- Kementerian Pekerjaan Umum mengaudit 80 pondok pesantren dan menemukan 97,5 persen bangunan belum memenuhi standar air minum serta pengelolaan limbah.
- Menko PM Abdul Muhaimin Iskandar meluncurkan program pembangunan 10.000 fasilitas MCK guna mengatasi buruknya sanitasi di pesantren seluruh Indonesia.
- Program revitalisasi di Pesantren Miftahul Huda, Cianjur, Jawa Barat, pada Selasa (4/8/2026) bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang sehat.
Suara.com - Audit pemerintah mengungkap kondisi sanitasi di pondok pesantren masih memprihatinkan. Sebanyak 97,5 persen bangunan pesantren yang diperiksa belum memenuhi standar penyediaan air minum dan pengelolaan air limbah domestik.
Temuan itu menjadi dasar pemerintah meluncurkan program pembangunan 10.000 fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) di pondok pesantren di seluruh Indonesia. Program tersebut diluncurkan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin.
Data tersebut berasal dari audit Kementerian Pekerjaan Umum terhadap 80 pondok pesantren di sembilan provinsi dan 54 kabupaten/kota. Dari total 2.093 bangunan, sebanyak 1.634 bangunan telah diperiksa dengan fokus pada kondisi bangunan, penyediaan air minum, dan sistem sanitasi.
Hasil audit menunjukkan hampir seluruh bangunan masih menghadapi persoalan akses air minum yang layak.
Di sisi lain, belum ada satu pun bangunan yang memenuhi standar pengelolaan air limbah domestik.
Pemerintah juga menemukan fasilitas MCK di banyak pesantren belum memadai, baik dari sisi jumlah maupun kondisi fisiknya. Sistem sanitasi, termasuk tangki septik, juga masih banyak yang belum memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).
Berdasarkan hasil audit tersebut, pemerintah mengidentifikasi tiga persoalan utama, yakni rendahnya kualitas sanitasi, terbatasnya jumlah MCK dibandingkan jumlah santri, serta lemahnya pemeliharaan sarana sanitasi.
Kondisi itu dinilai berpotensi mengganggu kesehatan santri sekaligus menghambat terciptanya lingkungan belajar yang sehat.
Menko PM Cak Imin mengatakan pembangunan sanitasi menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di lingkungan pesantren.
"Santri tidak cukup hanya memperoleh pendidikan yang baik, tetapi juga harus hidup di lingkungan yang sehat, bersih, dan bermartabat. Sanitasi yang layak adalah fondasi bagi lahirnya generasi yang sehat, produktif, dan siap berkontribusi bagi bangsa," ujar Cak Imin saat mengunjungi Pesantren Miftahul Huda di Cianjur, Jawa Barat, Selasa (4/8/2026).
Menurutnya, persoalan sanitasi tidak semata berkaitan dengan infrastruktur, tetapi juga menentukan kualitas sumber daya manusia yang dibentuk di pesantren.
"Ketika santri sehat, proses belajar berjalan baik, produktivitas meningkat, dan pesantren akan semakin optimal menjalankan perannya sebagai pusat pemberdayaan masyarakat," katanya.
Pesantren Miftahul Huda Al Musri menjadi salah satu dari 11 pesantren prioritas dalam Program Revitalisasi Pesantren. Penetapan tersebut merupakan hasil penyaringan bertahap dari audit terhadap 100 pesantren hingga akhirnya ditetapkan 11 lokasi prioritas.
Melalui program pembangunan 10.000 MCK, pemerintah berharap kualitas sanitasi di pesantren meningkat, termasuk penerapan sistem pengelolaan air limbah sesuai standar serta penguatan kapasitas pengelola pesantren dalam merawat fasilitas sanitasi secara berkelanjutan.