-
Blokade Israel memicu krisis sanitasi parah dan melambungkan harga kloset bekas di Gaza.
-
Pengungsi terpaksa merakit toilet sendiri dari kursi plastik karena keterbatasan alat sanitasi.
-
Penumpukan limbah kotoran di sekitar tenda pengungsian memicu peningkatkan kasus penyakit kulit dan pencernaan.
Omar menekankan bahwa penggunaan puing-puing bangunan runtuh tetap tidak bisa menjadi solusi murah bagi masyarakat. Kloset pada akhirnya menjelma menjadi komoditas monopoli yang sangat sulit terjangkau.
Bagaimana Dampak Buruk Buruknya Sanitasi Terhadap Kesehatan Pengungsi?
Satu fasilitas toilet umum terpaksa digunakan bergantian oleh 20 hingga 25 orang tanpa pembatas gender yang memadai. Kondisi ini merusak privasi serta mengikis martabat kemanusiaan para pengungsi.
“Biasanya tidak ada fasilitas terpisah untuk pria dan wanita… [menjadikan akses toilet di Gaza] sebuah kebutuhan harian yang berkaitan dengan kesehatan, privasi, dan martabat,” jelas Omar.
Omar menambahkan bahwa ketersediaan sarana penunjang kebersihan dasar sudah menjadi barang mewah yang langka. Sabun pembersih tangan dan kertas toilet kini sangat sulit didapatkan pengungsi.
Air bersih di beberapa wilayah pengungsian Gaza hanya mengalir satu kali dalam seminggu. Karena tidak adanya jaringan pembuangan limbah terpadu, warga terpaksa menggali lubang penampungan kotoran persis di sebelah fasilitas sanitasi umum.
Hossam Al-Huwaity, juru bicara Kamar Dagang setempat, menyatakan pihaknya terus mendorong pedagang mengajukan izin impor resmi. Berbagai lembaga kemanusiaan internasional seperti UNICEF, WFP, OCHA, hingga EU telah dihubungi untuk memohon bantuan penanganan krisis.
“Sebagian besar permintaan komersial dan imbauan tetap tertahan karena pembatasan dan penundaan yang tidak beralasan di titik penyeberangan,” tegas Al-Huwaity.
Penilaian tim OCHA menunjukkan bahwa hanya separuh dari total populasi Gaza yang memiliki akses sanitasi dasar. Sekitar 60 persen warga terpapar limbah kotoran manusia dalam radius kurang dari 10 meter dari tempat tinggal mereka.
Dr. Ahmed Al-Jedi, dokter unit gawat darurat di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Deir al-Balah, mengonfirmasi lonjakan pasien berulang akibat saniter buruk. Mayoritas pasien yang datang merupakan kelompok rentan seperti anak-anak, wanita, dan lansia.
“Banyak dari kasus ini terkait dengan kondisi hidup yang sulit di dalam tenda, di mana tidak ada cukup fasilitas untuk mandi dan kebersihan pribadi, dan beberapa keluarga mungkin hanya bisa mandi seminggu sekali,” kata Dr. Al-Jedi.
Ia memaparkan bahwa lingkungan yang kotor menjadi tempat bermain harian bagi anak-anak di tengah cuaca panas.
“Anak-anak menghabiskan waktu berjam-jam di luar tenda karena cuaca panas, bermain di pasir, sementara ruang terbatas yang sama digunakan untuk makan, minum, dan tidur, dan dalam beberapa kasus toilet terletak sangat dekat dengan area tempat tinggal,” jelasnya.
Sejak pecahnya perang di Gaza pada Oktober 2023, serangan militer dan penutupan jalur perbatasan oleh Israel telah menghancurkan sebagian besar infrastruktur sipil, termasuk saluran pembuangan air dan fasilitas kesehatan publik. Kondisi ini memaksa lebih dari sembilan puluh persen warga Gaza mengungsi ke tempat penampungan sementara dengan fasilitas bertahan hidup yang sangat terbatas. Pembatasan ketat terhadap barang-barang komersial yang masuk melalui titik penyeberangan terus memperparah krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.