- Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membuka IIGCE 2026 di Jakarta pada Senin, 24 Agustus 2026.
- Pemerintah menyederhanakan perizinan dan memberikan insentif untuk mempercepat pemanfaatan energi panas bumi nasional.
- Pengembangan panas bumi ditargetkan mendukung pencapaian bauran energi nasional minimal 15 persen pada 2050.
Sementara itu, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan perjalanan panas bumi selama satu abad menunjukkan sumber energi tersebut memiliki tingkat keandalan yang panjang.
Ia mencontohkan sumur panas bumi Kamojang yang mulai dikembangkan sejak 1926 dan hingga kini masih menghasilkan uap.
“Peringatan satu abad panas bumi mengingatkan kita pada ketahanan sumur Kamojang sejak 1926 yang uapnya tetap stabil menyala hingga kini. Panas bumi adalah jangkar transisi energi kita,” ujar Eniya.
Saat ini, kontribusi panas bumi terhadap bauran energi nasional disebut berada di angka 2,2 persen. Pemerintah menargetkan kapasitas terpasang panas bumi dapat mencapai 5,2 GW untuk memperkuat kontribusi energi hijau.
Selain menghasilkan energi, pengembangan panas bumi juga memberikan kontribusi terhadap penerimaan negara. Eniya menyebut realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor tersebut telah mencapai Rp2,45 triliun dan ditargetkan meningkat menjadi Rp2,6 triliun.
Dengan potensi yang besar dan pengalaman pengembangan selama satu abad, pemerintah berharap panas bumi dapat semakin berperan dalam memenuhi kebutuhan energi Indonesia sekaligus mendukung transisi menuju sumber energi yang lebih bersih.
IIGCE 2026 sendiri menjadi bagian dari momentum untuk memperkuat perhatian terhadap pengembangan panas bumi di Indonesia, seiring dengan kebutuhan energi nasional yang terus meningkat.