- Walhi Kalteng mencatat puluhan ribu titik panas muncul di wilayah Kalimantan Tengah sepanjang Juni hingga Agustus 2026.
- Dampak kebakaran hutan dan lahan tersebut menyebabkan Kota Palangka Raya kini diselimuti oleh kepulan asap tebal.
- Walhi Kalteng menyatakan kerusakan ekosistem gambut akibat korporasi dan food estate memicu kerawanan kebakaran di enam wilayah.
Suara.com - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Tengah mencatat puluhan ribu titik panas (hotspot) muncul di wilayah Kalteng sepanjang Juni hingga Agustus 2026.
Direktur Eksekutif Walhi Kalteng Firman Palanungkai menyebut pihaknya mendokumentasikan sekitar 32.796 titik hotspot selama periode tersebut. Menurut dia, lonjakan titik panas mulai terlihat memasuki Juli dan semakin tinggi pada Agustus.
"Berdasarkan identifikasi kami, catatan kami juga bahwa di Kalteng itu sejak Juni sampai Agustus, Kalteng itu sekitar 32.796 titik hot spot yang kami dokumentasikan," kata Firman dalam konferensi pers, Selasa (25/8/2026).
Firman mengatakan kondisi pada Juni relatif belum mengkhawatirkan karena hujan masih turun. Namun, situasi berubah ketika memasuki Juli hingga Agustus.
Menurut Firman, lonjakan titik panas bahkan terjadi dalam waktu singkat di sejumlah wilayah.
Firman mengatakan dampak karhutla kini mulai terasa langsung di ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah, Palangka Raya. Dia menyebut kondisi kota tersebut saat ini sudah diselimuti asap akibat kebakaran yang terjadi di sejumlah wilayah.
"Dan hari ini kondisinya Kota Palangkaraya sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah itu berasap dan terkepung kebakaran gitu," ujar Firman.
Walhi Kalteng kemudian memetakan sedikitnya enam wilayah yang saat ini menjadi kawasan dengan kerawanan kebakaran cukup tinggi.
![Petugas berupaya memadamkan kebakaran lahan di dekat kawasan permukiman Tegal Sari, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Jumat, (7/8/2026). [ANTARA FOTO/Auliya Rahman/hma]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/08/24221-kebakaran-lahan-mendekati-permukiman-warga-di-palangka-raya.jpg)
Enam wilayah tersebut yakni Kabupaten Kotawaringin Timur, Kabupaten Kapuas, Kota Palangka Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Katingan, dan Kabupaten Seruyan.
Menurut Firman, persoalan karhutla di enam wilayah tersebut tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekosistem gambut yang telah mengalami kerusakan.
"Dari enam wilayah ini sebenarnya secara situasi geografis sebenarnya ini rata-rata banyak di area lahan gambut," lanjutnya.
Dia mengatakan kerusakan gambut menjadi salah satu faktor yang membuat kawasan tersebut rentan terbakar ketika memasuki musim kemarau.
Firman menuding aktivitas korporasi turut berkontribusi terhadap kerusakan kawasan gambut, baik yang berstatus gambut lindung maupun gambut budidaya.
Tak berhenti pada aktivitas korporasi secara umum, Firman secara khusus menyoroti Kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau yang menjadi bagian dari pengembangan PSN food estate.
Menurut dia, keberadaan proyek tersebut berpotensi mempercepat kerusakan ekosistem gambut di Kalteng.
"Ditambah lagi kalau misalkan kayak Kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau itu ditambah dengan adanya skema PSN food estate. Nah itu menambah laju kerusakan gambut yang ada di Kalimantan Tengah," pungkas Firman