerja Sama Pertahanan, Bidik Alih Teknologi dan Penguatan SDM Militer

DPR Sahkan UU Kerja Sama Pertahanan, Bidik Alih Teknologi dan Penguatan SDM Militer

News | Selasa, 21 Juli 2026 | 15:06 WIB

Mengintip Kehidupan Dua Negara dari Wisata Patok Perbatasan Sebatik

Mengintip Kehidupan Dua Negara dari Wisata Patok Perbatasan Sebatik

Foto | Senin, 20 Juli 2026 | 07:03 WIB

Penantian 18 Tahun Terbayar, 5 Ribu Penggemar 'Karaoke Massal' di Konser Peterpan Malaysia

Penantian 18 Tahun Terbayar, 5 Ribu Penggemar 'Karaoke Massal' di Konser Peterpan Malaysia

Entertainment | Jum'at, 17 Juli 2026 | 21:11 WIB

John Herdman Ingin Timnas Indonesia Hadapi Malaysia di AFF 2026, Kenapa?

John Herdman Ingin Timnas Indonesia Hadapi Malaysia di AFF 2026, Kenapa?

Your Say | Sabtu, 11 Juli 2026 | 10:50 WIB

Terkini

Kemenkes: Gula Darah Anak SD Sudah Tinggi, Risiko Jantung hingga Stroke Mengintai di Usia 40 Tahun

Kemenkes: Gula Darah Anak SD Sudah Tinggi, Risiko Jantung hingga Stroke Mengintai di Usia 40 Tahun

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 14:45 WIB

4 Milky Toner Squalane Tingkatkan Hidrasi Kulit untuk Perkuat Skin Barrier

4 Milky Toner Squalane Tingkatkan Hidrasi Kulit untuk Perkuat Skin Barrier

Your Say | Rabu, 29 Juli 2026 | 14:45 WIB

The Remarried Empress Rilis Poster Perdana, Tayang Musim Gugur Tahun Ini

The Remarried Empress Rilis Poster Perdana, Tayang Musim Gugur Tahun Ini

Your Say | Rabu, 29 Juli 2026 | 14:45 WIB

Meluncur di GIIAS 2026 Kia Seltos Terbaru Bawa Fitur Canggih dan Harga Menarik

Meluncur di GIIAS 2026 Kia Seltos Terbaru Bawa Fitur Canggih dan Harga Menarik

Otomotif | Rabu, 29 Juli 2026 | 14:44 WIB

Berawal dari MRT, Jakarta Targetkan Satu Sistem Bayar untuk Semua Transportasi

Berawal dari MRT, Jakarta Targetkan Satu Sistem Bayar untuk Semua Transportasi

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 14:44 WIB

Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun

Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 14:44 WIB

Kick Off Gerakan Seniman Masuk Sekolah 2026 Dimulai di Danau Toba

Kick Off Gerakan Seniman Masuk Sekolah 2026 Dimulai di Danau Toba

Sumut | Rabu, 29 Juli 2026 | 14:41 WIB

Perintah Prabowo: Orang Tua Siswa Kaya Raya Boleh Tolak MBG

Perintah Prabowo: Orang Tua Siswa Kaya Raya Boleh Tolak MBG

Bisnis | Rabu, 29 Juli 2026 | 14:39 WIB

Iran Borong 400 Rudal Manpads China Seharga Rp 1,2 Triliun

Iran Borong 400 Rudal Manpads China Seharga Rp 1,2 Triliun

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 14:39 WIB

Harimau di Indragiri Hilir Bikin Resah, BBKSDA Riau Pantau dengan Drone

Harimau di Indragiri Hilir Bikin Resah, BBKSDA Riau Pantau dengan Drone

Riau | Rabu, 29 Juli 2026 | 14:37 WIB

×